Tantangan Dakwah NU di Pulau Bintan

Ketika seekor anjing menggigit kaki seorang pemain sepakbola, maka itu bukanlah satu berita yang menarik. Tapi ketika ada seorang pemain sepak bola menggigit seekor anjing—dari sudut pandang jurnalistik—itu baru sebuah berita yang bukan saja interesting dan marketable namun sangat heboh. Dalam konteks ke-NU-an, saat NU berjuang di suatu wilayah yang mayoritas warganya sudah memiliki kultur sangat islami, itu jelas suatu hal yang biasa. Namun saat NU yang mengusung Islam ala rahmatan lil alamin </em>itu berkiprah di suatu wilayah yang plural, baik secara ideologi maupun kultur-budaya itu baru satu berita yang cukup menarik. Seperti itu pula apa yang dilakukan NU di pulau Bintan.</p>
<p>Pulau Bintan adalah sebuah wilayah yang sangat dinamis. Berbagai macam industri, terlebih di bidang pariwisata maju sedemikian pesatnya. Apalagi letak wilayahnya yang sangat strategis. Bintan berdekatan dengan Singapura. Maka secara otomatis, daerah ini menjadi semcam pusat pertemuan aneka budaya dan kepentingan. Dan sebagai salah satu eksesnya, banyak kultur serta budaya yang tidak sesuai dengan syariat islam masuk ke dalamnya. Sebagian bahkan telah menjadi gaya dan budaya yang dijalankan penduduk lokal dengan melepaskan nilai-nilai agama yang mereka peluk dan kearaifan lokal setempat (<em>local wisdom)</em>.</p>
<p>NU sebagai salah satu ormas keagamaan yang eksis di wilayah itu tidak mau tinggal diam. Dengan menggunakan pendekatan santun dan tetap <em>respect</em> terhadap kultur setempat—selama tidak bertentangan dengan aqidah—NU tetap getol memperkenalkan wajah Islam yang santun melalui berbagai aktivitas dan program yang diselenggarakan. NU tidak lelah berusaha memperkenalkan Islam yang menghargai kultur dan kearifan lokal. Seringkali NU justru merangkul budaya dan kultur setempat yang jelas tidak bertentangan dengan aqidah serta menjadikannya sebagai bunga-bunga keberagamaan.</p>
<p>Cara dan pola yang digunakan NU di tempat ini dalam memperkenalkan Islam tetap merujuk pada pola dakwah yang digunakan oleh Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Sebuah cara yang boleh dibilang lebih mementingkan isi daripada bungkusnya. Bukan dengan cara-cara frontal, apalagi radikal yang berpotensi menyulut konflik dan perang. Sebagaimana terjadi di negara-negara Timur Tengah. Sebab jika demikian misi utama Islam sebagai agama yang menebar kedamaian di seluruh jagat raya (<em>rahmatan lil
alamin)
malah akan sulit tercapai.

Di sinilah relevansi salah satu ungkapan bijak, bahwa cara seringkali lebih penting daripada materi. Cara yang salah dalam memperkenalkan wajah Islam, apalagi di daerah yang super dinamis dari berbagai sektor seperti Pulau Bintan, justru akan mengaburkan isi dan materi yang hendak disampaikan, yakni Islam yang merupakan agama penebar kedamaian. Maka melalui berbagai program dan kegiatan yang diselenggarakan, NU wilayah ini tetap konsisten untuk berdakwah. Memperkenalkan Islam yang ramah, welcome terhadap kearifan lokal di suatu tempat  serta menepis anggapan keliru yang menyatakan bahwa Islam identik dengan kekerasan, radikalisme, terorisme dan sebagainya. Semoga.

 

Dikirim oleh Abdul Majid, Bintan

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: