Sarkub dan Pelajar NU Jatinegara Kupas Islam Nusantara

Jakarta,
Sarjana Kuburan atau dikenal dengan Sarkub bekerja sama dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jatinegara, Jakarta, mengupas Islam Nusantar pada halaqah bertema “Membumikan Islam Nusantara melalui dakwah Islam yang santun.”

Narasumber pada halaqah di Gedung NU Jatinegara Ahad (20/9) ini adalah Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Jatinegara KH Ahmad Fatchuri, Koordinator Sarkub Propinsi Papua Abdul Wahab serta Pengurus Cabang IPNU Kabupaten Tegal Ahmad Jaelani. Halaqoh dimoderatori Sekretaris IPNU PAC Jatinegara Abdul Ghofar.

Salah seorang panitia, Ahmad Nur Mustofa mengatakan, bahwa Islam Nusantara bukan hanya sebuah pemikiran, tetapi juga agenda pembumian Islam yang ramah, toleran, moderat, dan maslahah. “Islam Nusantara yang diusung oleh NU berusaha mewujudkan keharmonisan hubungan antara negara, agama, dan budaya sehingga mampu menciptakan kemaslahatan.”

Pada sesi diskusi, Ahmad Jaelan mengatakan, akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia. Sebagian beranggapan Islam Nusantara adalah hal baru.

Hal ini, kata dia, masih dibilang wajar karena NU adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri.

Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun negeri ini. “Untuk itu perlu dibuat sebuah forum halaqoh sebagai wahana silaturrahmi, berdikusi bersama, saling memahami apa itu Islam Nusantara.”

Menurut KH Ahmad Fatchuri, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah.

“Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU. Hal inilah yang perlu kita diskusikan bersama,” ungkapnya

Abdul Wahab menyampaikan landasan Islam Nusantara. Pertama fikrah, kedua harakah, muamalah, dan amaliyah. Dalam berpikir, Islam Nusantara tidak tekstualis, tidak radikalis dan liberalis.

Ia mejelaskan, jika seeorang memaknai sebuah ayat secara tekstualis maka dampaknya bisa menjadi radikalis. “Pemahaman terhadap ayat seara tekstualis sangat berbahaya, selain bisa menjadikan seseorang radikal juga bisa terjebak paham mujassimah (orang yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu mempunyai jasad/bentuk fisik, red.),” ujar Abdul Wahab.

Islam Nusantara, lanjut dia, juga tidak liberal, melainkan berada pada cara berpikir aqidah Asy’ariyah.

Dari sisi harakahnya (gerakan), Islam Nusantara adalah gerakan perbaikan. Karena harakatul ulama (gerakan ulama) adalah memperbaiki umat. Gerakan NU adalah agama dan kemasyarakatan, ekonomi, politik dan  budaya.

Dalam melakuan berbagai Harakahnya Islam Nusantara mengedepankan Akhlakul Karimah. Cara bergeraknya soft (lembut). Tidak keras, tidak kasar, kesukarelaan, tidak main paksa.

Iya bercerita bagaimana komunitas Sarkub dalam mengahadapi beredarnya buku-buku tulisan H. Mahrus Ali di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Buku yang di tulis benar-benar sangat meresahkan umat Islam.

Setelah tim Sarkub menerima berbagai laporan, dipimpin KH Thobary, melakukan silaturrahim ke rumah H. Mahrus Ali di Tambakwaru Sidoarjo, Surabaya Jawa Timur. Tujuannya untuk berdialog dan diskusi meminta penjelasan langsung mengenai buku-buku tulisannya yang meresahkan masyarakat dan menyesatkan itu.

“Itulah Islam Nusantara walaupun dengan orang berbeda paham. Dalam menghadapi perbedaan Islam Nusantara lebih mengedepankan dialog dan diskusi,” ujarnya.

Sementara dari sisi amaliyahnya, Islam Nusantara mengamalkan shalawat, istighotsah, maulidan, tahlilan, slametan, memperingati maulid Nabi, memperingati Isra Mi’raj dan lain-lain. “Islam Nusantara  ya Islam Ahlussunah wal Jamaah” pungkasnya Alumnus Pondok Pesantren Attauhidiyyah ini.

Peserta Dalam halaqah ini, IPNU-IPPNU Ranting se-Kecmatan Jatinegara, anggota Lembaga Pendidikan Ma’arif NU se-Kecamatan Jatinegara dan para aktivis muda lainya. (Ibnu Akhis/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: