Usai Muktamar, Ulama dan Kiai Harus Bersatu Kembali

Surabaya, Kalau terjadi ketidakpuasan usai perhelatan Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama,  itu adalah sebuah dinamika. Yang harus segera dilakukan adalah seluruh ulama dan kiai harus bersatu kembali dalam payung besar jam’iyah.

“Riak dalam muktamar itu pasti ada,” kata KH Ali Maschan Moesa, Senin (7/9) petang. Wakil Rais PWNU Jawa Timur ini mengemukakan, bahwa sangat tidak mungkin kegiatan yang mempertemukan banyak kiai dan ulama serta pegiat NU dari berbagai kawasan tersebut bisa memuaskan semua pihak.

Karena esensi dari NU adalah kebangkitan ulama, maka sudah sepatutnya seluruh komponen jam’iyah ini bersatu kembali dalam rangka berkhidmat kepada warga, agama dan juga bangsa. “Dan ini juga yang diingatkan oleh pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari,” kata Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

“Para muassis atau pendiri NU mendirikan jam’iyah ini dengan harapan agar seluruh potensi ulama dan kiai serta umat dapat disinergikan untuk kiprah terbaik,” kata Pengasuh Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya ini.

Dengan menyitir pesan KH Hasyim Asy’ari, bahwa umat Islam sekarang sudah sampai pada kondisi dikelilingi binatang buas. “Sedangkan umat ibarat domba yang berada di tengah lapang dan dikepung binatang buas tersebut,” katanya. Kalau selama ini keadaan masih kondusif, bisa jadi lantaran antara binatang yang ada sedang bertengkar, lanjutnya. “Tapi kalau sesama binatang tersebut sudah akur, bisa jadi yang akan menjadi sasaran adalah domba yang berada di tanah lapang,” katanya.

Oleh sebab itu, yang harus disadari semua pihak adalah kembali rukun dan satu langkah. “Yang justru saya khawatirkan, sebagaimana pesan Hadratussyaikh adalah antara ulama berada di satu meja, namun hati mereka justru bercerai-berai,” ungkapnya.

NU bagi Pak Ali, sapaan akrabnya adalah jam’iyah yang menyaratkan ketulusan dan kemurnian jiwa bagi para pengurusnya. “Inilah yang membedakan NU dengan partai politik dan organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang lain,” sergahnya.

“Harapan saya, riak usai muktamar segera disudahi dan seluruh kiai dan ulama dapat bersatu kembali untuk membicarakan tantangan zaman yang semakin berat,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)