Syuriyah NTB: Islam Nusantara Jaga Persaudaraan Umat

Mataram, NU Online
Wakil Rais Syuriyah PWNU NTB H Masnun Tahir menyatakan bahwa Islam yang bergerak melalui pendekatan kebudayaan lokal lebih bisa diterima oleh masyarakat tanpa ketegangan sosial yang tidak perlu. Karenanya, kehadiran Islam yang membumi tidak menegasikan hal-hal positif yang sudah lama jauh berkembangan di masyarakat.

Demikian disampaikan H Masnun pada saat berbuka puasa bersama yang diselenggarakan oleh keluarga besar NU Nusa Tenggara Barat di aula kantor PWNU NTB jalan Pendidikan nomor 6, kota Mataram, Kamis (25/6) sore.

Menurut Direktur Pasca Sarjana IAIN Mataram ini, Islam Nusantara dapat mempersatukan antarumat beragama secara kebangsaan meskipun secara prinsip berbeda.

“Islam di Indonesia tidak bisa dipaksakan harus ke budaya Timur Tengah, karena kita memiliki budaya tersendiri. Begitu pula dengan agama lain yang ada di Indonesia, pasti akan mengikuti kebudayaan setempat,” kata Masnun.

Ia menyebut contoh bahwa di Lombok-NTB warga lebih dulu memiliki budaya tersendiri yang diikuti oleh Islam. Dan itu jauh sebelum Islam masuk.

Yang perlu dipahami oleh warga NU ialah ada yang bersifat syariat Allah (Agama Islam) yang sudah mutlak aturannya dan sesuai dengan tuntutan agama.

“Kita yang berhaluan Islam Ahlussunah Waljamaah Annahdliyiah dengan tren Islam Nusantara yang gencar diperbincangkan saat ini sebetumnya menerangkan tentang Islam Indonesia, tidak bisa dipaksa harus sama dengan yang di Arab, yang memiliki kebudayaan tersendiri,” kata akademisi IAIN Mataram ini.

Di Lombok misalnya menyalakan palman (lampu yang terbuat dari buah jarak dan ada juga yang terbuat dari botol bekas) di tiap-tiap malam ganjil. Di Jawa memiliki kebudayaan lingkungannya berbeda seperti awal Ramadhan atau satu hari sebelum puasa itu melaksanakan tradisi mandi. Bersih-bersih dan lain sebagainya, itu mungkin cara dan bentuk kegembiraan mereka menyambut Ramdhan.

“Saya pernah ditanya tentang itu, bagaimana pandangan pak ustadz? Mengulang pertanyaan yang pernah didapatkan. Dirinya pun menjawab boleh, ‘Karena siapa yang melawan budaya maka orang tersebut akan dilawan oleh budaya itu sendiri’,” katanya. (Hadi/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)