Santri Punya Peran Strategis Bendung Radikalisme

Kediri, NU Online
Di aula Al-Muktamar, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur diselenggarakan pengajian umum sekaligus seminar yang dirangkai dengan bakti sosial. Kegiatan yang dilaksanakan Pokmas atau Kelompok Masyarakat Lirboyo ini dihadiri ribuan santri. Terselenggaranya acara diharapkan mampu membendung paham radikal dan tetap memperkokoh eksistensi NKRI.

KH Abdulloh Kafabihi Mahrus mengungkapkan, bahwa Islam di kawasan Arab sedang dilanda persoalan yang memprihatinkan. “Umat Islam diadu domba baik di Irak, Syiria, Afghanistan, Libya dan bergeser ke Yaman,” kata Katib Syuriyah PBNU ini, Sabtu (4/7) malam. 

Dalam kaitannya dengan NU sebagai pembendung dari aliran radikal itu, ia menyampaikan yang mempunyai peran strategis adalah santri. “Sebab Nahdlatul Ulama didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, dan kiai-kiai lain. Dan beliau semua adalah orang pesantren. Jadi pesantren adalah rahim Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.

Ustadz Ahmad Muntaha AM, selaku pemateri dalam acara dialog interaktif yang bertemakan ‘Mengukuhkan Aswaja Demi Membendung Radikalisme, Pengancam Keutuhan Bangsa’, mengungkapkan, kemerdekaan negara adalah bentuk dari perjuangan para ulama serta auliya. Maka pantaslah bila santri meneruskan memperjuangkan keutuhan bangsa sebagai bagian dari memelihara warisan para ulama dan pendiri NU.

Alumni pesantren setempat yang juga sekretaris Lajnah Bahtsul Masail PWNU Jatim ini, menyatakan salah satu bukti nasionalisme dan patrioatisme para ulama adalah dengan digubahnya salah satu lagu karya KH Wahab Hasbullah pada tahun 1943 yakni lagu ‘Hubbul Wathan’.

Pada sesi dialog, sejumlah pertanyaan disampaikan peserta, termasuk seputar Islam Nusantara. Dalam pandangan Ustadz Muntaha, sapaan akrabnya, Islam Nusantara adalah dakwah Islami dan amaliyah yang sudah ada di Nusantara. 

“Islam yang ada di Indonesia dianggap sebagai alternatif wajah Islam yang baik, ramah dan santun di tengah hiruk-pikuk konflik yang ada di Timur Tengah,” terangnya.

Islam yang ada di Indonesia, dan dipraktikkan Walisongo menjadi salah satu pilihan memahami dan mengamalkan Islam di seluruh jagat raya ini. “Itulah sebenarnya Islam Nusantara,” pungkas Ustadz Muntaha. (Syaifullah/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)