Ulama perlu Beri Contoh upaya Pelestarian Lingkungan

Jakarta, NU Online
Keterlibatan para ulama dan ormas Islam dalam upaya pelestarian lingkungan layak untuk diapresiasi. Tetapi perlu disadari peran para ulama tidak cukup hanya dengan memberikan ceramah, tetapi juga memberi contoh aksi nyata keterlibatan mereka dalam pelestarian lingkungan.

“Aksi nyata penting karena masyarakat umum tidak membaca buku, tapi melihat apa yang dilakukan pada tokohnya,” kata Imdadun Rahmat, wakil sekjen PBNU dalam diskusi terbatas tokoh lintas agama dalam upaya pelestarian lingkungan.

Ia menjelaskan, Nabi Muhammad telah memberikan contoh yang jelas upaya-upaya penyelamatan lingkungan dengan melakukan penghematan apapun sumberdaya yang ada. Sikap efisien Rasulullah mencerminkan kondisi lingkungan di Timur Tengah yang langkah sumberdaya.

“Nabi bersabda, seandainya besok kiamat dan hari ini masih memegang benih, maka tanahlah,” katanya.

Beberapa hadist lain adalah perintah untuk menghidupkan tanah terlantar dan masyarakat yang memelihara, berhak memanfaatkannya, larangan membakar kebun, merusak hutan dan menebang pohon dalam peperangan.

Terdapat pula larangan untuk mengencingi air, baik yang mengalir, apalagi yang air yang terdiam. “Sayangnya hadist ini di lingkungan pesantren masih dimaknai terbatas terkait dengan cara bersuci,” paparnya.

Ia menegaskan, banyak ayat Al Qur’an yang menceritakan soal fenomena alam. Sayangnya, ayat-ayat seperti ini kalah populer dengan ayat-ayat soal jihad yang sering diungkapkan dihadapan publik sehingga yang terekam dalam benak masyarakat juga ayat-ayat tentang jihad tersebut.

“Keajaiban ciptaan alam direkan dalam surat Arrahman, yang sangat indah, yang banyak bercerita tentang kehebatan kreasi tuhan, yang memberikan argumentasi bahwa tak ada alasan kepada manusia untuk tidak tunduk pada tuhan,” jelasnya.

Alam, dalam Al Qur’an digambarkan sebagai ciptaan yang agung dan diciptakan dengan sangat sungguh-sungguh, dengan kebenaran, tidak sia-sia, terukur, detail dengan penuh perhitungan serta keseimbangan.

“Alam adalah ciptaan yang memiliki jiwa dan subyek yang aktif. Saya kira agama-agama memiliki titik temu dalam melihat alam semesta. Jadi alam merupakan ciptaan tuhan yang berjiwa, bukan benda mati yang hanya selalu menjadi obyek, tetapi sesuatu yang melakukan aksi,” terangnya.

Alam, tambahnya, beribadah, tundak dan bertasbih mengagungkan Allah. “Jadi, bukan hanya jin dan manusia saja yang merupakan aktor,” paparnya.

Manusia dalam hal ini diberi mandat untuk menguasai alam dan bertanggung jawab sebagai khalifah, boleh menguasai dan memanfaatkan untuk kepentingan hidupnya, tetapi tidak boleh merusak.

“Alam rusak karena ulah manusia, alam tidak rusak karena dirinya sendiri, dan timbulnya bencana menjadi pelajaran kepada manusia akibat kerusakan yang ditimbulkannya,” tandasnya.

Hadir dalam acara yang digagas oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU ini perwakilan dari Persekutuan Geraja-Geraja Indonesia (PGI), Parisada Hindu serta dari Matakin (Konghucu).

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: