Program Pengurus Baru PMII Subang, Tangkal Radikalisme


Subang,

Toto Taufiq Munajat terpilih menjadi Ketua Umum terpilih Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Subang masa khidmat 2016-2017. Terpilihnya Toto tertuang dalam hasil sidang Konferensi Cabang (Konfercab) ke-12 PMII Cabang Kabupaten Subang yang dilaksanakan di Auditorium MTs Darul Ma’arif, Pamanukan, Subang, Ahad (17/1/2016).

Dalam sidang tersebut, Toto terpilih secara aklamasi setelah mengantongi seluruh suara di sidang Konfercab, yakni empat suara Pengurus Komisariat (PK) di Kabupaten Subang, diantaranya Komisariat Universitas Subang, STAI Miftahul Huda Subang, STKIP/STMIK Subang, dan STIE Miftahul Huda Subang.

Toto menggantikan Ketua Umum PMII Subang sebelumnya, Abdun Nasir yang dalam pandangan umum Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) nya  diterima oleh forum. 

“Kedepan, PMII akan menjadi organisasi ekstra kampus yang betul-betul mengedepankan azas keadilan, kesetaraan dan mendorong pemerintah dalam pembangunan di daerah dengan kritis transformatif,” ujar Toto dalam sambutannya.

Dikatakan, selama periode satu tahun kedepan, pihaknya akan fokus membenahi program-program PMII sebagai organisasi kaderisasi tersebut. “Termasuk akan terlibat secara langsung baik dalam isu lokal maupun nasional,” katanya.

Dirinya juga menekankan kepada jajaran kepengurusan ke depan agar bisa merealisasikan program kerja yang belum terlaksana dan menggagas program kerja yang akan disiapkan selama satu tahun kedepan, terutama soal pentingnya memberikan pemahaman kepada masyarakat ihwal pentingnya menjaga nilai-nilai pancasila dan NKRI.

“Apalagi, Kabupaten Subang kini menjadi sorotan terkait keberadaan teroris yang cenderung berkedok agama. Ternyata salah satu pelaku teroris itu ada yang berasal dari Kabupaten Subang. Ini menjadi tugas utama kita dalam memberikan pemahaman Islam Rahmatan Lil’aalamien kepada masyarakat,” katanya.

Terkait dengan keberadaan teroris tersebut, Toto menegaskan kedepan akan bekerjasama dengan seluruh elemen masyarakat terutama dengan unsur pimpinan daerah guna menangkal aksi radikalisme yang menjadi ancaman bersama itu.

“Walau bagaimanapun juga, kekerasan atas nama agama itu tidak dibenarkan. Karena, pada prinsipnya agama justru memberikan kedamaian, ketentraman, dan keselamatan untuk sekalian alam. Jadi, masyarakat dalam hal ini harus diberikan pemahaman terkait dengan aksi radikalisme itu jangan sekali-kali membawa simbol-simbol agama,” pungkasnya. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this: