UNU Indonesia Gelar Diskusi Bersama Aktivis Internasional

Jakarta, NU Online
Universitas NU Indonesia yang berlokasi di Jakarta yang diresmikan Ramadhan 1436 H mulai bergiat menggelar aktifitas akademik dan intelektual. Pada Senin, (27/7) para dosen UNU Indonesia menggelar diskusi bersama dengan Jeremy Thomas, aktivis internasional yang menjadi pegiat HAM di Australia.

Diskusi yang dihelat di Kampus UNU, Jl Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat ini membahas tema “Prospect of Multiculturalism in Indonesia”. Tampil pula memaparkan hasil penelitiannya dosen UNU Denny Hamdani yang memaparkan hasil penelitiannya soal konflik Gereja Yasmin di Bogor dan pembangunan masjid Nur Musafir Batuplat Kupang NTT. 

Ia menyampaikan persoalan sulitnya membangun rumah ibadah bukan hanya persoalan antara Muslim dengan non-Muslim, melainkan antara mayoritas dengan minoritas. 

Jeremy menjelaskan, dalam sejarahnya, pluralitas kehidupan keagamaan di Australia sudah muncul sejak zaman kolonial ketika para imigran, yang sebagian adalah para kriminal memiliki agama yang berbeda-beda. Awalnya, masyarakat tersegregasi berdasarkan agamanya seperti mereka yang memeluk Katolik atau Protestan, tetapi dengan berjalannya waktu, terjadi interaksi antara kelompok agama yang mendekatkan mereka.

Ia mencontohkan, dirinya yang beragama Yahudi, selalu mendapat undangan iftar atau buka puasa bersama sehingga dalam bulan Ramadhan ia pun ikut “puasa”. Keberadaan Muslim juga semakin diapresiasi dengan pentingnya makanan halal. 

Meskipun demikian, belum semua persoalan selesai, seperti adanya perbedaan sudut pandang cara penyembelihan. Kelompok pembela hak-hak kewan menganggap penyembelihan binatang menimbulkan rasa sakit bagi hewan, sementara umat Islam menilai menyembelih dengan disetrum hasilnya menjadi tidak halal. Persoalan kapan waktu tepat disunat, apakah saat masih kecil atau saat sudah dewasa juga menjadi pertanyaan.

Deny, yang mengambil studi doktor di Australian National University (ANU) Canberra menceritakan juga menurutkan pengalamannya. Meskipun muslim merupakan minoritas, saat ada acara, selalu disediakan makanan halal dan setiap Jum’at, pihak masjid menyediakan bus khusus yang mengantar mahasiswa Muslim ke masjid yang memang lokasinya jauh. 

Meskipun demikian, kalau dicatat, banyak juga hubungan antar agama yang kondisinya lebih baik di Indonesia seperti setiap agama mendapat libur hari raya, sementara di Australia, hanya kelompok Kristen saja yang memperolehnya. 

“Kita, Indonesia dan Australia bisa saling belajar,” jelasnya. (Mukafi Niam)  

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)