PC PMII Jombang Sinyalir Pemimpin Mumpuni

Jombang, Hannan Hanafi, Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Jombang, asal Komisariat Pattimura STKIP Jombang disinyalir calon Ketua Umum (Ketum) PC PMII Jombang periode 2015-2016 yang mumpuni. Pasalnya selain pengalaman berorganisasi yang cukup lama, juga memilki jaringan yang baik dengan beberapa Pengurus Komisariat (PK) di Jombang.

Di samping itu ia mengaku sebagian senior dan alumni PMII Jombang telah mendorongnya untuk mencalonkan diri sebagai pimpinan cabang PMII Jombang. Dukungan dari beberapa pihak tersebut membuat dirinya optimis dalam memimpin PMII Jombang ke depan. “Ada sebagian senior Pattimura dan dosen kampus saya yang memberikan sinyal untuk saya dalam pencalonan ketum,” katanya, Selasa malam (12/1).

Sesuai hasil rapat koordinasi kepanitiaan Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Jombang XXV. Permusyawaratan tertinggi di tingkat cabang ini akan digelar pada ahir Januari selama dua hari, (29-30/1/2016) di Aula Kampus Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng, Jombang.

Dalam waktu yang tidak lama ini Hanafi mengungkapkan akan membuat forum diskusi dengan segenap senior dan alumni Pattimura untuk memantapkan pencalonannya. Sebab sebelumnya tidak ada rencana mencalonkan diri sebagai Ketum. “Paling tidak nanti ada forum khusus untuk mempertemukan senior dan almni, itu lebih baik dalam mengambil kesimpulan,” tuturnya.

Saat ditanya terkait visi misi untuk PMII Jombang ke depan, mahasiswa kelahiran tahun 1992 itu menyatakan akan membangun kesolidan warga PMII Jombang secara keseluruhan tanpa ada diskrimanatif dan embel politis baik dalam pendampingan atau pengayoman kepada pengurus komisariat dan rayon se-Jombang. 

“Komisariat dan rayon se-Jombang itu harus semua diayomi, tidak bisa membeda-bedakan antar komisariat yang satu dengan yang lain. Hal ini akan merusak solidaritas dan soliditas PMII sebagai organisasi kaderisasi,” ulasnya.

Di sisi lain ia mengungkapan tiak ada ambisi pada sebuah jabatan, kader asal komisariat manapun yang menduduksi sebagai ketum, hendaknya tetap memperhatikan kaderisasi yang sifatnya massif dan merata. Budaya menjanjikan kedudukan yang strategis sebagai alat kendaraan politik mulai dihilangkan. “Sangat bahaya untuk masa panjangnya menjanjikan sebuah jabatan-jabatan pada calon pengurus cabang, budaya itu harus mulai dirubah dengan pola komunikasi yang sehat dan demokratis,” ungkapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: