Kang Said: Toleransi Penting untuk Kemajuan Indonesia

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, kembali menegaskan pentingnya sikap toleran untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik di segala bidang. Toleransi, menurut doktor tasawuf lulusan Universitas Ummul Qura tersebut, bahkan dinilainya sangat dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan pembangunan.

Pendapat itu disampaikan Kiai Said saat memberikan sambutan dalam acara Human Rights and Faith in Focus EU-Indonesia Civil Society Seminar, di Jakarta, Senin, 24 Oktober 2011. Meski demikian juga diakuinya, dibutuhkan kekuatan dan ketulusan untuk merealisasikan masyarakat yang beradab dan toleran.

“Masyarakat yang beradab dan toleran, saling menghargai satu di antara lainnya, akan membantu tercapainya pembangunan Indonesia secara utuh,” tegas Kiai Said.

Dalam penjuangan membangun masyarakat yang beradab dan toleran, kaum muslimin sebagai mayoritas rakyat Indonesia dianggap memiliki modal. Rasulullah sebagai panutan umat Islam telah memberikan teladan dalam perjuangan yang dilakukannya menanamkan norma agama ke masyarakat di masanya.

“Rasulullah mengajarkan Islam di Makkah selama 13 tahun tanpa menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Saat berpindah ke Yatsrib, Rasulullah membentuk tatanan masyarakat yang menghormati kemajemukan. Beliau dirikan negara Madinah, suatu negara yang berorientasi pada   pembangunan peradaban,” papar Kang Said, sapaan Kiai Said dalam kesehariannya.

Kang Said juga mengatakan, sikap saling memahami antar umat beragama sangat dibutuhkan dalam upaya membangun masyarakat yang beradab dan toleran, sehingga tujuan akhir tercapainya keberhasilan pembangunan bisa terlaksana. Karena itu diperlukan komunikasi intensif antar  umat beragama agar setiap orang mampu belajar dengan baik dan benar. “Bagi non muslim yang ingin mengetahui Islam, silahkan mempelajari Al Quran dengan baik, di sana Anda akan mengetahui pandangan Islam, misalnya tentang Yahudi, Kristen, dan prinsip-prinsip pembangunan peradaban lainnya,” tandasnya.

Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini menjadi civil society terbesar di Indonesia, masih menurut Kang Said, akan tetap berjalan di jalurnya dalam kaidah pembangunan perdaban. Ajaran Islam dimaknai NU sebagai aturan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi martabat manusia.

“Pada tahun 1935 NU telah memutuskan bahwa negara Indonesia adalah negara yang damai, negara yang nyaman didiami oleh ragam masyarakat, baik etnik, agama maupun suku dan budaya. Resolusi jihad NU pada tahun 1945 yang cukup efektif mengusir penjajah, juga dalam kerangka menyelamatkan peradaban manusia yang terancam terusir dari tanah airnya,” tuntas Kang Said.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: