Yenny Wahid Dendangkan Tembang Tombo Ati di Gedung UNESCO Paris

Jakarta, Kesunyian malam kota Paris tiba-tiba terbelah oleh suara perempuan melagukan tembang Jawa Tombo Ati.  Berbaju jalabaya putih dan berkerudung putih, putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid, dengan khusyuk melantunkan lagu yang popular di masyarakat Jawa tersebut di hadapan ratusan hadirin dari berbagai negara. 

Aksi Yenny tersebut adalah bagian dari konferensi internasional bertema “Spiritual Islam dan Tantangan Terkini” yang diselenggarakan oleh UNESCO bekerja sama dengan Association Internationale Soufie Alawiyya (AISA), salah satu tarekat terbesar di Aljazair dan Eropa, dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Tarekat Alawi. 

Perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid ini mengaku datang ke Paris diundang oleh Syekh Bentounnes, mursyid atau pimpinan Tarekat Alawiyyah saat ini. Menurutnya, ia adalah seorang figur yang sangat kharismatik dan mempunyai pengikut puluhan ribu di Aljazair maupun negara-negara Arab dan Eropa. 

“Saya tadi sore berbicara dalam sesi mengenai sufisme, lalu malamnya mereka meminta saya untuk berpartisipasi dalam acara spiritual dan kontemplasi sebagai perwakilan dari Islam yang ada di timur. Akhirnya saya pilih menembangkan lagu tombo ati yang lalu diterjemahkan dalam bahasa Prancis setelah saya selesai menyanyikannya,” jelas Yenny selesai acara.

“Setelah itu saya tutup dengan menembangkan sebuah syair berbahasa Arab karena banyak audiensnya yang bisa berbahasa Arab,” tambah Yenny dalam siaran pers, Kamis (1/10).

Ditanya kenapa memilih lagu tombo ati Yenny menjawab bahwa lagu tersebut mempunyai filosofi yang sangat mendalam. “Tadi siang saya berbicara mengenai Islam Nusantara sebagai sebuah contoh nyata adanya ajaran Islam yang damai dan toleran. Dan saya kaitkan budaya kita yang sejuk tersebut dengan pengaruh para sufi sebagai salah satu pembawa masuk Islam ke bumi Nusantara pada abad 14 silam.  Rata-rata hadirin sangat tertarik dengan paparan saya mengenai Islam di Indonesia dan ingin belajar lebih jauh mengenainya.”

Menurut Yenny, tembang Tombo Ati itu adalah simbol dari Islam di Indonesia berisi ajakan kepada manusia untuk berkontemplasi mendekat kepada Tuhannya. “Karenanya sangat pas kalau saya dendangkan lagu itu,” jelas Yenny.

“Alhamdulillah penerimaannya luar biasa. Banyak ibu-ibu tua memeluk saya setalah acara dan bapak-bapak menjabat tangan saya mengucapkan terimakasih karena walaupun tidak mengerti bahasanya, mereka merasa tembang itu sangat menyentuh hati mereka,” kata Yenny. 

Padahal, lanjutnya, di antara para tamu kehormatan banyak syekh-syekh dan mufti serta pemimpin agama dari berbagai negara. Mereka semua ikut mengucapkan terima kasih kepadanya karena lirik lagunya (setelah diterjemahkan) sangat menyentuh.  “Ada grand mufti Bosnia, guru besar Mesir, Syeikha dari Turki, Imam masjid besar Eropa, ahli Islam dari Tunisia, Aljazair, Maroko dan lain-lain,  serta pendeta dan pastor  Afrika yang aktif dalam hubungan antara agama,” imbuh Yenny. 

“Saya sendiri merinding rasanya, bisa kesampaian mendendangkan lagu rakyat kita digedung semegah gedung UNESCO di hadapan ratusan hadirin berbagai negara yang menyesaki gedung, dan dari jendela bisa melihat menara Eiffel, rasanya agak-agak surreal gitu,” gelak Yenny. 

Selain pembahasan mengenai sufisme, koferensi juga menampilkan pameran mengenai sosok Emir Abdel Kader, seorang pemimpin spiritual dan pejuang anti kolonialis Aljazair yang lahir pada abad ke 18.  Banyak pula diulas sosok Syekh Alawy sebagai pendiri tarekat Alawiyyah, salah seorang yang banyak berjasa menyebarkan pengaruh tasawwuf di daratan Eropa. (Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: