Gus Yahya Menulis Buku `PBNU` Berdasar Husnuzon kepada Pendiri NU

Jakarta,

Buku berjudul Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) karya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sudah direncanakan untuk ditulis sejak 2013 tetapi baru terlaksana pada 2019, dan terbit pada 2020. Di dalamnya berisi gagasan dan ide Gus Yahya tentang sejarah awal NU berdiri hingga tujuan NU didirikan.

Gus Yahya mengungkapkan bahwa dalam menumpahkan gagasan ke dalam buku PBNU itu dilakukan berdasarkan husnuzon (berprasangka baik) kepada para pendiri NU. Ia mengaku tidak berupaya mencari data pendukung dalam menulis. 

“Tetapi saya menulis jujur, tidak dibuat-buat,” ungkap Gus Yahya dalam Kajian Ramadhan Nusantara Seri Kedua yang membahas buku Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Jumat (15/4/2022). 

Di dalam buku itu, Gus Yahya berpikir tentang konteks berdirinya NU, tujuan para muassis (pendiri) mendirikan NU, dan NU didirikan dalam konteks krisis peradaban serta para muassis mendirikan NU sebagai rintisan untuk membangun peradaban. 
 
“Pikiran semacam ini hanya mungkin kalau kita berhusnuzon kepada para muassis, karena tidak ada rujukan statemen tentang mendirikan NU sebagai rintisan peradaban, yang ada hanya isyarah-isyarah. Para muassis NU bukan hanya genius soal peradaban tetapi juga wali ashabul kasyaf. Saya sungguh-sungguh percaya itu,” jelasnya. 
 
Kalahnya Kekhilafahan Turki Utsmani menjadi cikal-bakal NU didirikan. Gus Yahya menyebut ada keterkaitan seperti puzzle di antara keduanya. Sebab pada masa itu, sangat musykil saat lambang NU diciptakan dengan gambar jagat. 
 
“Tapi kalau kita sambung-sambungkan seperti puzzle, saya berpikir bahwa memang ini berpikir tentang rintisan peradaban,” katanya. 

Gus Yahya menegaskan bahwa pengurus NU saat ini masih memegang mandat peradaban yang dibawa oleh para pendiri. Selama NU masih berdiri, mandat itu masih harus dipegang teguh dan tidak boleh dilepas. 
 
“Seperti makhluk hidup lazimnya, kita harus beradaptasi supaya bisa survive dan tidak punah. NU ini mau punah atau tidak tergantung kita beradaptasi. Selama kita belum punah, kita masih mengemban mandat peradaban,” tegasnya. 
 
Gus Yahya di dalam buku PBNU setebal 148 halaman itu menulis dan menguraikan lima tema besar. Pertama, tentang Islam di tengah dunia yang berubah. Kedua, tentang merintis peradaban baru. Ketiga, mengenali jati diri dan kehendak organisasi. Keempat, pembahasan mengenai menuju pemerintahan Nahdlatul Ulama. Kelima, tentang makrifat organisasi dan takdir peradaban.
 
Pada bab kedua, Gus Yahya menguraikan makna lahirnya NU. Pemikirannya berbeda dengan pemikiran pada umumnya terkait lahirnya NU. Jika umumnya memaknai cita-cita lahirnya NU adalah untuk membendung wahabisme, bagi Gus Yahya dengan kacamata sekarang cita-cita NU adalah cita-cita peradaban baru yang lebih mulia, yang adil dan harmonis berdasar akhlakul karimah dan kesetaraan hak.
 
Selanjutnya di bab tiga, Gus Yahya mengajak Nahdliyin untuk trasformasi pola pikir, setidaknya tiga pola pikir. Pertama, pola pikir tentang lingkup bidang khidmah dan jangkauan sasarannya. Kedua, pola pikir tentang makna program. Ketiga, pola pikir tentang hubungan antar tingkatan kepengurusan dalam pelaksanaan program. 
 
Kemudian di bab empat, Gus Yahya menuangkan gagasannya untuk perjuangan NU di masa depan dengan mengharuskan pembangunan kapasitas kader secara lebih progresif. Nahdlatul Ulama, kebangkitan Ulama, membutuhkan kebangkitan. Pertama kebangkitan intelektual, kedua kebangkitan teknokrasi, ketiga kebangkitan kewirausahaan. 
 
Sementara di bab terakhir, Gus Yahya merangkum poin-poin atau intisari dari buku ini. Paling tidak ada tujuh belas poin penting yang ditulis oleh Gus Yahya. Salah satu poinya adalah bahwa jangkauan ke depan dalam upaya transformasi masyarakat, menuntut NU untuk mentransformasikan organisasinya.
 
Transformasi organisasi itu dilakukan dari konstruksi lama yang sudah menua dan semakin kedaluwarsa menuju konstruksi baru yang lebih menjamin ketangkasan, keuletan dan keluwesan organisasi dalam menyiasati dinamika perubahan masyarakat yang pada era milenial ini ke dalam pengaruh, skala kompleksitas dan akselerasi kecepatannya belum pernah ada presedennya dalam sejarah.
 
Pewarta: Aru Lego Triono Editor: Kendi Setiawan

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.