Konferensi Pers Apel Kebhinekaan Lintas Iman Bela Negara



Usaha untuk mencegah, mewaspadai dan
membendung serta melawan radikalisme, terorisme dan narkoba tidak hanya
menjadi tugas aparat keamanan dan pemerintah, tetapi membutuhkan peran
serta dan partisipasi seluruh pihak. Karena hanya dengan kebersamaan dan
sinergitas yang kuat antara negara dan masyarakat, radikalisme,
terorisme dan narkoba akan sulit berkembang di Indonesia. Sikap
Ketidakpedulian dan sifat acuh tak acuh masyarakat terhadap realitas
sosial, yang dapat memberi ruang dan membuka peluang bagi tumbuh dan
berkembangnya radikalisme, terorisme dan narkoba di Indonesia harus
segera di Akhiri.

Upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan dan ke
Indonesian dengan memberikan pemahaman dan penguatan nasionalisme dan
kebhinekaan merupakan ikhtiar mendesak harus yang harus ditempuh oleh
pemerintah, sembari mengkonsolidasikan simpul-simpul kebhinekaan dan
komunitas umat beragama, disamping solusi penegakan hukum dan ketegasan
sikap dari keamanan yang berwenang. Oleh karenanya radikalisme,
terorisme dan Narkoba menjadi gangguan yang harus segera diberantas.

Sebagai
sebagai negara yang memiliki Keragaman bahasa, agama, suku,
adat-istiadat, ras, Indonesia telah mampu menunjukkan kepada dunia akan
potret kehidupan bangsa dalam harmoni. Keberagaman yang ada merupakan
salah satu tonggak dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia.

Demikian halnya Kebhinekaan yang ada telah mampu
mewujudkan nasionalisme untuk hidup dalam semboyan “bhineka tunggal ika”
dengan saling menghargai, menghormati, dan mengakui adanya keberagaman
dan perbedaan. Saat ini, Kebhinekaan Indonesia dan kesatuan Indonesia
penting untuk dimantabkan dan dipererat kembali dengan mematangkan
pendidikan melalui design kebhinekaan yang mengintergrasikan seluruh
aspek pendidikan nilai, pengetahuan, dan keterampilan hidup manusia
dalam masyarakat yang multikultur.

Pendidikan tersebut penting
dilakukan karena merujuk pada fakta bahwa Bhineka Tunggal Ika kini mulai
luntur, banyak anak muda yang tidak mengenalnya dan banyak orang tua
lupa akan semboyan ini, atau banyak yang pura-pura lupa, sehingga ikrar
yang ditanamkan jauh sebelum Indonesia Merdeka perlahan lahan memudar.

Fenomena
tersebut ditandai dengan seringnya Indonesia mengalami guncangan
disintegrasi bangsa dengan maraknya kekerasan antara suku, konflik yang
berlatarbelakang agama,dan lain sebagainya. Persoalan ini tentunya harus
menjadi perhatian khusus bagi seluruh stake holder bangsa karena
kebhinekaan adalah aset dan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia.

Selain itu karakter bangsa khususnya karakter
generasi muda bangsa Indonesia harus dibentuk kembali agar lebih kuat
lagi dalam mencintai perbedaan dan kberagaman. Sehingga terwujud
masyarakat yang aman, tenteram, dan damai. Wajah Indonesia yang akan
datang tecermin dari wajah para pemuda, pelajar, santri, mahasiswa dan
komunitas lintas Iman saat ini. Kejayaan bangsa di masa yang akan datang
juga bergantung kepada komitmen mereka saat ini. Karena itu, upaya
untuk mengedukasi pemuda, pelajar, santri mahasiswa dan komunitas Lintas
Iman sangat mendesak dilakukan, mengingat mereka adalah pejuang masa
depan Indonesia. Tidak dapat dibayangkan bagaimana kondisi masa depan
Indonesia, bila generasi masa depan Indonesia terjebak pada kubangan
radikalisme, terorisme dan narkoba.

Maka dari itu, untuk
menggerakkan perubahan di negeri ini penting untuk dimulai dari
penguatan visi kebangsaan Indonesia yang damai dan toleran. secara
berkesinambungan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi harus
terus dipupuk. Sehingga kesatuan dan persatuan bangsa dalam bingkai
kedaulatan NKRI dapat terjaga.

Disisi lain, ancaman, tantangan
gangguan dan hambatan terhadap kedaulatan bangsa Indonesia, telah
berkembang menjadi multi dimensi, dari yang bersifat fisik sampai yang
bersifat non fisik. Demikian halnya karakter ancaman yang berasal dari
dalam maupun luar negeri dapat bersumber dari ideologi, politik, ekonomi
sosial budaya yang beranekaragam. Oleh karenanya sudah saatnya bangsa
Indonesia melakukan redefinisi dan revitalisasi pemahaman tentang Bela
Negara.

Bela Negara yang memiliki spektrum yang sangat luas di
bebagai bidang kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, sosial dan
budaya. Bela negara yang dapat dilakukan oleh setiap warga negara dari
berbagai latar belakang profesi. Bela negara yang bisa diwujudkan dalam
berbagai usaha dari melawan kemiskinan, kebodohan keterbelakangan,
ketergantungan dan juga dalam melawan kejahatan internasional terorisme,
illegal fishing dll, sampai pada segala usaha melawan kejahatan
kemanusiaan yang dilakukan oleh aktor non-negara.

Demikian
halnya Bela Negra yang dapat dilakukan dengan menjaga kelangsungan hidup
sebagai bangsa dengan menintegrasikan seluruh kekuatan rakyat untuk
menjaga Kedualatan NKRI. Oleh karenanya Komunitas Lintas Iman dan para
pemimpin agama sebagai kekuatan moral diharapkan menjadi ujung tombak
bagi terwujudnya kehidupan yang harmonis dan menjadi penggerak Bela
Negara. Mendasar pada hal tersebut diatas, Organisasi Organisasi
Keagamaan (Faith Base Organization) di Indonesia bermaksud
menyelenggarakan APEL KEBHINEKAAN LINTAS IMAN BELA NEGARA.

Dengan ini:

1.
PBNU, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI WALUBI, LPOI dan Organisasi Kepercayaan
Mengundang Seluruh Umat dan warga Bangsa serta Komunitas Media Untuk
Hadir dan Mensukseskan Acara Apel Kebhinekaan Lintas Iman Bela Negara
pada Hari Minggu tanggal 17 Januari 2016 Jam 13.00-17.00 Di lapangan
Banteng Jakarta Pusat.

  1. PBNU, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI,
    LPOI dan Organisasi Kepercayaan menyerukan kepada seluruh umat dan warga
    bangsa untuk tidak takut dan bersama-sama melawan radikalisme terorisme
    dan narkoba. Dengan membangun kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini serta
    sinergi dengan seluruh stakeholders bangsa.

  2. PBNU, KWI, PGI,
    MATAKIN, PHDI, WALUBI, LPOI dan Organisasi Kepercayaan Menyerukan kepada
    seluruh Umat dan warga bangsa untuk Meningkatkan Kesatuan dan Persatuan
    dalam bingkai kebhinnekaan dan memperkokoh persaudaran.

  3. PBNU,
    KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI, LPOI dan Organisasi Kepercayaan
    Mendesak kepada pemerintah untuk menindak dengan tegas dan memberantas
    pelaku teror dan teroris, membubarkan organisasi organisasi Radikal
    serta memperkuat sistem pertanahan dan keamanan bangsa dengan melakukan
    tindakan pencegahan dini dan berkolaborasi dengan seluruh organisasi
    masyarakat sipil.  

  4. PBNU, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI,
    LPOI dan Organisasi Kepercayaan menyerukan untuk melakukan pertaubatan
    nasional dan lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang
    Maha Esa.

  5. PBNU, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI, LPOI dan
    Organisasi Kepercayaan menyerukan kepada seluruh warga dunia untuk
    bersatu padu melawan radikalisme Terorisme dan narkoba.  

Jakarta 15 januari 2016

 

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)