Ulama Madura Mulai Bahas Penyiksaan Berlebihan dalam Karapan Sapi

Ulama perwakilan dari berbagai ormas Islam di Kabupaten Pamekasan, Madura, Selasa malam, berkumpul membahas pelaksanaan penyiksaan dalam karapan sapi.

Para ulama yang terdiri dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Komunikasi Ormas Islam (Fokus) dan Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam (LP2SI) ini berkumpul di gedung Islamic Centre guna menyamakan persepsi tentang praktik penyiksaan karapan sapi yang biasa di wilayah itu.

Menurut Staf Khusus MUI Pamekasan Azis Maulana, pembahasan penyiksanaan dalam pelaksanaan karapan sapi itu menjadi perhatian ulama, karena praktik itu dinilai sangat tidak manusiawi dan perlu dilakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
“Sebagai salah satu budaya leluhur, para ulama berpandangan karapan sapi merupakan investasi budaya yang perlu dilestarikan. Tapi praktik penyiksaan yang terjadi dalam pelaksanaan karapan sapi perlu diubah,” kata Azis Maulana.

Atas dasar pemikiran itulah, serta berbagai pertimbangan hukum berikut banyaknya keluhan dari kalangan masyarakat tentang praktik penyiksaan dalam pelaksanaan karapan sapi yang selama ini terjadi, maka ulama berkomitmen, agar pola pelaksanaan karapan sapi hendaknya diubah.

Perubahan yang harus dilakukan, sebagaimana yang sempat muncul dalam usulan rapat itu adalah menghapus praktik penyiksaan.

“Seperti membacok pantat sapi dengan menggunakan paku, memoles balsem pada matanya, dan menusuk duburnya dengan besi saat hendak berangkat dari garis star pada waktu perlombaan,” katanya menjelaskan.

Usulan lain menurut dia yang juga sempat muncul dalam forum rapat tertutup itu adalah menghapus praktik perjudian dalam setiap pelaksanaan karapan sapi.

Hasil keputusan rapat Ormas Islam dan ulama Pamekasan di gedung Islamic Centre Pamekasan Selasa (18/10) malam itu, menurut Azis Maulana selanjutnya akan disampaikan kepada Forum Pimpinan Daerah (Forpinda) dan DPRD Pamekasan.

“Ormas Islam yang ada di Pamekasan juga diminta proaktif melakukan gerakan menekan segala bentuk penyimpangan yang bisa merusak nilai-nilai budaya luhur masyarakat Madura,” kata Azis Maulana menjelaskan.

Para ulama dari berabagai Ormas Islam ini juga berharap, agar pelaksanaan karapan sapi pada ajang festifal Karapan Sapi Piala Bergilir Presiden yang akan digelar pada tanggal 23 Oktober 2011, bebas dari praktik penyiksaan.

Sejumlah ulama yang hadir mengikuti pertemuan membahas praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi itu, antara lain Ketua MUI Pamekasan KH Ali Rahbini Abdul Latif, Ketua Forum Ormas Islam (Fokus) Pamekasan KH Abd Gaffar dan Ketua Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam (LP2SI) Moh Zahid.

Sumber: Antara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: