Sudahkah Hilang Rasa Kasih Sayang di Indonesia?

Tanahdatar, NU Online
Berbagai tindakan kekerasan dan radikalisme yang tengah terjadi di negeri Indonesia pertanda negeri ini sudah kehilangan kasih sayang sesama anak bangsa. Tindak kekerasan itu mulai dari pembunuhan, tawuran pelajar/mahasiswa, konflik antar kelompok masyarakat, demontrasi, caki-maki rakyat kepada pemimpin bangsa, sampai kepada bom bunuh diri yang selalu menghiasai ibu pertiwi ini.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Propinsi  Sumatera Barat Dr H Dasril MAg, mengungkapkannya hal itu dihadapan ratusan anggota Mahatma Indonesia, Ahad (9/10/2011), di lapangan  Kototinggi Pandaisikek, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Kegiatan yang digelar sebagai latihan gabungan Sumbar, Riau dan Jambi, dihadiri juga Wakil Ketua PWNU Sumbar Drs Azwandi Rahman MM, Ketua Cabang Mahatma PWNU Sumbar Ir Darmansyah MSc.

Menurut Dasril, hilangnya rasa kasih sayang sesama anak bangsa sebagai salah satu akibat dari hilangnya rasa silaturrahmi sesama anak bangsa. Bagi anggota mahatma menumbuhkan rasa kasih sayang adalah mutlak.

“Kasih sayang itu baik sesama anggota Mahatma, maupun sesama manusia. Bagi kita tidak mengenal demo, caki-maki terhadap pemimpin. Sekalipun tidak berhadapan, tapi kita mencaci-maki pemimpin, boleh jadi pemimpin yang kita caci maki tidak tahu, namun Allah pasti mengetahui kita mencaci makinya,” kata Dasril yang juga asisten guru besar Mahatma Indonesia ini.

Menurut dosen Universitas Negeri Padang ini, bukan berarti kita membiarkan pemimpin berbuat salah (keliru), tapi sebagai rakyat yang dipimpin kita boleh mengingatkan dengan santun, sopan, dan tidak saling mencaci maki. Ketika menyaksikan kemungkaran, kita diperintahkan untuk mencegahnya dengan tangan, mulut dan hati yang paling lemah. Tangan disini bukan saja dengan pukul tangan secara langsung, tapi adalah kekuasaan yang kita miliki.

“Sebagai ketua cabang, bagaimana mencegah perbuatan mungkar di kalangan anggotanya, ketua jaringan begitu pula. Jika di masyarakat memiliki kekuasaan sebagai pemimpin di tingkat masing-masing, maka cegahlah kemungkaran itu sesuai dengan kekuasaan yang dimilikinya,” kata Dasril menambahkan.

Kita tidak mengenal demo, karena demo cenderung merusak, minimal merusak tali silaturrahmi. Khusus bagi anggota mahatma, yang dibolehkan hanya demo senyum. Karena dengan senyum, amarah dan rasa kebencian bakal digeser oleh rasa kasih sayang. ”Apalagi hadist Nabi Muhammad Saw menyebutkan, senyum adalah sedekah. Sehingga menjadi amal ibadah,” tambah Dasril.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: