Gus Ishom: Pemerintah Harus Turun Tangan Tangani Masalah LGBT


Pringsewu, Dalam perspektif Islam, setiap manusia dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci). Ketidaksuciannya ditentukan oleh pengaruh orang tuanya atau lingkungan pergaulannya. Setiap orang tua berkewajiban menjaga anak-anaknya agar tidak keluar dari wilayah kesuciannya.

Anak-anak wajib diawasi agar anak membiasakan diri dalam kebaikan sesuai tuntunan agama, karena kebiasaan baik tersebut akan tercetak dan terpatri di otaknya. Orang tua, guru dan orang-orang di sekitar juga wajib menciptakan lingkungan pergaulan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Rendahnya kepedulian mereka terhadap anak-anak yang terlahir suci itu sanggup menodai kesuciannya hingga anak mencapai usia dewasa. Keburukan yang terpatri kuat di otak jika telah dibiasakan akan menjadi candu yang amat sulit ditinggalkan, menjadi semacam penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Apa saja yang dianggap sebagai penyakit oleh semua akal sehat dan jiwa yang bersih akan dianggap sebagai bukan penyakit yang oleh karena itu tidak perlu diobati atau disembuhkan.

Hal ini disampaikan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Kamis (11/02/16) mengawali pernyataan dan keprihatinannya terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang sekarang sedang hangat dibahas diberbagai media terkait keinginan untuk mendapat legalitas atau pengakuan dari masyarakat.

“Semua itu bersumber kepada nafsu yang diperturutkan atas nama kebebasan seks yang sebebas-bebasnya, sehingga ajaran suci agama apa pun yang melarangnya tidak lagi dipedulikan,” tegas Gus Ishom – begitu Ia biasa dipanggil – melalui akun facebooknya.

Gus Ishom juga mengingatkan agar mereka yang tidak terlibat LGBT, tidak perlu latah membela dan memperjuangkan legalisasi tujuan mereka yang kini sedang terjebak dan terkurung dalam orientasi seksual “menyimpang” atas nama HAM.

” Yang perlu didukung atas nama HAM justru ketika mereka ingin kembali normal menjadi heteroseksual sebagaimana pada umumnya, sesuai fitrahnya,”  tegas Kiai Muda dari Pringsewu ini.

Menurutnya dibutuhkan motivasi yang kuat dari berbagai pihak–selain dari diri pelaku LGBT–dan lingkungan yang kondusif untuk merubah kebiasaan “negatif” tersebut agar tidak terulang kembali.

Sikap individualisme anggota masyarakat yang semakin menyuburkan perilaku LGBT menurutnya, harus dikikis habis dengan meningkatkan kepedulian untuk saling menasihati agar setiap manusia berada dalam koridor kebenaran (tawashau bil-haqqi). Dalam kesabaran (tawashau bish-shobri) dan dalam koridor saling mengasihi (tawashau bil-marhamah) dan tentu saja amar makruf dan nahi munkar tidak boleh diabaikan.

“Sementara dalam konteks ke-Indonesia-an yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, setiap anggota legislatif, wakil rakyat, tidak dibenarkan untuk mengabulkan tuntutan legalisasi apa saja yang berkaitan dengan LGBT, seperti tidak berupaya membuat aturan yang mengesahkan pernikahan sejenis dan sebagainya ” tegasnya.

Bahkan menurut Gus Ishom, pemerintahan negara kaum beragama ini, bukan sekadar mengawasi, tetapi harus segera turun tangan dengan tegas dan berani menindak setiap warganya yang terlibat dalam jaringan yang bertujuan mengabsahkan LGBT. Selain itu juga mencegah terwujudnya komunitas LGBT yang kini semakin nekat muncul terang-terangan tanpa rasa malu.

” Setiap individu yang terlibat LGBT mungkin telah mengetahui bahwa perbuatannya itu diharamkan oleh agama yang dianutnya, dan pasti terbersit dalam hati kecilnya untuk hidup normal sebagaimana orang banyak,” ungkapnya.

Oleh karena itu Gus Ishom mengimbau agar kelompok ini tetap harus memperoleh kasih sayang, tidak boleh dikucilkan dari pergaulan apalagi menjadi sasaran ejekan dan penghinaan. Keyakinan atau keimanan beragama mereka harus ditumbuhkan dan diperkokoh sehingga mereka bertaubat, menyesali dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi apa yang bertentangan dengan bisikan hati nuraninya sendiri.

” Perlu disadari, bukanlah hal yang mudah untuk berhenti dari kebiasaan buruk itu, namun jika masih ada kemauan maka terbuka lebar seribu jalan kebajikan. Kesembuhan hanya diberikan kepada siapa saja yang punya keinginan kuat dan upaya yang tak kenal lelah untuk hidup sehat dan normal kembali,” pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)