Aplikasi Kencan dan Streaming Diprediksi Bakal Mendominasi

                             Manusia modern semakin bergantung pada aplikasi mobile. Dalam lima tahun terakhir, pendapatan toko aplikasi mobile secara keseluruhan mencapai 101 miliar dollar AS atau setara Rp 1.352 triliun. Hal itu tak lepas dari ekosistem mobile digital yang semakin mapan. Antara lain terlihat dari peningkatan penetrasi smartphone dan perluasan akses jaringan internet.

Menurut firma penelitian dan analis “App Annie”, aplikasi mobile kini tak ubahnya “pelarian” bagi masyarakat modern dalam mengatasi masalah dan kesulitan hidup.

“Ada banyak masalah di dunia nyata yang pelan-pelan terselesaikan dengan kehadiran aplikasi mobile,” kata Senior VP App Annie Danielle Levitas, sebagaimana dilaporkan Bloomberg dan dihimpun KompasTekno, Senin (15/2/2016).

Jenis aplikasi pun beragam. Antara lain aplikasi produktivitas, media sosial, hiburan, kesehatan, pendidikan, ride-sharing, berita, dsb.

Tiga aplikasi dominan

Saat ini, sekitar 2,6 miliar penduduk bumi menggunakan perangkat mobile (smartphone dan tablet) dalam kehidupan sehari-hari. Diperkirakan, hingga 2020 mendatang, angka itu akan naik lebih dari dua kali lipat menjadi 6,2 miliar penduduk.

Indonesia dikatakan sebagai salah satu negara yang bakal menyumbang pertumbuhan terbesar. Selain Indonesia, negara-negara lain seperti India, China, Meksiko, Brazil, dan Turki, juga disebut-sebut sebagai negara yang paling signifikan bertumbuh dari sektor jumlah pengguna perangkat mobile.

Seiring dengan pertumbuhan tersebut, penetrasi aplikasi mobile pun akan meningkat. Menurut App Annie, tiga jenis aplikasi yang akan mendominasi kancah industri mobile di masa depan berasal dari sektor media sosial dan hiburan.

Lebih tepatnya adalah aplikasi kencan, music streaming, dan video streaming. Pertumbuhan ketiga jenis aplikasi juga disokong akses internet yang diprediksi semakin cepat dan murah.

Ekspansi layanan-layanan inovatif seperti Spotify, Netflix, Tinder, dan Periscope, merupakan awal dari perkembangan masif layanan berbasis streaming dan video yang dimaksud.

Di China, ada aplikasi serupa Netflix yang bertajuk “iQiyi”. Dalam kurun waktu kurang dari enam bulan, pengguna iQiyi sudah berlipatganda menjadi 10 juta pengguna.

Meski begitu, App Annie juga menggarisbawahi bahwa aplikasi game belum akan usang. Masyarakat maya masih akan terus mengakses aplikasi tersebut, meski presentase konsumsinya fluktuatif.

Simpelnya, App Annie mengindikasikan aplikasi mobile saat ini telah mencapai level kematangan dalam menemani kehidupan masyarakat modern. “Masyarakat semakin banyak menghabiskan waktu dan uang pada layanan mobile,” ujar Levitas.

Hal ini bisa dijadikan kemenangan bagi para penyedia aplikasi atau pengembang, tapi sekaligus menjadi tantangan untuk terus berinovasi. Sebab, menurut Levitas, tuntutan netizen akan sebuah aplikasi mobile akan terus bertambah.

“Bukan cuma aplikasi yang membantu masyarakat tetap saling bersosialisasi, tapi lebih kepada aplikasi yang punya solusi terukur,” kata dia.

Sumber: KOMPAS Tekno

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

%d bloggers like this: