Inilah 9 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Thariqah dari Berbagai Negara


Pekalongan,

Konferensi Ulama Thariqah yang digagas Rais Am Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfy bin Yahya yang berlangsung Jum’at (15/1) di Hotel Santika Pekalongan, Jawa Tengah, menghasilkan 9 konsensus.

Kesembilan konsensus tersebut ditandatangani Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (Indonesia), Dr. Syekh Muhammad Adnan al-Afiyuni (Syuriah), Dr. Syekh Aziz al-Idrisi (Maroko), Prof. Dr. Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani (Turki). Kemudian Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya (Yaman), Dr. Syaikh Aziz Abidin (USA) dan Syekh ‘Aun Mu’in al-Quddumi (Yordania)

Lahirnya sembilan konsensus ini dilatarbelakangi masalah bela negara yang digagas oleh Menteri Pertahanan (Menhan) RI Jendral TNI (Purn) Riyamizard Ryacudu mendapat pro dan konttra. Beredar pemahaman bahwa bela negara hanya sebatas melawan musuh, menjaga batas tutorial, dan mewujudkan keamanan dan keselamatan seluruh warga negara saja. Padahal, konsep negara lebih luas dari itu.

Bela negara mempunyai semangat tinggi memajukan dan memakmurkan negara serta mengupayakan ketercukupan dan kemandirian dalam berbagai kehidupan sehingga negara tidak mengalami ketergantungan dengan pihak lain. Mempunyai semangat tinggi untuk memperkuat solidaritas dan soliditas di antara komponen bangsa dalam menghadapi kesulitan, tantangan yang dihadapi bangsa,yang seakan-akan semuanya adalah satu kesatuan tubuh yang tak terpisahkan. Selain itu juga menyebarkan budaya persaudaraan yang penuh cinta kasih di antara seluruh warganya.

Bela negara juga bisa dilakukan dengan cara melindungi warganya dari berbagai model pemikiran dan pemahaman yang menyebabkan timbulnya perpecahan, disintegrasi, pengkafiran dan pelanggaran terhadap hak hidup manusia. Pemikiran dan pemahaman yang melenceng punya kecenderungan mendorong seseorang untuk melakukan pengrusakan, penumpahan darah, perampasan harta dan merendahkan harkat kehormatan manusia. 

Hal ini disebabkan pemahaman yang salah dan pentakwilan distorsif atas teks-teks keagamaan.  Pemikiran dan pemahaman yang melenceng ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan tentara imperalis-penjajah- asing yang merebut tanah air kita. Kedua hal itu menyebabkan negara menjadi hancur, warga negara menjadi terinjak-injak martabatnya dan nilai-nilai mulia serta ajaran agama dihina dan direndahkan.

Bela negara juga bisa dilakukan dengan cara berkomitmen tinggi untuk menjauhkan bangsa dan negara dari ancaman perang saudara, disintegrasi, kekacauan dan kesulitan-kesulitan yang penyebabnya sebenarnya hanyalah kepentingan dan hawa nafsu pribadi dan kelompok.

Bela negara juga bisa dilakukan dengan cara melindungi negara dari ancaman kemiskinan, ketidakberdayaan dan ketergantungan ekonomi dan politik terhadap pihak lain. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengelola dan memanfaatkan secara optimal kapasitas sumber daya alam dan energi yang dimiliki dan membangun kemandirian dalam berbagai bidang sehingga tidak mengalami ketergantungan dengan pihak lain.

Habib Luthfi bin Yahya tidak menyetujui bahwa bela negara itu diartikan wajib militer.  Karena bela negara sesungguhnya bisa dilakukan dengan cara-cara memajukan Pendidikan, ekonomi dan pertanian.

Sembilan konsensus Ulama Thariqah antara lain:

Pertama, negara adalah tempat tinggal di mana agama diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, bernegara merupakan kebutuhan primer dan tanpanya kemaslahatan tidak terwujud.

Ketiga, bela negara adalah di mana setiap warga merasa memiliki dan cinta terhadap negara sehingga berusaha untuk  mempertahankan dan memajukanya.

Keempat, bela negara merupakan suatu kewajiban seluruh elemen bangsa sebagaimana dijelaskan Al-Quran dan Hadis.

Kelima, bela negara dimulai dari membentuk kesadaran diri yang bersifat ruhani dengam bimbingan para ulama.

Keenam, bela negara tidak terbatas melindungi negara dari musuh atau sekedar tugas kemiliteran, melainkan usaha ketahanan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, politik, pertanian, sosial budaya dan teknologi informasi.

Ketujuh, bela negara menolak adanya terorisme, radikalisme dan ekstremisme yang mengataasnamakan agama.

Kedelapan, untuk mewujudkan bela negara dibutuhkan empat pilar, yaitu ilmuwan, pemerintahan yang kuat, ekonomi dan media.

Kesembilan, menjadikan Indonesia sebagai inisiator bela negara yang merupakan perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin. (Abdul Muiz/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: