UIN Semarang Optimalkan Revitalisasi Sejarah Walisongo

Pekalongan, Sejarah Walisongo selalu menjadi perbincangan yang tidak pernah selesai didiskusikan. Sehingga sejarah para wali di tanah Jawa ini menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang untuk merevitaslisasi sejarahnya. Sebab, salah satu visi UIN adalah revitalisasi kearifan lokal.

Hal tersebut ditegaskan Wakil Rektor I UIN Walisongo Dr H Musahadi saat membuka seminar hasil penelitian sejarah Sunan Muria oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M). Seminar yang digelar di Gedung Kanzus Shalawat Pekalongan, Rabu (27/5), ini merupakan kerjasama dengan Persatuan Pemangku Makam Auliya’ (PPMA) dan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria Kudus (YM2SMK).

“Penelitian sejarah Sunan Muria ini menjadi salah satu bukti keseriuasan UIN untuk mengungkap kembali peran Walisongo dalam melakukan penyebaran agama Islam,” kata Musahadi.

Dengan adanya sejarah Walisongo ini, kata Musahadi, diharapkan generasi muda paham bahwa walisongo buka hanya sekedar folklor atau mitos. Selama ini, generasi muda jika belajar sejarah Islam selalu berhenti pada masa khulafaurrasyidin dan sejarah Walisongo tidak banyak disinggung.

“Di sinilah tujuan utama UIN Walisongo mendorong pentingnya menggali dan mengungkap kembali sejarah para wali dan tokoh-tokoh lokal yang memperjuangkan agama Islam,” tegasnya.

Ketua LP2M Dr H Sholihan menambahkan, penelitian Sejarah Sunan Muria ini sudah dimulai sejak tahun 2013. Seminar hasil penelitian ini sebelumnya pernah disampaikan di Colo Muria, Kudus, pada 17 Desember 2014 lalu. “Seminar kali ini merupakan yang kedua berangkat dari semangat Habib Luthfi untuk mengajak diskusi kembali soal sejarah Walisongo,” ujarnya.

Penelitian semacam ini, lanjut Sholihan, memang butuh waktu sangat lama karena harus membaca sekian banyak naskah kuno dan melacak sumber di Belanda dan Australia sebagai bahan rujukan sejarah wali ini. Diharapkan dari hasil penelitian ini mampu mendorong pengembangan sejarah dan kesadaran akademik dari para pemangku makam para wali khususnya di Jawa.

Melacak ulang sejarah

Sementara itu, Ketua YM2SMK H Abdul Manaf mengakui, sejarah Sunan Muria memang masih sangat sedikit ditemukan. Dari pemikiran itulah, yayasan yang dipimpinnya menggandeng UIN Walisongo melacak kembali sejarah Sunan Muria. 

“Hasil penelitian ini disadari masih butuh masukan dari berbagai pihak agar benar-benar sempurna. Seminar kali ini, merupakan ‘gong’ dari proses penelitian yang sudah berjalan dua tahun yang lalu. Oleh karenanya, diharapkan penelitian ini memiliki manfaat bagi pemahaman sejarah bagi generasi penerus agar semakin mencintai Walisongo,” tegas Manaf.

Peneliti sejarah Sunan Muria dari UIN Walisongo Dr Akhwan Fanani menegaskan, Sunan Muria adalah fakta, bukan legenda sebagaimana dituduhkan sebagian orang. Ini nampak dari terdokumentasikannya Suluk Bonang sebagai naskah tertua pada tahun 1598. Dalam Babad lainnya juga disinggung tentang Sunan Ampel digantikan Sunan Gunung Jati dan disinggung juga tentang periode wali. Meski memang ada informasi yang berbeda dalam Babad Cirebon itu hal biasa.

Arkeolog UGM, Musaddad juga menegaskan bahwa figur Sunan Muria sebagai tokoh besar yang menjadi bagian dari institusi kewalian tanah Jawa. “Dan ini menjawab Walisongo itu fakta dan tidak perlu risau tentang anggapan mengenai Walisongo hanya sekedar dongeng, karena saya sudah banyak meneliti tentang makam-makam di Indonesia,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni) 

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: