NU Mampu Selaraskan Islam dan Budaya

Jakarta, NU Online 
Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat plural, dengan beragam suku, agama, ras dan budaya masyarakat di dalamnya. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu civil society yang ada di Indonesia dinilai telah mampu menselaraskan  Islam dengan budaya, sehingga menjadikannya sebagai agama yang mengedepankan kedamaian dalam bermasyarakat.

Pendapat itu disampaikan Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr. Marsudi Syuhud, dalam acara Human Rights and Faith in Focus EU-Indonesia Civil Society Seminar beberapa saat lalu. Pendapat yang sama juga kembali di tegaskan di Jakarta, Sabtu, 29 Oktober 2011.

“Selama budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam maka NU menganggap budaya tidak menjadi persoalan bagi seorang muslim,” tegas Marsudi. 
Ditambahkan oleh Marsudi, corak beragama yang diajarkan di pondok-pondok pesantren memang cenderung akrab dengan budaya lokal. Pilihan aktualisasi Islam model pondok pesantren ini menghasilkan tatanan masyarakat muslim Indonesia yang tidak keras dan sempit.

“Ada yang bilang Islam itu ad-dien wad-dawlah. Ada juga yang bilang Islam itu ad-dien. Konsep-konsep tersebut boleh saja mendominasi wacana hubungan agama dan negara, toh kenyataannya muslim Indonesia melahirkan Pancasila, sebuah falsafah hidup berbangsa dan bernegara yang berbasiskan agama dan mengandung kearifan lokal,” sambung Marsudi.

Marsudi juga mengatakan, tidak mudah merumuskan Pancasila dan UUD 45, bersepakat hidup dalam negara kesatuan, dan menghargai kebhinnekaan. Karena itu jerih payahfounding fathers Indonesia harus dihargai setinggi-tingginya. “NU terus berupaya melestarikan warisan founding fathers Indonesia dengan cara memegang teguh empat pilar berbangsa dan negara, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI,” tandasnya.

Sementara itu pada hari terakhir Human Rights and Faith in Focus EU-Indonesia Civil Society Seminar, puluhan peserta seminar dari masyarakat Uni Eropa diajak oleh delegasi PBNU untuk berkunjung ke Pondok Pesantren as-Shiddiqiyyah di Kebon Jeruk, Jakarta. Di pesantren yang diasuh oleh KH. Noer Muhammad Iskandar tersebut, mereka berdialog dengan para santri. Dialog yang berlangsung dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris tersebut berlangsung sangat menarik.

“Semoga studi kalian bisa berlanjut hingga ke Eropa, agar bisa mengenalkan Islam damai kepada masyarakat Eropa,” kata Ustadz Adjat Sudrajat di akhir sesi saat memandu dialog.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: