TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI

Kendal,  
Tanggal 5 Oktober merupakan hari bersejarah bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dibentuk dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atas instruksi Presiden Sukarno yang oleh ulama Nahdlatul Ulama (NU) diberi gelar Waliyul Amri Dhoruri Bisyaukah. Namun hal jarang diketahui publik, kebersamaan TNI dan ulama bersama mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bhineka ini. 

“Panglima Besar Jenderal Sudirman ialah sosok relijius luar biasa. Diangkat sebagai jenderal saat usia 29 tahun dan dengan kondisi beliau sakit parah, harus bergerilya untuk memimpin pasukan, demi kedaulatan negara Indonesia. Beliau dikabarkan sangat dekat dengan rakyat, tidak pernah mengeluh, dan tetap berusaha untuk istiqomah dalam perjuangannya,” ujar Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal Shuniyya Ruhama, di Kendal, Jawa Tengah, Selasa (6/10).

Peran serta Jenderal Sudirman dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 sungguh luar biasa besarnya. Mengkondisikan serangan serentak dari seluruh wilayah bantuan Belanda sehingga menghambat laju tentara Belanda dan berhasil membuka mata dunia, bahwa Indonesia masih ada. Peristiwa ini menimbulkan kecaman dunia internasional, dan berakhir dengan manis, yakni pengakuan kedaulatan Indonesia. 

“Tapi belum sempat menikmati masa damai, beliau harus berpulang, menyongsong haribaan Ilahi,” ujar dia lagi.

Ia menambahkan ulama yang mempunyai peran dalam kedaulatan negara adalah Simbah Kiai Haji Machrus Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur. 

“Sosok yang luar biasa berkharisma ini tentu lebih dikenal sebagai begawan ilmu agama yang jarang ada tandingannya. Beliau begitu dicintai oleh seluruh santri dan masyarakat karena terbukti berkhidmah tanpa syarat,” tuturnya.

Tidak banyak yang tahu bahwa Yang Mulia Simbah Kiai Haji Machrus Aly salah satu pengawal NKRI sejati. 

“Beliau turut berperan menginstruksikan pelucutan tentara Jepang di Surabaya dan mengomando 97 santri Lirboyo untuk bertempur melawan Sekutu dalam peristiwa 10 November. Beliau berprinsip untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai hingga titik darah penghabisan,” ujar dia lagi.

Hal tersebut, imbuh Shuniyya, yang di kemudian hari menjadi embrio Kodam Brawijaya, penjaga keutuhan NKRI di Jawa Timur. 

“Sehingga tidak heran jika beliau begitu dihormati oleh kalangan militer. Istiqomah beliau sungguh luar biasa. Beliau mengambil jalan tetap berada di pesantren untuk mengawal keilmuan agama. Tidak terbersit untuk menggayuh kekuasaan,” paparnya.

Ulama lain penjaga NKRI yakni Singa Karawang alias Yang Mulia Simbah Kiai Haji Nur Ali. “Tokoh kharismatik tersebut tidak diragukan lagi pengabdiannya untuk NKRI. Pada saat perang kemerdekaan, beliau berangkat ke Yogyakarta dan ditemui oleh Jenderal Urip Sumoharjo sebab Jenderal Sudirman sedang tidak ada di tempat. Keadaan negara dalam kondisi genting.”

“Beliau diminta untuk membentuk pasukan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia namun tidak di wadah TKR. Beliau akhirnya membentuk Tentara Hizbullah-Sabilillah dan berkali-kali berhasil memporak-porandakan pasukan Belanda melalui taktik perang gerilya. Beliau pulalah yang melindungi kelompok orang-orang Kristen yang hendak dibantai oleh pasukan Belanda. Beliau pulalah yang berinsiatif mengibarkan ribuan bendera merah-putih sehingga membuat Belanda marah besar. Atas perjuangan beliau yang luar biasa, beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006,” demikian Shuniyya Ruhama. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: