Hari Pahlawan, Saatnya Kunjungi Monumen Resolusi Jihad

Surabaya, NU Online
Biasanya, Hari Pahlawan di “Heroes City” Surabaya dikaitkan dengan Tugu Pahlawan atau Museum Kepahlawanan yang ada di “bawah tanah” dari Tugu Pahlawan itu.

Padahal, tidak jauh dari Tugu Pahlawan, Surabaya ke arah utara sekitar 300 meter, tepatnya di Jalan Pahlawan nomer 9 atau tepat di kampung Bubutan VI/2 Surabaya, ada gedung tua yang memiliki nilai sejarah terkait Hari Pahlawan.

Gedung tua yang kini menjadi kantor sekretariat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya, itulah yang “disulap” menjadi Monumen Nasional Resolusi Jihad yang diresmikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada 23 Oktober 2011.

Istilah “resolusi jihad” itu memiliki kaitan erat dengan Hari Pahlawan, karena “resolusi jihad” yang dicanangkan para ulama pada 22 Oktober 1945 di gedung tua itu pula yang menjadi pemicu semangat Arek-Arek Suroboyo untuk mengganyang penjajah dalam Pertempuran 10 November 1945.

Di dalam gedung tua itu tersimpan 20-an foto bersejarah terkait Hari Pahlawan, termasuk foto dari bunyi Resolusi Jihad itu yang “dijepret” sejumlah pengelola monumen nasional itu dari naskah asli Resolusi Jihad yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda.

“Hari Pahlawan itu bersumber dari Resolusi Jihad yang digagas para ulama atas permintaan Bung Tomo yang sering main-main ke Sekretariat PCNU,” ucap Ketua PCNU Surabaya KHA Saiful Chalim saat bercerita tentang gedung monumen itu.

Menurut dia, Resolusi Jihad yang difatwakan para ulama itu intinya ada tiga fatwa yakni fatwa hukum melawan penjajah adalah fardhu ain (kewajiban pribadi), tewas melawan penjajah adalah mati syahid, dan mereka yang memecah belah persatuan itu wajib dibunuh.

“Gedung itu semula memang milik seorang pengusaha asal Gresik, tapi akhirnya dibeli PCNU dan sempat menjadi Kantor PBNU pertama, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Jadi, gedung itu memiliki nilai sejarah bagi bangsa ini dan juga NU sendiri,” tuturnya, didampingi Rais Syuriah PCNU Surabaya KH Dzulhilmi Ghazalie.

Saat ini, katanya, gedung itu dilengkapi sekolah di bagian belakang. “Tapi, gedung lama yang bersejarah itu tetap seperti apa adanya, meski gedung itu belum menerima pengakuan sebagai cagar budaya Kota Surabaya,” paparnya.

Namun, putra Bung Tomo, yakni Bambang Sulistomo, justru melontarkan “pengakuan” tentang gedung itu. “Iki duduk gedung sembarangan, rek (Itu bukan gedung sembarang, saudara). Sebagai gedung PBNU pertama, yo akeh barokahe (banyak memiliki nilai tambah dari para ulama),” tukasnya.

Apalagi, ujarnya, gedung itu menjadi pertanda dari Pertempuran 10 November 1945 dengan dilahirkannya Resolusi Jihad. “Saya kira, keikhlasan para ulama dalam berjuang itulah yang mendorong kemerdekaan,” tandasnya saat hadir dalam peresmian Monumen Resolusi Jihad itu.

Ia menceritakan ayahnya di masa lalu sering singgah dan tidur di Kantor PBNU pertama itu dan banyak belajar dari para ulama tentang perang atau jihad yang benar dengan menonjolkan keikhlasan dan bekerja untuk orang banyak.

“Mungkin karena (keikhlasan) itu, sejarah resolusi jihad tidak ada di Indonesia, tapi tersimpan di Musem Belanda,” kata putra Bung Tomo yang saat itu mengenakan stelan pakaian adat Bali.

Oleh karena itu, ia mendukung gagasan PCNU Surabaya untuk mensyukuri perjuangan para ulama dengan menjadikan Sekretariat PCNU Surabaya di bagian depan sebagai Monumen Nasional Resolusi Jihad.

“Monumen itu akan mengingatkan kepada kita untuk tidak mudah lupa kepada sejarah kota ini. Jasmerah, jangan sampai melupakan sejarah, begitu kata Bung Karno,” timpalnya, dengan pandangan yang menerawang.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: