Kunci Sukses Usaha Itu Data, Bukan Upah Murah Pekerja!

                             – Hari itu, Rabu (24/4/2013), tak kurang dari 3.600 pekerja di Rana Plaza, Dhaka, Banglades, bekerja dengan rasa was-was. Sehari sebelumnya, dinding pabrik yang merupakan markas produksi lima perusahaan garmen ini retak, cukup besar untuk membuat orang ngeri bila melihatnya.

Tapi, apa daya, demi sesuap nasi mereka harus menepis kekhawatiran itu dan rutinitas kerja mesti berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya, pada pukul 08.45 waktu setempat, kekhawatiran mereka menjadi kenyataan.
Diawali listrik yang mendadak padam, getaran terasa kuat di seluruh bangunan. Lalu, dalam hitungan detik gedung delapan lantai itu luluh lantak.

Pada hari itu, tak kurang 1.000 pekerja di Rana Plaza tewas dan ribuan lainnya terluka. Butuh waktu lebih dari dua pekan untuk menemukan jasad korban tewas maupun mengevakuasi mereka yang terluka dari balik reruntuhan.

Robohnya pabrik di Dhaka itu sempat menjadi pemberitaan yang mendunia. (Baca: Korban Tewas Rana Plaza Banglades Tembus 1.126 orang). Kasus itu menjadi lebih mencuat karena pabrik yang hancur lebur merupakan salah satu lini produksi untuk produk pakaian bermerek, sementara para buruh dibayar teramat murah dengan konstruksi pabrik yang tak layak pula.

Jalan sukses tak tunggal

Tanpa kita sadari, musibah ini menjadi “harga” yang perlu dibayar untuk membeli produk-produk diskon di mal-mal. Demi mengejar konsumsi fashion dunia, biaya produksi ditekan sedemikian rendah sehingga acap mengorbankan kesejahteraan dan keselamatan pekerja.

Belum lagi muntahan limbah pabrik juga turut merusak alam. Padahal, sekarang konsumen sudah lebih jeli dan peduli dari mana barang belanjaannya berasal. Kesuksesan para pabrikan pun tak melulu harus dicapai dengan menerapkan sistem upah serendah-rendahnya untuk produk yang mereka jual mahal di pasar global.

Salah satu brand kecantikan global, misalnya, menyebar di 61 negara dengan 2.500-an gerai justru karena produk mereka berbasis ramah lingkungan dan buruhnya—termasuk pekerja imigran di Inggris—mendapat upah mencukupi. Bahan baku produk tersebut dipasok petani lokal dari negara-negara ekonomi berkembang.

Strategi tersebut mereka kembangkan ketika pabrikan lain semata menggaungkan kualitas. Belakangan, kesuksesan merek itu justru berangkat dari kisah dan value yang dianut perusahaan asal Inggris ini.

Kembali ke industri fashion, tak dimungkiri, kebanyakan merek terkenal asal Eropa dan Amerika menggunakan jasa produksi dari pemasok di negara-negara berkembang di Asia, seperti Banglades dan Indonesia. Berkebalikan dengan kisah sukses merek kosmetik di atas, industri fashion cenderung banyak mengundang pertanyaan terkait kesejahteraan pekerja dan limbah pabriknya. 

Berkaca dari dua kisah industri yang bertolak belakang itu, ditambah beragam dialektika terkait perubahan iklim global, perusahaan-perusahaan bervisi panjang harus merancang bisnis yang berkesinambungan. Bukan lagi masanya mengeruk keuntungan dengan mengorbankan kesejahteraan, apalagi keselamatan pekerja.
Faktanya, penelitian Nielsen pada 2014 mendapati, 52 persen responden dari 60 negara di dunia memilih membeli produk dari perusahaan yang punya program kepedulian sosial. Bahkan, riset tersebut mendapatkan pula, penjelasan produk “ramah lingkungan” di kemasan bisa meningkatkan penjualan rata-rata dua persen per tahun.

Artinya, setiap perusahaan harus punya sistem operasi dan pelaporan tentang lika-liku bisnisnya. Di laporan itu harus tercakup beragam indikator, mulai dampak produksi terhadap lingkungan, penggunaan energi, sosial, hingga kesejahteraan pekerja. Indentifikasi permasalahan wajib dilakukan di setiap tahap rantai pasokan, secara menyeluruh.

Data

Dari situ, perusahaan akan punya data dari tahap produksi yang rawan memboroskan energi, ketimpangan kesejahteraan pekerja, performa perusahaan dalam menjaga keberlangsungan lingkungan, hingga dampak sosial yang mungkin timbul.
Tapi, jika memiliki mekanisme semacam itu, perusahaan bisa melakukan efisiensi energi dengan tepat untuk memangkas ongkos produksi tanpa “memeras” pekerja sekaligus meraih kepercayaan pelanggan yang pada akhirnya menaikkan nilai jual.

Lebih lanjut, ketika lokasi atau tahap produksi yang rawan memboroskan energi sudah diketahui, penghematan pun bisa dilakukan mulai dari mengganti lampu hemat energi. Pilihan tersebut dapat memangkas ongkos penggunaan listrik hingga 30 persen per tahun. Mengganti mesin pewarna tradisional dengan alat yang lebih modern dan ramah lingkungan, dap at pula mengurangi pemakaian air sampai 40 persen.

Kabar baiknya, survei yang digelar konsultan bisnis PwC pada 2014 menyebutkan bahwa 74 persen CEO perusahaan global sepakat kehadiran laporan menyeluruh—finansial dan non-finansial—berkontribusi terhadap kesuksesan perusahaan dalam jangka panjang. Tantangan yang mengadang adalah pengumpulan data.

Bayangkan saja, satu perusahaan bisa menghasilkan puluhan juta data terkait energi berkesinambungan dan dampak sosial. Riset Universitas Hawaii menunjukkan bahwa 88 persen data yang diolah dalam spreadsheets kurang akurat. Karena itu, proses mengubah semua data menjadi sebuah kebijakan kian rumit.

Kehadiran aplikasi yang bisa menjawab tantangan terkait data dan pegambilan kebijakan itu pun menjadi mendesak. Terlebih lagi bila aplikasi itu tak hanya memberikan akurasi tinggi tetapi juga sudah mengadopsi sistem komputerisasi awan (cloud) seperti SmartStruxure dari Schneider Electric. Aplikasi semacam itu akan membuat jarak tak lagi masalah untuk pemantauan kantor pusat ke seluruh perwakilan mereka.

Siap melompat menjadi perusahaan berkesinambungan?

Sumber: KOMPAS Tekno

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

%d bloggers like this: