Inikah Senja Kala Twitter?

                            Oleh: Prasetyo Eko Prihananto

Twitter mendorong berbagai revolusi, bahkan dalam arti sesungguhnya. Banyak yang menyebutnya sebagai revolusi 140 karakter. Twitter berjaya, membawa perubahan sosial dan cara orang berinteraksi dan berkomunikasi.

Namun, situs media sosial berlambang burung ini menunjukkan tanda-tanda kemunduran selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dirilis oleh sebuah perusahaan analisis 7Park Data, jumlah pengguna Twitter, khususnya di Amerika, terus merosot.

Selama dua tahun terakhir, pencuit dari situs ini terus anjlok hingga sepertiganya. Data itu memang bertolak belakang dengan angka yang diklaim oleh Twitter sendiri, yang melaporkan ada kenaikan hingga 25 persen dalam periode yang sama.

Seperti dikutip dari laman Guardian pada 29 Januari, 7Park Data menyebutkan media sosial milik Twitter, Vine, juga mengalami kemerosotan. Jumlah pengguna aplikasi ini berkurang hingga hanya sekitar tiga perlima dari jumlah orang yang meng-install pada April 2014.

Pada bulan tersebut, Twitter terinstal di 36,1 persen perangkat mobile di Amerika Serikat menurut data 7Park Data. Adapun Vine terinstal di 5 persen perangkat.

Saat ini, angka itu merosot tajam. Jumlah aplikasi Twitter yang ter-install di perangkat mobile hanya mencapai 25 persen, sedangkan Vine 2,6 persen.

Jumlah pengguna aktif mingguan, pengguna yang membuka aplikasi setiap pekan, juga terus menurun. Angkanya dari 15 persen menjadi hanya 10,5 persen untuk Twitter dan dari 1,7 persen menjadi 0,8 persen untuk Vine.

Data pengguna di seluruh dunia juga bukan kabar baik bagi Twitter. Penetrasi Twitter merosot dari 30 persen menjadi hanya 22 persen saat ini.

Seperti dikutip dari laman Twitter, perusahaan ini melaporkan bahwa 80 persen dari pengguna (user) aktif memakai perangkat mobile untuk mengakses akunnya. 7Park Data mengambil data dari pengguna mobile sehingga hal itu menunjukkan bahwa penurunan angka install aplikasi di mobile cukup mewakili bahwa penggunaan Twitter secara umum menurun.

Berdasarkan klaim Twitter sendiri, jumlah pengguna aktif mereka justru meningkat, bertolak belakang dengan rilis data dari 7Park Data. Pada April 2014, Twitter melaporkan 255 juta pengguna aktif bulanan, sedangkan laporan terbaru seperti dikutip dari laman Twitter menyebutkan sebanyak 320 juta pengguna.

Tokoh-tokoh berpengaruh dan lembaga-lembaga dunia juga masih memakai Twitter sebagai salah satu platform untuk menyampaikan pemikiran dan komunikasinya. Menteri, perdana menteri, hingga presiden masih banyak yang memiliki akun Twitter.

Menurut Guardian, ada sejumlah penjelasan mengenai terjadinya perbedaan data tersebut. Pertama, mungkin saja peningkatan jumlah pengguna seperti yang dilaporkan Twitter karena user enggan menginstal aplikasi mobile, tetapi memakai perangkat desktop. Pengguna seperti ini tidak muncul di 7Park Data data yang mendapat data dari pengguna perangkat mobile yang setuju membagi data penggunaan aplikasi mereka.

Kemungkinan lain, yang menjadi kabar buruk bagi Twitter, adalah bahwa pertumbuhan pengguna aktif bukan berasal dari pengguna sesungguhnya, manusia. Pengguna tumbuh bisa jadi berasal dari bot atau akun-akun otomatis.

Analis internet 7Park Data, Byrne Hobart, mengatakan bahwa sejumlah upaya yang dilakukan Twitter untuk menaikkan jumlah pengguna mengalami kegagalan. “Ada pengguna yang tetap memiliki passion dengan produk ini. Namun, upaya Twitter untuk menumbuhkan pengguna, dengan aplikasi seperti Vine dan Periscope, serta fitur baru Moments, gagal,” kata Hobart.

Jumlah pengguna yang terus stagnan, sekitar 300 juta, mengecewakan para investor yang berharap Twitter bisa bersaing dengan Facebook yang jumlah penggunanya mencapai 1 miliar lebih. Kinerja Facebook yang baik membuat CEO Mark Zuckerberg kian kaya raya.

Belum ada data bagaimana kondisi data pengguna Twitter di Indonesia. Namun, dari hasil survei Litbang Kompas, “burung bercuit” hanya berada di peringkat ketiga situs media sosial yang paling sering diakses di Indonesia, terutama di Jakarta.

Tak hanya kalah jauh dari Facebook, Twitter kalah dari Instagram. Dari hasil survei Kompas yang diselenggarakan pada 14-22 Desember 2015, sebanyak 77,5 persen mengaku paling sering mengakses Facebook, 7,8 persen mengaku paling sering mengakses Instagram, dan hanya 6 persen yang mengaku paling sering mengakses Twitter.

Tanda-tanda kemunduran Twitter telah banyak dilaporkan sejak beberapa waktu terakhir. Sejarah mencatat matinya situs media sosial seperti Friendster yang kini berubah menjadi situs game. Apakah Twitter akan menyusul Friendster?

Sumber: KOMPAS Tekno

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

%d bloggers like this: