Gus Yahya Paparkan Lima Musibah yang Ditimpakan kepada Makhluk

Jakarta,

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2022-2027 KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa ada lima musibah yang ditimpakan kepada makhluk.

Hal itu disampaikannya dalam tayangan Jimad Ramadhan #8: Lima Musibah  pada kanal Youtube GusMus Chanel diakeses  , Selasa (19/4/2022).

Sosok yang akrab disapa Gus Yahya ini menjelaskan bahwa musibah pertama yang ditimpakan kepada makhluk adalah sakit di tempat asing. Menurutnya, seseorang yang sakit di tempat asing pasti akan merasa itu berat.

“Kalau cuma sakit di rumah, ditunggui anak-istri itu tidak terlalu berat. Tapi itu sakit di tempat asing. Kamu saja kalau sakit di pondok saja merasa tidak enak kan? Kamu pasti ngalamun, `Kalau sakit di rumah pasti dielus-elus sama ibu`, dan lain-lain kan?” ujarnya.

“Kalau di sini (pesantren), kamu mau minta teman-temanmu untuk ngelus-elus kamu, ya pasti tidak bakal ada yang mau,” imbuhnya sambil disertai tawa santri.

Musibah yang kedua adalah melarat di masa tua. Dikatakannya, ini bisa menjadi musibah yang berat jika diterima makhluk ketika badan dalam keadaan lemah sehingga tidak kuat bekerja dan berujung melarat.

Putra KH M Cholil Bisri ini melanjutkan, dikatakan, musibah yang ketiga adalah mati muda. Ia kemudian menceritakan bahwa dulu dirinya sangat takut dengan kematian, namun sekarang sudah tidak begitu takut.

“Sebab dulu itu aku sangat ingin melihat dunia. Dulu aku punya kaos favorit waktu SMP. Tak tulisi ‘aku ingin melihat dunia dengan mata kepalaku sendiri’. Waktu itu, aku kepingin banget bisa melihat dunia, melihat amerika, melihat arab, pingin lihat sendiri,” bebernya.

“Jadi, aku takut mati ketika itu. Karena kalau aku belum sempat lihat, sudah mati, kan? Sekarang sudah pernah melihatnya sendiri. Jadi tidak begitu takut mati lagi,” lanjutnya.

Musibah  keempat adalah buta sesudah pernah melihat. Menurutnya itu merupakan musibah yang sangat berat sebab sebelumnya bisa melihat bermacam-macam dengan penglihatannya. 

“Pernah melihat kemudian, kemudian buta. Itu musibah, itu berat sekali. Karena nikmat Allah yang paling sering kita rasakan itu kita dapatkan dari penglihatan. Bisa melihat macam-macam,” tukasnya.

Ia kemudian menjelaskan alasan kenapa dirinya ingin melihat dunia dengan mata kepalanya sendiri.

“Itu karena kita bisa menikmati segala hal itu dengan penglihatan. Nah, misalnya kamu makan tidak punya lauk, terus lihat gambar sate di koran. Kemudian makan sambil melihat gambar sate itu, itu rasanya lebih enak,” jelasnya dengan nada bercanda.

Terakhir adalah seseorang sudah pernah ma’rifah, kemudian menjadi nakirah.

“Sudah pernah mengenal Allah kemudian dicabut, sehingga tidak lagi mengenalnya. Artinya apa? Ia menjadi kufur, murtad, wal iyyadzu billah. Ini seperti yang terjadi pada Bal’am bin Ba’ura,” pungkasnya.

Kontributor: Ahmad Hanan Editor: Kendi Setiawan

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.