Masuk Indonesia, Ini Strategi Ponsel Android Buatan Rusia

                            JAKARTA,  Ponsel Android dua layar YotaPhone 2 baru saja masuk diumumkan masuk ke Indonesia dengan harga Rp 8,9 juta. Pada penjualan awal, ponsel asal Rusia ini tidak akan ditemukan di toko-toko ritel biasa alias offline.PT Maxindo Telemedia Nusantara (Maxindo), selaku distributor tunggal YotaPhone di Indonesia, memang sengaja memilih jalur online. Pertimbangannya adalah harga yang premium dan jangkauan yang lebih jauh.

“Online jangkauannya lebih luas dan kita juga menarget orang-orang yang memang sudah biasa online. Market ponsel ini kan premium, atau menengah ke atas,” terang Wakil Direktur Maxindo, Ted Samuel saat ditemui KompasTekno dalam peluncuran YotaPhone 2, di Jakarta, Selasa (16/2/2016).

“Tahap pertama dan kedua kita penjualan online dulu, setelah itu baru mulai offline,” pungkasnya.

Ted juga menjelaskan, di tahap pertama mereka hanya bekerja sama dengan Blibli.com saja. Mulai dari pre-order hingga penjualan YotaPhone dalam kurun waktu tertentu hanya bisa diperoleh dari portal belanja tersebut.

Lalu di tahap kedua, distributor YotaPhone 2 akan bekerja sama dengan sekitar sepuluh portal belanja online lain, salah satunya Lazada. Setelah selesai tahap ini, ponsel rancangan Rusia itu baru mulai dijual offline.

Maxindo berjanji untuk menangani garansi YotaPhone 2. Masing-masing ponsel yang dibeli pengguna dijamin dari kerusakan selama setahun sejak tanggal pembelian.

Bila menemukan kerusakan dan masih dalam masa perlindungan garansi, pengguna cukup membawanya ke kantor Maxindo di Green Ville, Jakarta Barat.

“Service center baru di Jakarta saja. Bisa ditemukan di Roxy, Cempaka Mas, atau Bekasi. Untuk perbaikan sudah dilakukan lokal, ada orang yang terlatih di sini,” imbuh Ted.

Belum TKDN

Sebagai barang baru yang masih utuh diimpor, YotaPhone 2 sama sekali belum memiliki kadar kandungan lokal atau Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Pihak Yota sendiri, untuk saat ini menyerahkan urusan soal TKDN kepada distributornya di Indonesia.

Menurut Ted, mereka ingin eksis dalam jangka panjang dan berniat memenuhi aturan tersebut. Namun bentuknya bukan dengan pembuatan pabrik manufaktur atau pusat riset.

“TKDN untuk 4G kan masih tahun depan, jadi tahun ini kami siapkan. Sekitar kuartal tiga atau empat, kami akan bekerja sama dengan rekan manufaktur,” terang Ted.

“Kalau pusat riset tetap ada di Rusia karena membutuhkan spesialisasi tertentu,” imbuhnya.

Sumber: KOMPAS Tekno

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

%d bloggers like this: