Tenaga Umat Islam Kini Hampir Habis oleh Isu-Isu Meresahkan

Bandung, NU Online
Saat ini umat Islam mengalami gangguan pemikiran akibat banyaknya isu-isu yang menakutkan. Banyak yang menyebarkan isu tentang bahaya ini, bahaya itu. Masyarakat muslim dibuat takut dan ini berbahaya karena bisa melemahkan mental.

Demikian disampaikan Ulil Abshar Abdalla dalam sesi “Dialog Menjadi Muslim Masa Kini,” di Kantor PWNU Jawa Barat, Sabtu (7/11) sore.

Acara yang berlangsung jam 14:30 hingga 17:30 ini dimoderatori oleh Dr. Asep Salahudin. Sementara pembukaan disampaikan oleh Ketua PWNU Jawa Barat yang disampaikan oleh Kiagus Zaenal Mubarok.

Di hadapan ratusan peserta itu Ulil memaparkan pandangan-pandangan kritis terkait dengan pemikiran-pemikiran keislaman dan keindonesiaan. Ia menunjukkan sejumlah fakta bahwa umat Islam sekarang sedang mengalami kemandegan dalam berpikir karena lebih terkonsentrasi mengurus ancaman ketimbang serius mendalami pemikiran Islam.

“Saya kira kita tidak perlu lagi menebarkan ancaman-ancaman tentang bahaya Syiah, bahaya Wahabi, bahaya Ahmadiyah, dan bahaya lain. Kaum Nahdliyin tidak usah ikut-ikutan seperti itu karena menurut saya menakut-nakuti orang itu akan menimbulkan mentalitas kita menjadi lemah. Suatu bangsa yang mentalnya penakut akan mati kreativitasnya,” terangnya.

Di dalam pandangan Ulil, kritis terhadap pemikiran radikal bukan berarti harus takut. Sebab kelompok-kelompok kecil ini tidak perlu ditakuti. “Saya sendiri kritis terhadap Wahabi, tapi saya tidak takut kepada Wahabi. Saya sendiri tidak sepaham dengan Wahabi, termasuk Hizbut Tahrir tetapi saya tidak menebarkan kesesatan apalagi mengatakan mereka bukan Islam. Kritis tidak harus menyesatkan apalagi disertai dengan kebencian,” sambungnya.

Atas dasar sikap kritis tersebut Ulil sangat berharap generasi muda NU bisa lebih rasional dalam melakoni dirinya menjadi muslim masa kini. Menjadi muslim masa kini itu menurut Ulil setidaknya butuh tiga dimensi.

Pertama adalah dimensi Islam di mana identitas diri Islamnya seorang muslim harus diperhatikan. Kedua, adalah dimensi nasional karena seorang muslim tidak bisa sendirian menjadi muslim melainkan pasti terikat dengan status negara tempat seorang muslim hidup dan menjalani kehidupan bersama warga non agama. Ketiga, harus mampu beradaptasi dengan dimensi global di mana kesepakatan internasional itu pasti harus dihubungkan dengan konvensi internasional.

Forum dialog yang digelar oleh Sarekat Muslim Indonesia (SMI) dan PMII Kota Bandung tersebut berlangsung meriah. Banyak generasi muda NU di kota Bandung dan sekitarnya yang hadir dan menikmati ceramah segar dari alumni pesantren Al-Anwar Sarang Rembang itu. (Satar-Sakri/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: