Taiwan-PBNU Jajaki Sejumlah Kerjasama

Jakarta, NU Online
Pemerintah Taiwan menjajaki kerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam berbagai bidang, baik pendidikan, sosial, kesejahteraan, maupun ekonomi.

“Ada beberapa bidang yang mungkin bisa kami kerjasamakan dengan PBNU,” kata Direktur Pers dan Informasi Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Jakarta, Ismael Mae, di Jakarta, Kamis.

Di bidang pendidikan, ujar dia, pemerintah Taiwan memiliki beberapa program beasiswa yang bisa diberikan kepada warga Nahdliyin.

“Demikian juga dengan bidang kesejahteraan, kesehatan, dan ekonomi, kami punya banyak program,” ujarnya saat bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siroj.

Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan terima kasihnya kepada PBNU karena keberadaan Pengurus Cabang Istimewa NU Taiwan sangat membantu pemerintah Taiwan dalam menghalau pengaruh radikalisme Islam.

Ismael menganggap bermitra dengan NU sangat penting, mengingat NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dan sangat berpengaruh.

Sementara itu, Said juga menyatakan terima kasihnya kepada pemerintah Taiwan yang telah memberikan pengayoman kepada 236.000 tenaga kerja Indonesia di Taiwan yang mayoritas warga Nahdliyin.

Ia juga menyambut baik tawaran kerja sama yang diajukan oleh pemerintah Taiwan melalui TETO tersebut. “Tentu niatan mulia Anda kami sambut dengan baik,” katanya dalam dialog dengan Ismael dengan menggunakan bahasa Arab karena keduanya sama-sama pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah.

Terkait dengan keberadaan gedung Sekretariat PCINU Taiwan di kawasan Taipei Main Station, kepada Said, Ismael menyatakan siap membantu mengurangi beban biaya sewa yang per bulannya senilai 40.000 dolar Taiwan itu.

Demikian pula dengan rencana para nelayan asal Indonesia yang akan mendirikan masjid di Donggang, kota pelabuhan di Pingtung County, Ismael menyatakan siap membantu proses perizinan.

“Silakan berkirim surat kepada kami yang dilengkapi surat rekomendasi PBNU, pasti kami bantu,” kata diplomat lulusan salah satu perguruan tinggi di Libya itu.

Pertemuan informal tersebut berlangsung penuh kekeluargaan. Bahkan dia terkesima saat Said menjelaskan makna nama “Ismael” lengkap dengan sejarah Nabi Muhammad.

“Saya saja yang memiliki nama itu tidak mengerti. Kenapa Anda bisa sedetail itu?” kata Ismael terheran-heran mendengar penjelasan Said yang saat itu didampingi Mustasyar PCINU Taiwan Nabiel Harun. (Antara/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: