Setumpuk Pengalaman dari Pelayaran Santri Bela Negara

Jakarta, Dalam pelayaran santri, kami mendapat pengalaman menarik untuk tergugah terhadap permasalahan negara. Seperti semboyan angkatan laut Indonesia “jalasveva jayamahe” yang artinya, justru di laut kita jaya. Semboyan itu bukan tanpa sebab, mengingat luas lautan Indonesia lebih besar dibanding luas daratan.

Jika berkaca dari sejarah masa lalu Indonesia, kerajaan besar yang mampu mempersatukan wilayah Nusantara, dibangun atas dasar poros kemaritiman, sebut saja kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kita sudah cukup lama tidak memikirkan tentang kelautan, pembangunan infrastruktur daratan justru lebih masif digalakkan dibanding lautan, pembangunan hotel lebih banyak dibanding membangun dermaga. Sebagai negara maritim, barang tentu kita sudah mengalami pergeseran dalam memaknai diri sendiri.

Pelayaran santri bela negara (PSBN) diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bersama Lembaga Persahabatan Ormas Islam. Kegiatan yang dikemas dalam pelayaran dibuat untuk menanamkan nilai cinta tanah air pada diri santri. Menggunakan KRI Banda Aceh, pelayaran menempuh jarak Jakarta Surabaya dan Surabaya Jakarta dengan diikuti 100 santri dari pelbagai daerah selama 7 hari, 20-26 Nopember 2015.

“Dari kegiatan ini, diharapkan para santri lebih memahami arti penting serta menambah wawasan tentang kelautan, kemaritiman dan cinta tanah air. Sehingga, ke depan mereka mampu menjaga dan membela negara dari kelompok yang ingin merusak Indonesia,” kata ketua panitia, Imam Pituduh.

Berkumpul untuk mendapat wawasan kemaritiman serta pengalaman berkenalan teman baru, berlatar organisasi keagamaan berbeda serta daerah, plus menikmati menaiki kapal perang adalah sedikit dari berjuta keuntungan bagi santri yang mengikuti pelayaran bela negara. Sampai juga mengunjungi Monumen Jaya Surabaya dan melihat kapal-kapal tempur Indonesia.

Meski hanya seminggu pelayaran, kami mendapat banyak kesempatan yang tidak semua santri Indonesia memilikinya. Misalnya bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan, Panglima Komando Angkatan Perang RI Wilyah Timur Laksamana Muda Darwanto, sampai Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.

Momen tersebut sangat mengesankan bagi kami para santri, dari daerah kecil, pesantren terpelosok dapat bertemu dan bertanya dengan orang-orang penting. Pelayaran itu membuat kami tergugah arti penting laut, menjaga kedaulatan wilayah negara. Kami juga ingin menjadi bagian dari pembela negara bersama para TNI.

“Selama ini belum pernah ada kegiatan yang menyatukan para santri sebanyak kali ini, bahkan dari kota-kota kecil juga tidak saja satu ormas, tidak pernah aku lupakan,” ungkap Hilmi, santri utusan dari PCNU Subang.

Disadari atau tidak, bagi Muhammad Ammar, utusan PCNU Jakarta Pusat, pelayaran santri bela negara menunjukkan pesan pada sila ke tiga, Persatuan Indonesia. “Ini adalah Bentuk dari pengamalan santri di tengah perbedaan ormas dan daerah kita bisa bekerjasama selama kegiatan,” Ungkap santri yang pernah mondok di pesantren Buntet Cirebon. (Faridur Rohman)

Foto: Panglima Komando Angkatan Perang RI Wilayah Timur Laksamana Muda Darwanto didampingi Ketua PBNU Marsudi Suhud bersama para santri

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: