Kalau Peralatan Sudah Bisa “Ngobrol”, Apa yang Harus Disiapkan?

– Penggunaan internet terus meluas dan beragam. Hari ini, orang tak hanya ngobrol dengan kerabat dan kolega memakai beragam fasilitas chatting lewat medium internet, tapi juga “percakapan” dengan sejumlah peralatan.
Sekarang dan pada masa mendatang, internet akan semakin menjadi medium komunikasi untuk menjalankan beragam peranti rumahan—mulai mobil, televisi, hingga mesin cuci—bahkan pengoperasian sistem transportasi dan logistik. Nah, terbayangkah, seberapa besar data yang berseliweran di dunia maya karenanya?

Semua perkembangan penggunaan internet tersebut kini dikenal dengan sebutan internet of things (IoT), yaitu kondisi ketika perangkat-perangkat keseharian bakal semakin terhubung melalui jejaring internet.

“Tren ini menjadi tantangan bagi kami untuk selalu berinovasi dalam dunia teknologi,” tutur Business Vice President Schneider Electric Indonesia, Astri R Dharmawan, Jumat (19/2/2016).

Berbicara dalam seminar “Peran Data Center di Tengah Tren Internet Of Things 2016”, Astri menjelaskan, IoT akan berhadapan dengan data berukuran besar yang tetap harus segera diproses dan dianalisis. Situasi tersebut memicu permintaan peningkatan kapasitas data center dari waktu ke waktu.

“Kemajuan teknologi saat ini (menjadikan) peran data center sangat penting. Seperti dalam perbankan dan penyedia layanan telekomunikasi,” tutur Astri.

Big data

Bisa jadi, IoT memang baru di tataran konsep. Situasi pada saat ini belum sepenuhnya mewujudkan itu. Namun, bukan berarti IoT tak akan terjadi.

Semua itu sudah bisa dibuktikan dalam keseharian. Sebutlah, sekarang kunci mobil dan kunci rumah saja sudah bisa digantikan aplikasi ponsel, merupakan gambaran bahwa IoT sangat bisa segera menjadi nyata.

Dus, ketika peranti-peranti keseharian hingga operasionalisasi bisnis besar telah terhubung lewat jaringan internet, jumlah datanya akan melonjak secara eksponensial, bukan pertambahan atau bahkan perkalian.

“Kita menuju era data datang menyerbu dari segala penjuru, dari peralatan rumah tangga, beragam mesin, jalur kereta, pengiriman barang, juga perusahaan energi,” tulis Howard Baldwin, pemerhati teknologi, di Forbes.

Baldwin mengatakan, sampai sekarang belum ada satu pun yang bisa memberikan solusi untuk mengeola data ketika IoT benar-benar mewujud. Namun, satu saja saran dia soal hal itu, “Mulai saja (menyiapkan infrastruktur pedukung) dari sekarang”.

Salah satu kebutuhan infrastruktur untuk menyambut era IoT dan big data adalah data center. Kehadiran teknologi awan (cloud), memberikan napas segar soal lokasi dan perangkat keras penyimpanan data center. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengantisipasi gangguan di lokasi pusat penyimpanann data, mulai dari terputusnya jaringan listrik hingga telekomunikasi dari data center itu.

Edge computing

Enterprise Sales Director Schneider Electric Indonesia, Yana Achmad Haikal, mengatakan, butuh infrastruktur terpadu dengan sistem monitoring terpadu—seperti data center infrastructure management (DCIM)—untuk memastikan kinerja data center terjaga. Namun, imbuh dia, kemungkinan terjadinya sejumlah gangguan bila data center sepenuhnya terpusat memunculkan pula platform baru untuk IoT, yaitu edge computing.

Mempermudah penggambaran untuk IoT, data center, dan edge computing ini, bisa dipakai sistem pasokan air bersih di sebuah kota. Data center ibarat kolam utama pemasok air bersih kota itu. Perpindahan data ibarat perputaran air, yang sama-sama melewati jaringan distribusi. Nah, edge computing ibarat tangki air di rumah-rumah warga.

“Data center untuk mendukung platform edge computing ada tiga bentuk, (yaitu) perangkat gateway, micro-data center, dan regional data center,” ujar Yana.

Menurut dia, dari ketiga bentuk tersebut, micro-data center (micro-DC) dianggap lebih baik. Selain lebih mudah beroperasi, kata Yana, micro-DC seperti SmartBunker IT Traditional, SmartBunker CX untuk perkantoran, SmartBunker FX, dan SmartShelter dari Schneider, juga mudah dikelola, aman, dan hemat biaya.

“Micro-DC cocok untuk beragam aplikasi yang membutuhkan latency—perpindahan data melalui jaringan internet—rendah dan bandwith—ukuran besaran data—yang besar,” paparnya.

Sumber: KOMPAS Tekno

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

%d bloggers like this: