Menemui Nabi Hud di Lembah Hadhramaut



Saat itu malam masih pekat, hawa begitu dingin menyapa, mata terbuka saat jam dinding baru mendaratkan jarumnya tepat di angka 2, saat-saat di mana mata ini masih ingin dimanja oleh keempukan pembaringan. Dalam hening tanpa angin, dalam sunyi yang dingin, mobil dan bus mulai menyalakan mesin. Yah, sebuah perjanjian untuk berziarah dini hari ini sudah terjadwal.Berusaha bangkit mengusap keletihan mata, mencoba mengusapkan air wudhu’ di hamparan muka. Kamar mandi yang diam sejak tadinya, kini mulai bernyanyi menyenandungkan percikan air mereka yang sedari lama menanti. Selangkah demi selangkah, seorang demi seorang hingga rampung sudah, kamar mandi menyepi kembali untuk kesekian kalinya. Mereka yang berpakaian serba putih bertekuk lutut di hadapan Tuhannya, tampak begitu tenang, khusyu’ dalam peribadahan dengan beberapa doa yang dipanjatkan dalam penuh kabul yang diharapkan.

Kami pun keluar untuk persiapan, kulihat wajah langit masih kelam namun ada sedikit taburan cahaya yang menemaninya. Perlahan tapi pasti, Rembulan dan Bintang Gemintang memudar silih berganti, tenggelam beriringan, tanpa membekaskan secercah cahaya namun masih menyisakan banyak kerinduan. Udara yang dingin kian lama menghangat tercampur desah napas saat kami memasuki bus sedangkan AC belum ternyalakan. Jam digital bus menunjukkan angka 02.30 a.m., ini artinya bus harus segera menggerakkan roda-rodanya yang hampir beku semalaman karena terselimut angin lembah di luar rumah.

Diam-diam aku pejamkan mata agar perjalanan ini tak melelahkan, agar jarak yang cukup jauh bisa terlipatkan. Tiba-tiba saja bus yang kami naiki berhenti, aku kira kenapa. Pantas saja, tuturku dalam hati. Jam digital bus menunjukkan angka 03.30 a.m., itu artinya kami telah tiba di tujuan utama, Kota ‘Inat. Yah, untuk meziarahi Syekh Abu Bakar bin Salim, seorang wali besar dari keturunan Sang Nabi, beliau hidup di Abad ke 9 Hijriyah. Dan beliau juga membuat tradisi baru pelaksanaan ziarah Nabi Hud a.s. di bulan Sya’ban. Meski sebenarnya ziarah Nabi Hud a.s. sudah ada sejak 4000 tahun silam.

Penuh Khusyu’, Yasin secara serentak terlantunkan dari lisan kami dengan sedikit kantuk. Doa dan Tawassul terus terpanjatkan hingga pimpinan rombongan melantangkan ucapannya dengan kata “Al-Fatihah”. Sayup-sayup hening suasana pemakaman, pasir putih yang dingin, kubah-kubah tanah yang berjejer, tertiup merdu oleh lantunan qashidah seorang mahasisawa asal Jeddah, Saudi Arabia.

Selepas memberikan takzim terakhir kepada Syekh Abu Bakar bin Salim, kami melangkahkan kaki menuju masjid di sebelah pemakaman. Jam di ponselku menunjukkan pukul 04.00 a.m, itu artinya adzan Shubuh sudah waktunya dikumandangkan. Liuk-meliuk penuh semangat, menara-menara masjid se-Kota ‘Inat melantunkan adzannya. Sebagian kami bergegas menuju kamar mandi, ada yang sekadar memperbarui wudhu’nya, ada pula yang menuntaskan hajatnya. Semua anggota rombongan yang nyaris genap 50 orang itu secara serentak meneriakkan takbir sambil mengangkat kedua tangan di belakang Imam. Shalat Shubuh di tengah hening pagi yang masih gelap. Selepas shalat, kami pun lanjutkan perjalanan menuju ke Lembah Hud, sedangkan jam yang berkelap-kelip di bagian depan bus memberi isyarat angka 04.30 a.m.. Ya, perjalanan menuju ziarah dilanjutkan kembali.

Saat itu punuk-punuk perbukitan Lembah Hadhramaut masih tertidur pulas, terpoles embun-embun pagi yang nyaris beku lantaran tak berjumpa mentari. Udara yang sengang, sunyi tak bersuara. Kiri kanan jalan terpagar rapi oleh bukit-bukit terjak yang ringgi menjulang. Sepanjang jalan dari ‘Inat ke Lembah Hud, kami hanya ditemani oleh sapaan bukit-bukit batu berpasir yang bisu itu.

Beberapa wirid yang sempat kami tunda setelah shalat Shubuh, kami lanjutkan lantunannya di dalam bus. Suasana yang mulai tak asing bagi kami, serentak menyuarakan wirid dari atas kursi-kursi yang tak cukup empuk, maklum ini adalah bus bukan mobil eksekutif.

Diam-diam mataku terlelap menemani perjalanan ini, ah biarkan saja ungkapku perjalanan masih dua jam lagi dengan kecepatan 100 kilometer/jam. Menjelang pukul 06.30 a.m., mataku mulai membuka kelopaknya setelah begitu redup aku tenggelam dalam mimpi. Cahaya mentari sudah tampak menguning keemasan menyapa pundak perbukitan Lembah Hud. Tambah dekat, tampak rumah-rumah pemukiman dan pasar dadakan di sekiling jalan. Yah, ini adalah area Makam Nabi Hud a.s., sebuah area yang hanya dihuni di bulan Ziarah, yaitu pertengahan akhir Rajab dan pertengahan awal Sya’ban.

Turun dari bus, memasuki rumah tanah yang berloteng. Menaiki loteng dan menghirup udara segar lembah yang asri. Ramai-ramai orang memadati area pemakaman tanpa ada isyarat, namun sedikit tertib menempati jalurnya masing-masing. Teh susu yang sudah disiapkan sejak sebelum kami tidur semalam, kini mulai dipanaskan kembali di atas kompor gas berlobang satu arah di atas tabung kecil. Hangatnya teh susu telah mencairkan nafas kami yang nyaris membeku karena udara lembah di pagi ini. Setiap orang mengambil sepotong roti panjang, dengan sebutir telor rebus dan sambel abc sashet, kamipun melahap dengan sekasama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dari atas loteng, perbukitan yang curam, perkebunan yang rindang, serta area pemakaman yang kian tersesakkan, tak kami lupakan untuk diabadikan dalam album kenangan. Suara jeprat-jepret dari satu hp ke hp lainnya, sahut-menyahut beriringan, tampak paduan suara saja. Namun sayang, foto sebagus apapun tak bisa langsung kami unggah ke media sosial, di sini tak ada jaringan telepon, tidak GSM tidak pula CDMA, karena area ini tak berpenduduk kecuali di musim ziarah, kami pun maklumi itu.

Sebanyak 47 orang yang berangkat ziarah itu terkotak-kotak menjadi 5-6 orang per grup. Hal ini dirasa akan mempermudah pengawasan di tengah desak-sesak keramaian ribuan peziarah. Setiap grup memiliki satu pimpinan, di mana dia bertanggung jawab penuh mengawal grupnya dan harus pulang bersama tepat jam 10.30 a.m. kembali ke rumah tanah ini.

Setiap grup mulai bergerak satu persatu, sesuai aba-aba dari awal setiap grup diperkenan mengikuti Maulid dan Rombongan besar prosesi ziarah tersebut. Ada rombongan di bawah panji Syekh Abu Bakar bin Salim yang dipimpin oleh Habib Umar Bin Hafiz. Ada pula Maulid-maulid yang dipimpin oleh ulama lainnya di area yang sama dan di lokasi yang berbeda. Ada yang memulai tuk berendam dulu di Sungai Al-Hafif, sungai yang sering dijadikan mandi oleh para Ulama’ dan Wali bilamana mereka berziarah. Saya pun menjadi salah satu dari yang merendamkan dirinya di tengah sejuknya air Sungai Al-Hafif.

Selepas berendam dan berwudhu, kami naik ke pelataran sungai yang sudah disiapkan mushala di sampingnya. Orang-orang melaksanakan shalat Dhuha sambil lalu menunggu rombongan Habib Umar bin Hafiz. Dalam hening gerakan shalat, tiba terdengar suara rebana tertabuh dengan semangat, lantunan Qosidah mengudara di Lembah Hud, rombongan Habib Umar datang membawa sekitar 5 panji. Hanyut dalam dzikir dan doa bersama, rombongan dilanjutkan menuju Makam Nabi Hud a.s.

Sesak penuh keringat, jalan-jalan mulai tertutup rapat oleh peziarah. Maju kena mundur kena, bak suasana di terowongan mina kala haji. Untungnya tak ada satupun orang yang jatuh terinjak-injak. Dalam cucuran keringat, rombongan terhenti di deoan Sumur Taslum. Salam-salam dipanjatkan untuk Baginda Rasulullah SAW, para rasul dan para wanita pimpinan wanita surga.

Rombongan kembali menggemakan nasyid, mengudara memenuhi lembah Hud. Sedikit menukik, menanjak dan sedikit terjal. Rombongan terus naik ke lereng bukit. Sampai di Kubah Makam Nabi Hud a.s., penuh khidmat semua peziarah memberi hormat. Dilanjut doa, dzikir dan tawassul. Semua khusyu’ dalam doa di bawah terik mentari yang kian menyengat. Shalawat dan qashidah terus berkumandang. Hingga Habib Umar turun ke Masjid di samping Makam. Beliau memberikan tausiyah, dilanjutkan oleh Habib Abu Bakar Al-Masyhur, beliau berdua adalah Singa Podium yang kian sering berkunjungke Indonesia belakangan ini, berusaha kembali menyambung hubungan Islam Indonesia yang berakar dari Islam Hadhramaut.

Menjelang dzuhur kurang satu jam, jama’ah ziarah pun bubar entah ke mana. Ada yang masih menginap, ada pula yang langsung pulang. Kami pun kembali ke rumah tanah tadi. Istirahat sejenak, kemudian melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar yang dijamak, setelah beberapa saat suara adzan melantun di udara yang sesak. Selesai Shalat, ada ayam goreng menanti di atas talam yang penuh nasi, cukup untuk 5 orang dengan sambal merah yang serasi. Selepas makan, berdiam tenang memegang ponsel sambil melepas keletihan. Jam 02.45 p.m., bus berputar balik menuju kita Tarim dan mata ini kembali meredup di tengah goncangan ban-ban bus yang tak ramah, namun tetap saja mata ini tak mampu mengangkat kelopaknya hingga jam di bus menunjukkan angka 04.12 p.m., sedangkan bus telah berhenti di depan asrama. Letih dengan sejuta harap dan kenang, semoga ziarah ini Allah terima sebagai Ibadah yang Ikhlas, Aamiin.

Tarim, Selasa 10 Sya’ban/17 Mei 2016

Imam Abdullah El-Rashied, Mahasiswa Fakultas Syariah di Imam Shafie College, Hadhramaut

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)