Sarbumusi: Masuki MEA, Nilai-nilai Kebangsaan Mesti Diperkuat

Jakarta, NU Online
Presiden  DPP Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) HM Syaiful Bahri Ansori mengatakan, nilai-nilai kebangsaan harus makin diperkuat menjelang berlangsungnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Menjelang MEA, bangsa Indonesia termasuk pondok pesantren, sudah harus menyiapkan diri menghadapi arus globalisasi yang tanpa batas memasuki berbagai aspek kehidupan baik sosial, ekonomi, budaya,” ujar Syaiful Bahri Ansori di Jakarta, Senin (7/9).

Anggota DPR RI dari Fraksi PKB itu melanjutkan, Komisi I DPR RI secara kontinu, tiga bulan sekali, menggelar Sosialiasasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang meliputi  Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pada Sabtu (5/9), demikian Presiden Sarbumusi masa khidmat 2010-2015 itu menambahkan, pihaknya bersama sejumlah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul bersama kurang lebih 120 orang di Pondok Pesantren Al Hidayah Desa Karang Harjo Silo, Jember, Jawa Timur.

“Tema diusung pada sosialisasi empat pilar berbasis pesantren tersebut ialah Meneguhkan Nlai Pancasila Menjelang MEA 2016,” kata Ketua Umum PB PMII periode 1997-2000 itu pula.

Acara tersebut terbagi dalam dua sesi, sesi pertama menghadirkan narasumber Hezbul Bahar dan Anas Nasihin Wakil Ketua DKN Garda Bangsa. Lalu sesi kedua Dr Ahmad Taufik akademisi Universitas Negeri Jember dan Dra Emi Kusminarni Ketua Muslimat NU Jember.

SBA yang pada 2009-2014 juga telah menjadi legislatif di DPR RI melalui PKB, senantiasa menyampaikan empat pilar ke berbagai daerah, seperti di Lahat, Sumatera Selatan, Sabtu (14/7/2012).

Pada saat itu SBA menegaskan, bagi NU dan PKB, Pancasila sudah final sebagaimana NKRI.

“NU memandang bahwa pancasila bukan agama dan agama bukan pancasila. Insya Allah orang yang menjalankan pancasila dengan benar, maka menjalankan agama dengan benar pula,” kata dia lagi.

Ia melanjutkan, salah satu yang perlu dan sangat memungkinkan bagi masyarakat Indonesia dalam memahami dan mengimplementasikan empat pilar berbangsa dan bernegara tersebut adalah perubahan cara pandang, ‘mind set’ yang mempunyai landasan kokoh dalam filosofi dan falsafat berbangsa dan bernegara.

“Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan, keberagaman yang harus disyukuri dan diikat dengan nilai-nilai Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa,” ujar Staf Khusus  Menteri Pemuda dan Olahraga tahun 1999 – 2000 itu lagi.

Masyarakat Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, mau tidak bisa menghindari proses globalisasi dan tatanan kehidupan global.

“Kami mengingatkan agar masyarakat bangsa Indonesia tidak menjadi penonton di negerinya sendiri,” ujar pria kelahiran Ambulu, Jember, Jawa Timur yang akrab disapa SBA itu lagi. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)