Syuriyah PCNU Jombang Jelaskan Islam Ideal dan Standar

Jombang, Wakil Syuriyah Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur KH Wazir Ali menyatakan, bahwa Islam yang diidolakan oleh kalangan NU adalah Islam yang moderat dan ramah. Sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) hendaknya terus berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang santun dan rahmatan lil alamin.

“Degan kata lain Islam idola NU yaitu yang idealisasi dan standarisasi, tidak ortodok atau berlebihan dalam menganut suatu paham,” katanya kepada , Senin (30/11).

Islam yang idealisasi, kata dia, adalah Islam yang secara keseluruhannya mengikuti sunnah Nabi Miuhammad sedangkan Islam setandarisasi yaitu tidak mengeyampingkan prodak hukum yang dilakukan para sahabat-sahabatnya setelah Nabi wafat. Sikap ini dijauhkan dari klaim bid’ah dan semacamnya. 

“Ada anjuran untuk berpegang teguh pada Aswaja, yaitu kelompok-kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan khulafaurrasyidin. Seperti hadis yang berbunyi alaikum bisunnati wa sunnati kholafair rasyidin mimba’di, (kalian harus berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para kholafaurrasyidin setelah sepeninggalku),” tuturnya.

Kiai Wazir, sapaan akrabnya mencontohkan rakaat shalat tarawih versi Nabi yang berjumlah 11 (sebelas) rakaat dan disempurnakan menjadi 20 (dua puluh) rakaat oleh Sahabat Umar. “Karena situasi dan kondisi Islamnya para sahabat masih lemah butuh penyemangat agar tarawih tidak diyakini sebagai sebuah kewajiban, akhirnya ada ide segar dari sahabat Umar alangkah baiknya shalat tarawih dipimpin oleh satu imam yang bagus bacaan shalatnya dan rakaatnya ditambah menjadi 20 rakaat. Hal ini juga termasuk mengikuti sunnah Nabi,” ujarnya.

Begitu juga dengan sikap dan ajaran-ajaran yang disebarluaskan oleh Wali Songo adalah salah satu bentuk dari Islam yang  diidolakan NU, hal ini hendaknya dijadikan contoh dalam berdakwah dan berinteraksi dengan masyarakat. “Salah satu contoh Islam yang rahmatan lil alamin yaitu ajaran-ajaran yang didakwakan Wali Songo yang kemudian diteruskan oleh pemimpin-pemimpin pondok pesantren dan sampai pada kita,” terangnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: