Sahur di Kampung Kami

Kereta Api Sri Tanjung jurusan Jogjakarta-Banyuwangi berhenti di Stasiun Jombang pada pukul 12.30 WIB. Berikutnya kereta ekonomi yang dipenuhi pemudik lebaran itu melaju pada pukul 12.38. Pada pukul 20.45 kereta dengan harga karcis 100.000 itu tiba di Stasiun Rogojampi.

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 04.06 menit, jadi imsaknya sudah datang. Imsaak, imsaaaak, imsaaaak, imsak…. Demikian Kang Yasin, takmir masjid Baiturrahim desa Gambor, Singojuruh Banyuwangi mengakhiri siaran sahurnya pada Senin (13/7).

Selama sebulan penuh Ramadan ini, ia dan Kang Thohari bergantian siaran sahur di desa yang termasuk masyarakat santri ini. Disebut masyarakat santri karena di desa ini banyak alumni pesantren yang berkiprah nyata di masyarakat. Di desa yang rata-rata masyarakatnya adalah petani ini saat ini terdapat satu masjid yang semarak jamaahnya dan beberapa musola (langgar).

Masyarakat desa Gambor, adalah masyarakat yang memakai bahasa khas Banyuwangi, bahasa osing. Di desa ini, dan juga desa sekitar, tradisi keislaman demikian semarak. Sahur dengan demikian sedemikian penting bagi masyarakat yang terkenal sebagai perajib bordil yang dikirim ke Bali ini.

Di kampung kami, sahur disiarkan tiga kali. Pertama pd pkl 02.25, kedua pd pkl 03.05, dan ketiga pada setengah jam sebelum imsak. Dlm tiap sesi siaran itu dinyatakan perkembangan jam dan menitnya, juga kapan waktu imsaknya.

Penyiarnya dua orang, selang-seling. Seumpama bina’, ya bina lafif mafruq. Kedua penyiar itu sambil menyiarkan menyelingi dengan semacam ceramah agama dengan cara renyah dan perlu, lalu bersenandung salawat. Pentingnya salat jamaah di masjid atau mushola juga disinggung.

“Mari sahur bapak ibu. Mari bangun. Jangan sampai kelewatan tidak sahur. Kalau tidak sahur sama seperti tidak sarapan. Bekerja tanpa sarapan membuat kita lemas. Setelah sahur bapak ibu mohon jangan langsung tidur, tapi bersiaplah menuju mushola atau masjid. Keutamaan salat jama’ah itu adalah dua puluh tujuh derajat, dibanding salat sendiri.”

Suara itu demikian nyaring, karena rumah ibu, tempat saya mudik, berada di barat masjid persis. Masjid Baiturrahim ini saat ini dipimpin oleh alumni pesantren. Ustadz Supriyadi, ketua takmir masjid adalah alumni Pesantren Curahkates Jember Jawa Timur. (Yusuf Suharto/Anam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: