Studio Game Salatiga Membidik Pasar Amerika

                            SEMARANG,  Mengantongi lebih dari 200 judul aplikasi Android, berikut sejumlah penghargaan termasuk pemenang kategori game edukasi INAICTA 2013, Educa Studio bisa dibilang adalah salah satu pengembang aplikasi Indonesia yang berhasil meraih sukses.Studio game yang didirikan oleh suami-istri Andi Taru dan Idawati di kota Salatiga, Jawa Tengah, pada 2011 ini kini berencana melebarkan sayap ke luar negeri. Tak tanggung-tanggung, Educa Studio langsung membidik pasar Amerika Serikat.

“Targetnya tahun 2016 ini sudah meluncurkan aplikasi game edukasi untuk pasaran AS. Mudah-mudahan pada akhir tahun kami sudah bisa melihat kondisi pasarnya seperti apa,” ujar Andi saat ditemui KompasTekno di kantor Educa Studio di Salatiga, Selasa (2/2/2016),

Andi mengakui pasar Amerika Serikat sudah disesaki oleh pemain-pemain besar di bidang game edukasi, seperti Disney. Namun, kenyataan itu tak menyurutkan niatnya untuk merambah peluang pasar yang ada.

Educa Studio tak berekspektasi meraih sukses instan, mengingat situasi yang bakal dihadapi di Negeri Paman Sam. Tapi, dengan mencoba menjajaki pasaran game edukasi di sana, Andi berharap langkah awalnya bakal menghasilkan feedback mengenai karakter pengguna, untuk kemudian dipakai menentukan langkah selanjutnya.

“Dari situ, nanti kami bisa evaluasi untuk melihat respon, lalu kami pelajari dulu pelan-pelan,” ujar Andi

Kucing garong

Dalam upaya memasuki pasar AS, Educa Studio bakal mengedepankan aplikasi mobile bertema game edukasi untuk anak yang selama ini menjadi andalanya. Andi menuturkan bahwa studio game asuhannya itu sedang menyiapkan 8 judul game sebagai produk andalan.

Selain memakai bahasa Inggris sebagai pengantar, kedelapan judul game itu digarap serius selama lebih dari satu tahun agar mampu bersaing dengan aplikasi-aplikasi sejenis yang telah lebih dulu hadir.

“Ini demi mengimbangi fitur-fitur game bikinan luar negeri yang terbilang sudah ‘luar biasa’, maka game yang ditujukan untuk pasaran luar negeri juga dibuat lebih kompleks,” tutur Idawati yang ikut hadir mendampingi Andi.

Selain itu, Educa Studio turut membuat tokoh sentral untuk jjudul-judul game bikinannya yang akan dipasarkan di luar negeri, yakni seekor kucing bernama “Gary Ong”.

“Itu asalnya dari kucing peliharaan kami dulu yang bernama Garong. Hanya saja, nama ‘Garong’ dirasa kurang mengena untuk konsumen berbahasa Inggris, maka kami ubah jadi ‘Gary Ong'” hahaha, terang Andi setengah bercanda.

Nama yang agak berbau Asia Timur itu dinilai Andi bakal memberikan efek positif untuk game buatannya. Sebab, dari hasil ujinya selama ini, pemain sering salah mengira game buatannya sebagai aplikasi buatan Korea Selatan atau Jepang yang memang sudah kondang sebagai pabrikan game berkualitas.

Di Indonesia sendiri, hingga 2015 lalu, ke-200 judul aplikasi Educa Studio yang mayoritas merupakan game mobile telah mengumpulkan angka unduhan sebanyak lebih dari 15 juta. Andi dan kawan-kawan memperoleh penghasilan terbesar melalui iklan yang ditayangkan di dalam aplikasi game melalui platform Google AdMob.

Sumber: KOMPAS Tekno

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

%d bloggers like this: