Rais Aam PBNU Paparkan Landasan Islam Nusantara

Jakarta, NU Online
Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin memaparkan Islam Nusantara atau Ahlussunah wal Jamaah An-Nadliyah di Forum Tashwirul Afkar, berlangsung di Perpustakaan PBNU, Jakarta, Jumat sore (18/9). Ia menyampaikan hal itu mulai dari cara berpikir, gerakan, muamalah, dan amaliyahnya.

Menurut dia, berdasarkan cara berpikir, Islam Nusantara tidak tekstualis, tidak liberalis, dan tidak radikalis. Ia mengambil contoh yang radikalis itu tidak proporsioanal. Contohnya istilahh jihad. Jihad bagi mereka dimaknai perang, padahal dalam kata jihad, mengandung makna islah (perbaikan).

“Mereka itu memperhatikan ayat-ayat keras. Ayat damai itu tidak. Mereka tidak proporsional kapan menggunakan ayat lunak dan kapan menggunakan ayat keras,” ungkapnya.

Cara berpikir mereka (Islam radikalis, red.) adalah ketika tidak ada nashnya, maka disebut bukan Islam. Kemudian dianggap bid’ah. Bid’ahnya dlolalah. Dan bid’ahnya dlolalah tempatnya di neraka.

Padahal halal bihalal itu barang baru. Tidak ada nashnya dan tak ada di Arab. Tapi dilakukan muslim Indonesia. “Inilah Islam Nusantara,” katanya di hadapan peserta diskusi yang rata-rata anak muda NU tersebut.  

Jadi, kata dia, cara berpikir islam Nusntara adalah ketika sesuatu tidak menyimpang dari nash tidak, berifat baik dan maslahat maka boleh digunakan.  “Landasan ukurannya ada larangan tidak dalam nash? Ini cara berpikir NU.”

Dengan cara berpikir seperti itu, maka tumbuhlah kreativitas, ide dan gagasan. Serta memberi peluang terhadap pemikiran budaya untuk tumbuh, baik budaya lokal maupun global. “Syekh Nawawi Al-Bantani mengomentari haul sebagai tradisi orang Jawa itu nggak apa-apa. Tidak ditolak,” ungkapnya.  

Tapi ia menyebut juga, bahwa Islam Nusantara juga tidak liberal. Islam Nusanatara harus berada pada cara berpikir Aqidah Asy’ariya, berdasarakan Qanun Asasi pendiri-pendiri NU. “Ada tashwirul afkar. Perlu juga ada taswiyatul afkar (pemurnian pemikiran). Ini tugasnya Syuriyah,” lanjutnya.

Ia kemudian menyingkat penjelasannya, bahwa Islam Nusantara tidak radikal, tidak liberal, tapi dinamnis (tidak jumud).

Dari sisi harakahnya (gerakan), Islam Nusantara adalah gerakan perbaikan “Ini harus dijadikan dasar gerakan. Karena harakatul ulama (gerakan ulama) adalah memperbaiki umat. Gerakan NU adalah agama dan kemasyarakatan, ekonomi, politik, budaya, bukan hanya masalah keagamaan.

“Kita harus melahirkanbkonsep politik, budaya, kemasyarakatan dari fikrah nahdliyah itu. Ekonominya. Cara bergeraknya soft (lembut). Tidak keras, tidak kasar, kesukarelaan, tidak main paksa. Tidak ego dan fanatik,” jelasnya.

Sementara ketiga dari sisi muamalahnya. Ini adalah mengatur pergaulan sesama NU, sesama Islam, sesama warga negara dan sesama umat manusia. Dalam pergaulan tersebut, Islam Nusantara saling mengasihi dan menyayangi walaupun dengan orang berbeda agama.

Keempat dari sisi amaliyahnya. Islam Nusantara mengamalkan shalawat, istighotsah, maulidan, tahlilan, slametan, memperingati maulid Nabi, memperingati Isra Mi’raj dan lain-lain.

“Islam Nusantara huwa (adalah, red.) Islam Ahlussunah wal Jamaah. Diganti cashingnya supaya menarik. Dan ternyata menarik. Ganti cashing saja ribut,” kata cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini disambut tawa hadirin.

Hadir pada kesempatan tersebut, narasumber lain Pengurus PCINU Amerika Serikat Akhmad Sahal, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini, dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Masduki Baidlowi. (Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: