Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara


Pekalongan,

Syech Azis Al-Kubaithi Idrisi berpendapat, jika ingin membangun negara yang kuat dan beradab harus dimulai dengan membangun manusianya. Kenapa memulai pembentukan Negara dari jiwa warga negara yang sehat secara personal? Karena Allah tidak akan mengubah suatu kaum suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Untuk mengubah suatu kaum memang harus memulainya dari jiwa masing-masing pembentuk kaum itu.

Dikatakan Syech Azis, jika yang sehat adalah jiwa yang memulai dari kesehatan hati (kalbu). Nabi bersabda: “Jika seorang melakukan maksiat, akan muncul satu titik hitam di hati. “Makin banyak maksiat yang ia lakukan, makin hitam pula kalbunya. Apa bahayanya? Jika kalbu makin hitam, maka ia kalbu maridl (sakit) yang sudah gelap dari cahaya kebenaran. Ia kesulitan menerima maupun melakukan amal. 

Hal tersebut dikatakan Syech dari Moroko ini dihadapan ratusan peserta Konferensi Ulama Thariqah yang diselenggarakan Kanzus Shalawat Pekalongan, Jum’at (15/1) dengan tema “Bela Negara, Konsep dan Urgensinya Menurut Islam”.

Lebih lanjut Syech Azis mengatakan, jika akal terlalu sering dipakai untuk melakukan hal-hal buruk, maka ia akan kian hitam dan gelap. Semakin ia gelap, maka semakin sulit seseorang untuk berpikir waras atau mengontrol dirinya. Jika akal sudah dipenuhi syahwat, dan sulit berpikir waras, seluruh anggota badan akan tunduk dan melakukan keinginan akal. “Tidak hanya itu, akal yang sudah tenggelam dalam gelimang maksiat, maka akan sulit menerima saran, apalagi Nur Illahi,”ujarnya.

Syech Azis berpesan, apa yang harus dilakukan ketika akal sudah jauh dalam kegelapan seperti ini? Lawan prangka buruk dan meminta perlindungan melalui tadabbur. Dimulai dari husnudzon kepada sesama muslim, kemudian seluruh umat manusia; lantas bertadabbur akan dirinya sendiri. Lalu akal dipakai untuk tadabbur tentang Allah dan sunnatullah. Langkah ini akan memulai pembersihan akal dari kegelapan. Hasilnya adalah akal yang thahir (bersih), yaitu akal yang fana di dalam kesaksian dan hadir dalam kebersamaan.

Beberapa nara sumber lain yang turut memberikan kontribusi pemikiran ialah Syech Adnan Al Afiyuni (Mufti Syafi’yyah Syria), Syech  Aziz al Idrisi dari Maroko, Syech Aziz Abidin dari Amerika Serikat, Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya dari Yaman, dan Syech Aun al Qaddumi dari Yordania. Kemudian Syech Umar Hadhrah (Sudan), dan Syech Fadhil (Turki).  

Bela negara bukan soal militer

Sementara itu, Habib Luthfy bin Yahya dalam penutupan konferensi mengatakan, bela negara bukan soal militer, ini salah persepsi yang terjadi selama ini. Tapi Hanggarbeni (rasa memiliki), mencintai negara, penguatan negara, inilah bela negara. 

“Kenapa Konferensi Thariqah diselenggarakan? Tidak lain adalah Indonesia biar menjadi contoh dalam hal mencintai negara. Masyarakat Suriah mencintai negaranya, masyarakat Maroko mencintai negaranya, masyarakat Lebanon mencintai negaranya,” ujar Rais Am Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) ini. 

Dikatakannya, bela negara tidak hanya di militer, namun ada juga pada mencetak ilmuan, saintis, lewat pendidikan, dan lain lain agar tercipta kedamaian dunia. Kita tahu peta Indonesia. Tapi kita hanya tahu negara ini makmur, subur, tapi tak sedikitpun melihatnya sebagai negara strategis. Kita dari kecil kurang diberi pengertian tentang negaranya sendiri, oleh karenanya semangat membelanya kurang.

Menurut Habib Luthfy, tentara bukanlah instansi terpisah dari masyarakat. Mereka adalah bagian dari warga ini juga. Allah berfirman, kita diciptakan untuk saling mengenal. Tapi tidak sekadar mengenal, melainkan mengenal hingga mengikat satu kesatuan. Satu kesatuan yang membentuk semangat persatuan dalam bangsa, dan mengikat persatuan antar negara di dunia. Semoga keputusan Konferensi Thariqah menelurkan cinta negara adalah wajib, bela negara pun wajib. (Abdul Muiz/Fathoni)

Sumber: NU Online

%d bloggers like this:
:)