“Free”, Menggali Rezeki Substitusi di Era Ekspansi Digital

                            Saya mengenal gitaris kondang ini bukan baru kemarin sore, sudah dari 1990-an, sejak masih bekerja sebagai pustakawan dan yang bersangkutan bekerja sebagai wartawan di tabloid “Nova”. Orang yang sedang saya bicarakan ini adalah Jubing Kristianto.

Sebagai orang yang saya klasifikasikan “nekat” dalam menapaki jalan hidupnya, saya tergerak menulis sosoknya di Harian Kompas edisi Sabtu, 30 Juni 2007. Bagaimana tidak tertarik menulis tentangnya, wong keputusan untuk pindah pekerjaan dari jurnalis menjadi gitaris pasti “sesuatu” banget. Apalagi, kala itu pendapatan sebagai gitaris jauh lebih kecil dibanding perolehannya sebagai redaktur pelaksana, sebuah jabatan empat tingkat di atas jurnalis.
Terungkaplah, bahwa bekerja normal selepas lulus Kriminologi UI baginya hanya sekadar menyenangkan orangtua.

“Kalau boleh saya tidak sekolah, saya lebih memilih tidak sekolah dan hanya bermain gitar,” katanya saat saya wawancarai sembilan tahun lalu. Prinsip yang rada sangar memang.

Dan, pada suatu petang yang hangat beberapa pekan silam, Jubing berkirim pesan; “Aku sudah mengeluarkan album CD baru, nanti kukirim ke tempatmu!”
What? Benarkah ini pesan darinya? Ah, Jubing, kamu main-main rupanya! O, ternyata tidak. Jubing serius, ia tidak main-main. Apalagi setelah itu kemudian kirimannya tiba di tangan saya, sebuah album gitar tunggal berupa Compact Disc alias CD bertajuk “Pagi Putih”, sebuah rekaman gitar tunggal sebagaimana biasanya.

“Ini album kelimaku setelah album terakhir keempat rehat selama empat tahun,” kata Jubing lewat sebuah percakapan.
Saya tidak ingin mengupas isi albumnya yang seperti empat album sebelumnya berisi komposisi lagu anak dan lagu-lagu daerah Indonesia terkenal. Saya hanya ingin mengulas kenekatan –lagi-lagi kenekatan– Jubing mengeluarkan album berbentuk CD itu.

Naluri saya terusik, di saat Disc Tara, sebuah nama besar toko hasil rekaman lagu dan musik dalam bentuk kaset maupun CD mengumumkan penutupannya pada akhir Desember 2015 lalu, kok bisa-bisanya Jubing malah mengeluarkan album baru? Berbentuk CD pula! Di mana CD itu bakal dipasarkan?
Keingintahuan membawa saya membuka percakapan dengannya melalui media komunikasi Facebook Messenger. Dari percakapan itulah saya tahu ihwal industri penjualan musik dalam berbagai bentuk “media tradisional” yang memang sedang terpuruk, khususnya penjualan hasil rekaman, baik lewat unduhan digital atau toko CD.

“Meski demikian, kegiatan membuat album rekaman tetap harus jalan dengan beberapa alasan,” kata Jubing.
Alasannya itu antara lain; sebagai musisi ada dorongan hati untuk terus menghasilkan karya baru, sebagai seniman ada keinginan memenuhi harapan para penggemar yang terus-menerus menanyakan kapan album berikutnya ada lagi.

Dan juga sebagai “aktualisasi diri” menghasilkan album baru adalah sarana promosi diri agar lebih banyak lagi orang mengetahui permainan musik dengan efeknya pada permintaan untuk tampil di panggung atau event lainnya.
Sampai di sini saya tercenung dan ingatan kemudian melayang ke masa lalu sekira 12 tahun silam, saat di mana sebagai jurnalis saya ditugaskan di timur Indonesia berkedudukan di Makassar, Sulawesi Selatan.

Di daerah “Anging Mammiri” ini saya berkenalan dengan sosok seniman besar Makassar, Iwan Tompo, yang kini sudah almarhum. Lagu-lagunya melegenda, baik yang diciptakannya maupun lagu klasik Makassar yang dinyanyikan ulang dengan nada tinggi. Kebanyakan dalam bahasa Makassar, sesekali lagu klasik Bugis juga.
Tugas jurnalistik membawa saya berkeliling ke bagian timur Indonesia, dari Papua, Ambon, Palu, Manado, Gorontalo, Kendari, Poso, dan hampir semua kabupaten kota di Sulawesi Selatan.

Uniknya, di kantung-kantung Bugis-Makassar di wilayah-wilayah yang saya sebutkan itu, hampir tidak ada yang tidak memiliki kaset atau CD Iwan Tompo. Pada beberapa warung makan malah ada khusus VCD karaokenya. “Ini luar biasa,” batin saya.
Pada sejumlah penampilannya dari panggung ke panggung, beberapa kali saya mengikuti di mana Iwan Tompo menyanyi. Penggemarnya terserak di sudut-sudut kampung dan kota di Sulawesi Selatan serta provinsi tetangganya. Puluhan albumnya dalam bentuk kaset, CD dan VCD terserak dan hampir semuanya album bajakan!
Pada sebuah kesempatan, kepada saya Iwan Tompo mengaku tidak menerima royalti dari hasil merekam suaranya di Irama Baru Record itu. Alasan si empunya studio rekaman, sebagaimana dituturkannya, hampir semua album rekamannya dibajak orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Alhasil, yang beredar di tangan orang-orang Bugis-Makassar itu adalah album bajakan!
“Lalu, apakah Daeng marah atau kecewa atas pembajakan album rekaman yang bikin Daeng tidak menerima royalti?” tanya saya.

Jawaban Iwan Tompo mengejutkan, “Ah, ndak ji’, saya malah bersyukur sebab suara saya didengar masyarakat luas. Ini bagus, toh?” Saya mengejar lagi, “Kok bisa Kita (Anda) bilang bagus, Daeng?”
“Saya akhirnya hidup dari panggung ke panggung. Ada ji’ dua atau tiga kali saya manggung di acara hajatan, khitanan, atau kawinan. Itu rezeki dan rezeki saya tidak dari rekaman, tetapi dari panggung ke panggung. Orang mau ngundang saya karena dengar lagu-lagu saya di CD atau VCD bajakan. Itu jadi semacam promosi gratis. Ndak ada alasan ji’ untuk marah atau kecewa!”
Paradigma “Free”
Jawaban Iwan Tompo inilah yang kemudian menautkan saya atas jawaban Jubing tadi; hasil rekaman, apapun bentuknya, tidak menghasilkan finansial berlebih, salah-salah kena serbu album bajakan.

Namun di balik itu semua, ada semacam “rezeki substitusi” atas jerih payah itu. Bayangkan, Jubing pernah mengaku, untuk menyelesaikan satu komposisi saja diperlukan waktu berbulan-bulan, belum lagi proses rekamannya yang berulang-ulang memakan waktu dan tenaga.
Wandy Gotama, produser sekaligus pemilik studio rekaman IMC Record yang memproduksi album Jubing selama ini menyadari “senjakala” CD sudah tiba dengan ditutupnya ratusan gerai Disc Tara.

Wandy sempat menyarankan agar cukup jualan versi digital saja. Tapi setelah Jubing bikin survei kecil-kecilan, ternyata cukup banyak yang ingin memiliki album bentuk CD. Alasannya bisa dipegang, bisa dilihat-lihat, dipajang, dipamerkan, dikadokan, dijadikan suvenir, dan bisa dibubuhi tanda tangan.

Bahkan ketika album digital “Pagi Putih” sudah tersedia, akunya, mereka tidak mau mengunduh dan tetap menunggu CD-nya. “Jadi keputusan akhirnya tetap bikin CD,” simpul Jubing.
Digital memang bengis dan tak “menghargai” jerih-payah musisi atau seniman macam Jubing dan Iwan Tompo. Piringan hitam dan gramophone tergerus kaset, kaset terseret CD, CD terbanting MP3, MP3 terganjal digital online.

Sekarang, apa yang tidak dijual di Netflix dan Amazon? Dari rekaman suara sampai aksi aktor film ada di sini. Tetapi, itu bukan berarti harus menyerah pada “kebengisan” digital.

Selalu ada “substitusi” atau pengganti yang dalam kasus tertentu seperti Jubing, Iwan Tompo dan mungkin Radiohead di Amerika sana, bayaran aksi panggungnya lebih dari cukup dari suara atau permainan musik mereka yang digratiskan. Perolehan “subsitusi” memang kecil, tetapi harus tetap dicari, digali dan diakali.
Apa-apa yang digratiskan alias “Free” ini mengingatkan pada buku yang pernah saya beberapa tahun silam, Free: The Future of a Radical Price karangan Chris Anderson.

Beruntung saat saya bertugas ke London, Inggris, saya sempat bertemu dengan penulis berkepala licin ini di mana saat itu dia masih bercerita mengenai buku sebelumnya, yaitu The Long Tail: Why the Future of Business is Selling Less of More. Buku yang inipun sudah saya baca sebelumnya.
Mungkin Iwan Tompo atau Jubing belum sempat membaca dan mempelajari isi kedua buku itu. Tetapi blessing in disguise, apa yang mereka lakukan adalah contoh nyata dari tesis Anderson dalam Free.

Di era digital online, banyak musisi dan penggiat sinematografi yang  menyimpan karya mereka di Youtube. Dan, itu gratis atau digratiskan.

Jubing pun setahun belakangan ini memanfaatkan situs berbagi video milik Google itu. Di sana sudah ada monetize-nya, meski jika dihitung jumlah pemasukan tidak signifikan. Boleh dibilang masih kecil sekali, misalnya dalam setahun terakhir itu hanya ada beberapa ratus ribu rupiah saja.
Tetapi, itu sangat tergantung jumlah viewer per video. Jika jumlannya mencapai jutaan, uang Google yang mengalir baru terasa. Jubing mengaku, untuk saat ini fungsi utama Youtube masih sebagai alat promosi dan eksistensi diri, setidak-tidaknya jika ada Event Organizer belum tahu siapa Jubing.

“Aku tinggal memintanya menonton channelku di Youtube,” pungkas Jubing yang akan kembali tampil menunjukkan “kenekatannya” bermain gitar akustik di Bentara Budaya Jakarta, 3 Maret 2016 mendatang. Lagi-lagi gratis buat penonton.
Itulah makna dan manifestasi “Free” alias gratis.
Kadang hidup memang harus nekat seperti Jubing, juga jangan pelit berbagi. Gratiskan saja!

Sumber: KOMPAS Tekno

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

%d bloggers like this: