Ilustration

Inilah Lama Puasa di Berbagai Belahan Dunia

JAKARTA – Sekitar 64 negara Muslim di dunia dan lebih dari 1 milyar Muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa.
Ramadhan tahun 2014 ini di beberapa tempat harus dilalui dengan waktu yang sangat panjang dan panas seiring dengan datangnya musim panas.

Di beberapa daerah, Muslim harus menahan lapar dan dahaga selama 15 jam.

Di Timur Tengah dan mayoritas dunia muslim, puasa berjalan cukup panjang, tetapi tidak di wilayah selatan bumi yang mengalami musim dingin pada 21 Juni, yang hanya perlu berpuasa selama 10 jam, sementara di wilayah utara, bisa sampai 20 jam.
Ilustration
Sebuah peta puasa global yang diluncurkan oleh Pusat Astronomi Internasional yang berbasis di Abu Dhabi menunjukkan rata-rata waktu puasa di suatu daerah. Di Saudi dan Yaman selatan, puasa berlangsung sekitar 14 jam, semantara di Iraq, Syria dan negara sekitarnya Muslim perlu menahan lapar antara 15.5-16 jam.

Meskipun ini waktu puasa yang paling lama dalam sejarah, mereka masih dibawah rata-rata di wilayah utara. Di Turki, Muslim berpuasa selama 17 jam, di Italia utara 18 jam, di Perancis Tengah 19 jam dan sekitar 20 jam di Jerman selatan. Hal ini berkebalikan dengan daerah selatan khatulistiwa. Di Chile, rata-rata puasa hanya 10 jam.

Bagaimana menghitungnya?

Waktu puasa dihitung dari periode matahari terbit sampai matahari terbenam, tergantung pada garis bujur dan lintangnya. Waktu puasa mewakili jumlah jam antara shalat subuh dan magrib.

IcoProject memformulasikan peta untuk waktu puasa dari tengah Ramadhan di seluruh dunia, yang kemudian menjadi referensi lama waktu puasa di awal dan akhir bulan puasa, yang mungkin sedikit berbeda dengan yang terepresentasikan di peta.

Kita dapat melihat bahwa jumlah jam puasa di daerah selatan lebih pendek karena musim dingin sehingga malam hari lebih panjang daripada siang hari.

Ketika dalam beberapa tahun kemudian, saat puasa berlangsung pada musim dingin di wilayah utara, karena puasa menggunakan perhitungan tanggal berdasarkan perputaran bulan, maka daerah utara akan berpuasa dalam masa yang pendek sementara daerah selatan akan puasa dalam hari-hari yang panjang.

Dua masalah

Di daerah yang secara geografis ekstrem, seperti di daerah utara yang sedang musim panas, Muslim yang dekat dengan kutub utara akan menghadapi dua masalah. Daerah yang dekt dengan lingkaran lintang utara 50°, akan kesulitan untuk membedakan antara waktu isya’ dan subuh sehingga mereka disarankan untuk menggunakan zona waktu daerah tetangganya di daerah yang lebih selatan yang memiliki waktu normal untuk isya’ dan subuh.

Namun demikian, Muslim yang tinggal di daerah lingkaran lintang utara 67° tidak akan mengalami masa tenggelamnya matahari sama sekali. Karena itu, para ulama dan ahli fikih menyarankan Muslim yang hidup di daerah tersebut menggunakan waktu terbit dan tenggelamnya matahari di daerah yang lebih selatan.

Sumber: NU Online

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: