NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik



Sumedang,
Pengurus Cabang Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat kembali mengadakan Pelatihan Muharrik Masajid di Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, Selasa (26/1).

Ketua LTMNU Eman Sulaeman mengatakan, muharrik (penggerak) masjid adalah orang yang bertugas mengatur dan menggerakan para pengurus takmir masjid dengan memanfaatkan segala sumber daya dan dana yang dimilki oleh masjid bersangkutan.

Seorang muharrik, katanya, juga membantu pengurus takmir masjid untuk memahami dan menghadapi kesulitan dan tantangan yang dihadapinya. “Jadi seorang muharrik tidak hanya memberi rekomendasi dan melakukan presentasi, akan tetapi dituntut selalu tampil dalam proses implementasi. Ia berperan sebagai pendamping takmir dalam mengimplementasikan agenda revitalisasi masjid,” terangnya.

Pengurus LTMNU kini sedang melakukan pendataan terhadap masjid NU. Eman bersyukur pihaknya sudah berhasil memberikan surat keputusan (SK) masjid-masjid di empat kecamatan di Sumedang.

“Dan ini menjadi program prioritas LTMNU untuk terus meng-SK-an masjid-masjid di Kabupaten Sumedang. Sehingga kita dapat mengetahui jumlah masjid-masjid NU itu ada berapa, tipologinya seperti apa di Sumedang ini. Di samping bertujuan untuk membentengi dari paham-paham yang menghancurkan paham Ahlusunnah wal Jama’ah,” katanya.

Pendidikan bagi para penggerak masjid ini dihadiri 50 orang. Hadir sebagai pemateri Ketua PCNU Sumedang H Sa’dulloh. Menurutnya, jumlah masjid yang begitu banyak membuktikan bahwa keberadaan tempat ibadah ini sangat penting di mata umat Islam.

Di negeri yang dihuni mayoritas umat Islam ini, sambungnya, jumlah masjid dan mushala mencapai 1.070.000. Jumlah tersebut berdasarkan data Kementerian Agama RI pada tahun 2009. Sementara, berdasarkan data Lazuardi Biru tahun 2010, kurang lebih 80 persen masjid di Indonesia menggunakan amaliyah ala NU dalam hal beribadah, misalnya qunut saat shalat subuh, wirid setelah imam salam, adzan jum’at dilakukan dua kali, dan sebagainya. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)