Asal Muasal Kata Menara


Sukoharjo,

Alkisah, seorang murid ditugaskan oleh seorang gurunya untuk berdakwah di sebuah daerah, yang masyarakatnya menyembah api atau majusi. Tiba di daerah tersebut, ia tercengang melihat masyarakatnya suatu waktu, pergi berduyun-duyun ke sebuah bangunan yang menjulang tinggi.

“Mereka berduyun-duyun mendatangi bangunan yang sangat tinggi kemudian mereka menyembahnya,” terang PBNU KH Said Aqil Siroj, pada acara pelantikan PCNU Sukoharjo di Gedung Pendhapa Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah., Selasa (26/1) malam.

Namun, setelah diselidiki lebih dekat ternyata yang disembah bukan menaranya, melainkan api yang terdapat di dalam bangunan atasnya. “Makanya disebut dalam bahasa Arab disebut manaaroh, artinya tempat api,” lanjut Kiai Said.

Singkat cerita, sang murid terus melanjutkan dakwah di daerah tersebut. Setelah bertahun-tahun melakukan dakwah, ajaran Islam semakin diterima oleh masyarakatnya. Lalu bagaimana dengan bangunan menara tempat sesembahan kaum majusi?

“Tempat api yang selama ini menjadi tempat sesembahan kaum majusi, tidak dihancurkan, akan tetapi tetap dilestarikan, hingga sekarang,” kata dia.

Menara tadi hanya diubah fungsinya, yang sebelumnya untuk tempat sesembahan digunakan untuk mengumandangkan ajakan shalat. 

“Pada zaman dahulu, menara dinaiki ke atas untuk menngumandangkan adzan, hingga pada perkembangannya menjadi tempat untuk menaruh speaker adzan,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: