Sejumlah Pelajar Lampung Angkat Bicara Soal Festival Kebhinekaan

Bandar Lampung,
Festival Bhineka Tunggal Ika dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional 2015 di Lampung telah digelar dua kali, di Kabupaten Waykanan, Rabu (18/11) dan di Kabupaten Tanggamus, Jumat (20/11). Dua forum ini mendapat respon positif dari sejumlah kalangan, baik pelajar, tokoh adat maupun aparatur penegak hukum.

Wakil Ketua IPNU Tanggamus Budi Ismail menilai perlunya perhelatan Festival Bhineka Tunggal Ika yang diinisiasi Gusdurian dan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung di jalan Raya Gunung Tiga nomor 134 kecamatan Pugung.

“Kami mengapresiasi kegiatan tersebut mengingat mendorong kami yang muda-muda ini bisa menghargai perbedaan karena ada contoh riil,” kata Budi di Tanggamus, Ahad (22/11).

Menjelang pemutaran film “Bulan Sabit di Kampung Naga” karya sutradara M Iskandar Tri Gunawan, tokoh adat Tanggamus Buya Sayuti Ibrahim (Lampung) dan H Suhadi AR (Sunda) berkenan berbagi tumpeng keberagaman yang dipersiapkan panitia untuk selanjutnya diberikan melalui Kasat Binmas Polres Tanggamus AKP Djoko Sarianto.

“Kegiatan kemarin event yang bagus. Selain menumbuhkan kesadaran dan penghargaan terhadap sesama, kesatuan Indonesia juga menjadi terjaga,” ujar pelajar SMK Nurul Falah, Tanggamus, Cahaya Suri Kasnawati.

Pelajar SMK Nurul Falah lainnya Kamal juga merasa Festival Bhineka Tunggal Ika merupakan kegiatan berguna yang mendorong tumbuhnya nilai toleransi mulai pudar.

“Menghadiri kegiatan kemarin menambah wawasan kita mengenai toleransi,” kata Kamal.

Sementara pelajar SMAN 2 Blambangan Umpu Okti Priyanti yang beragama Islam dan Brigita Cindy Feriyani yang beragama Nasrani menilai, Festival Bhineka Tunggal Ika guna memperingati Hari Toleransi Internasional yang digagas Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Gusdurian Lampung di daerah itu sebagai ajang peneguhan penghormatan akan perbedaan.

“Saya hidup di Kampung Sriwijaya yang mayoritas penduduknya muslim, namun kami tidak saling melecehkan perbedaan. Acara-acara semacam Festival Bhineka Tunggal Ika tentu kami sambut positif,” kata Brigita didampingi Okti.

Penggiat Gusdudian Lampung Gatot Arifianto menambahkan, pertemuan lintas iman, suku semestinya sering terjadi guna menekan pergesekan. “Kenapa silaturahmi lintas iman dan suku hanya terjadi setelah ada pergesekan?” ujar dia.

Menurut Gatot, pertemuan-pertemuan intens lintas iman dan suku menjadi penting untuk selalu dilakukan guna menekan hal tidak diinginkan. (Disisi SF/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: