SMA 1 Jombang Isi Ramadhan dengan Pelatihan Ilmu Falak

Jombang, NU Online
Sejumlah sekolah menggelar pondok Ramadhan. Namun berbeda yang dilakukan SMAN 1 Jombang. Sekolah yang berlokasi di utara Alun-alun Jombang, Jawa Timur, ini justru menggelar pelatihan ilmu falak. Narasumber yang dihadirkan adalah Ustadz Abdul Majid, pengajar ilmu falak di Pesantren Al-Mahfudz Seblak, Diwek, Jombang.

Kegiatan digelar selama dua hari. Peserta yang mengikuti adalah seluruh siswa kelas XI dan XII. Pada Senin (6/7) diikuti semua peserta putra. Sedang Selasa (7/7) diikuti semua peserta putri.

Tidak sekadar teori, kegiatan juga langsung disertai dengan praktik dalam menentukan arah kiblat. “Kebetulan mushalla di sekolah sini sedang direnovasi, jadi sekalian dihitung ulang arah kiblatnya,” kata Mukani, guru agama di SMAN 1 Jombang.

“Dengan pelatihan ini kita juga menginginkan siswa memiliki sikap toleransi dalam menghadapi perbedaan saat menuntukan awal puasa ataupun awal lebaran nanti,” imbuhnya.

Ustadz Majid juga menekankan kepada sikap toleransi dalam berbeda pendapat. “Kebetulan penentuan awal Ramadhan kemarin di Indonesia serentak, tapi itu belum jaminan saat penentuan 1 Syawal nanti akan begitu,” ujarnya. Ini berdasarkan pada perhitungan hisab, akan terjadi perbedaan antara beberapa ormas Islam.

“Apapun yang terjadi, semua memiliki dalil yang sangat kuat, tidak perlu saling menyalahkan,” imbuhnya. Yang harus dilakukan, lanjutnya, adalah menunggu hasil sidang penetapan (itsbat) dari pemerintah. “Dalam hal ini Kementerian Agama yang punya hak untuk menentukan, yang lainnya  sekedar memberikan informasi. Inilah yang disebut dengan ikhbar,” katanya. 

Pada hari kedua, kegiatan pelatihan dipungkasi dengan pengukuran ulang arah kiblat dari mushalla Al-Barqi yang ada di belakang sekolah. Perwakilan peserta yang mendampingi narasumber tampak antusias mengikuti pengukuran ini. “Ini ilmu baru bagi saya,” kata Kevin Chalista, salah seorang peserta.

Dipilihnya praktik pengukuran arah kiblat mushalla Al-Barqi memiliki banyak pertimbangan. “Kalau praktik untuk rukyatul hilal, kan tidak mungkin, karena sekarang belum akhir bulan Ramadhan,” ujar Abdul Majid.

Pria yang juga menjadi Ketua Lajnaf Falakiyah MWC NU Diwek ini menjelaskan bahwa dalam menentukan arah kiblat, harus diperhatikan dengan benar. “Karena ini menyangkut sahnya shalat, sebagai ibadah terpenting kita selama ini,”ujarnya.

Meski tidak sampai derajat pas sepenuhnya dengan Ka’bah di kota Mekah (‘ainul qiblat), namun shalat harus dikerjakan minimal dengan mengarah kepada kiblat (jihatul qiblat). Dari perhitungan yang dilakukan bersama peserta, ditentukan bahwa arah kiblat mushalla SMAN 1 Jombang adalah 294013″.

Ini hampir sama dengan kesalahan yang dialami berbagai masjid dan mushalla di Jombang. “Bahkan kesalahan yang terjadi selama ini sampai melenceng sampai 170,” kata Ustadz Majid. Di musala Al-Barqi, kesalahan arah kiblat mencapai 190 lebih.

Sebagai solusi, bangunan mushalla yang ada tidak harus dibongkar. “Karena akan banyak memakan biaya. Cukup dengan arah salat dan barisannya saja yang ditata ulang,” ujarnya. “Ini juga sesuai dengan fatwa MUI Nomor 3 tahun 2010,” pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)