Islam Agraris: Ekosistem Sufistik Dusun Belung

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Wildan Taufiqur Rahman

Kehidupan Sufistik secara ontologis hingga aksiologis memang termaktub sebagai bagian dari kontruksi tasawuf, dan secara historis maupun antropologis. Munculnya golongan sufi merupakan hasil dari tata kelola spiritual sekaligus intelektual yang biasanya ternaungi dalam pakem-pakem tasawuf.

Menurut Prof Hamka dalam buku Perkembangan Tasauf  Dari Abad ke Abad dijelaskan tasawuf merupakan bentuk hidup kerohanian dengan melalui tata cara atau filsafat keagamaan yang mengacu pada wilayah kejiwaan, dan bagi Prof Hamka, tasawuf juga harus diakui sebagai pusaka keagamaan yang berpengaruh besar pada perasaan serta pemikiran umat muslim. Kemudian ajaran-ajaran tasawuf bersumber pada pondasi Islam sendiri, yang terdiri dari Qur’an, Hadist Nabi, dan semua ketauladanan yang tampak pada diri Nabi Muhammad SAW sekaligus para sahabatnya. Imam Al Ghazali sendiri, sangat tertarik dengan tasawuf sebab didalamnya terdapat latihan-latihan jiwa, yang mampu mempertinggi sifat-sifat terpuji (mahmudah) dan menahan dorongan sifat-sifat yang tercela (mazdmumah).

Kemudian kehidupan sufistik bisa kita temukan secara nyata pada siklus keseharian masyarakat Dusun Belung yang dalam banyak hal menampakkan nilai-nilai tasawuf. Dan dalam konteks artikel ini, masyarakat Dusun Belung yang dimaksud, sebagian besar umurnya sekitar 35 tahun ke atas, dan dari mereka sendiri sebenarnya tidak mengaku sebagai sufi, namun berdasarkan pengamatan penulis terhadap pola hidup mereka, menunjukkan bahwa tasawuf telah menubuh dalam ritus harian mereka.

Dan diantara wujudnya yaitu yasinan-tahlilan yang diadakan dari rumah ke rumah secara rutin di tiap pekannya, walau sedang musim pandemi dan ada larangan dari pemerintah daerah untuk berkumpul, sebab  bagi mereka justru dengan yasinan-tahlilan akan bisa menghalau badai pandemi atau pagebluk ini, lalu rutinan dzikir yang digelar pasca sholat Isak di Masjid Belung dan dipimpin oleh Gus Makmun, Pimpinan Pondok Pesantren Malangsari, Dusun Belung, yang dalam satu momen, Gus Makmun pernah menyampaikan ke penulis bahwa rutinan dzikir tersebut mempunyai tujuan untuk memagari sekaligus menjaga Dusun Belung agar terhindar dari serangan pandemi maupun bencana lainnya.
Baca juga:  Menapak Jejak Musik Klasik Dinasti Abbasiyah
Pada pengamatan lainnya fenomena hidup sufistik juga terlihat pada rutinan majelis dzikir dari Tarekat Qodiriyah wa Naqhsyabandiyah yang diadakan di Masjid Belung, dan dihadiri  cukup banyak orang dari kaum laki maupun perempuan, yang dalam metode dzikirnya mengandung unsur-unsur esoteris. Dan mursyid tarekat tersebut adalah Mbah Kyai Shodiq.

Penulis sendiri beberapa kali bertemu Mbah Kyai, dan suatu hari penulis pernah sowan ke rumah Mbah Kyai yang kondisinya memang tampak sederhana, dan menjadi kekhasan sebagai seorang sufi. Maka dengan menyaksikan fenomena yang ada di Dusun Belung, bisa kita pahami bahwa ada banyak ekspresi bertasawuf dan menurut Abdul Wadud Kasyful Humam dalam buku Satu Tuhan Seribu Jalan dijelaskan bahwa hakikat tasawuf adalah kesadaran atas adanya komunikasi serta dialog langsung antara roh manusia dengan Tuhan, dan adanya yasinan-tahlilan, rutinan dzikir pasca sholat Isak, dan majelis dzikir tarekat merupakan perwujudan dari  dialog ketuhanan tersebut.

Struktur Sosial Petani dan Tradisi Dusun Belung

Erick R. Wolf dalam buku Petani : Suatu Tinjauan Antropologis menjelaskan bahwa ada dua jenis keluarga petani, pertama keluarga inti, kedua keluarga luas. Untuk keluarga inti terbentuk dari pernikahan serta terdiri dari suami-isteri dengan anak-anaknya, kemudian keluarga luas adalah yang mempersatukan dalam satu kerangka organisasi dari sejumlah keluarga inti, dan hal tersebut banyak ditemukan di masyarakat Dusun Belung sehingga secara ikatan sosial menjadi begitu kuat, sekaligus mempermudah pewarisan tradisi yang selama ini telah menjadi turun-temurun dalam masyarakat, yang dengan cara kerja seperti itu akan turut memperkokoh tradisi yang ada di Dusun Belung.
Baca juga:  Tahlil Malaikatan, Kesunyian yang Abadi
Prof Suwardi Endraswara dalam buku Agama Jawa : Ajaran, Amalan, dan Asal-Usul Kejawen mendeskripsikan bahwa ritus-ritus di Jawa jelas mengekspresikan pekerti agama yang penuh dengan muatan spiritualitas, dan di Dusun Belung, ritus tersebut tersusun dalam tradisi-tradisi yang padat dengan makna spiritual tasawuf.  Dan diantara tradisi tersebut sebenarnya sempat disebutkan di awal seperti rutinan yasinan, majelis dzikir serta lebih luasnya juga mencakup pitonan, selapan, slametan, sholawat salalahuk, dan nyekar tiap kamis sore.

Kemudian menurut analisa penulis, saat mengamati perilaku serta sikap dari petani-petani yang ada di Dusun Belung, maka terbaca secara jelas bahwa mereka termasuk manusia-manusia yang mudah untuk mensyukuri apa yang mereka punya, sekaligus selalu berusaha untuk menghubungkan diri pada Allah SWT. Sehingga kehidupannya tampak penuh kesabaran, kesederhanaan, dan ketasawufan. Maka dengan demikian bisa dimengerti bahwa masyarakat Dusun Belung dalam dimensi kehidupannya mempunyai relasi yang kuat dengan alam tasawuf.

 Sufisme Jawa di Dusun Belung

Berdasarkan pada komponen-komponen spiritual maupun tradisi yang ada pada masyarakat Dusun Belung maka bisa ditafsirkan bahwa perwujudan dari sufisme Jawa ada di Dusun Belung, dan dalam konteks lokalnya biasanya disebut sebagai kejawen. Kemudian menurut Samudra Eka Cipta dalam jurnal yang berjudul Ranggawarsita dan Sufisme Jawa : Studi Pemikiran Bagus Burham Terhadap Budaya Islam Jawa (1823-1870) dipaparkan bahwa kejawen sendiri proses kemunculannya berawal dari tasawuf dalam Islam. Terutama berkaitan dengan hakikat Makrifatullah yang merupakan konsep hubungan antara manusia dengan Tuhannya dengan melalui wasilah ritual sekaligus syariat Islam.
Baca juga:  Ahmad Tohari dan Anton Chekhov
Pada masyarakat Dusun Belung hal itu terlihat pada tradisi atau ritual yang penuh dengan simbol-simbol kebaikan, keislaman, maupun ketasawufan, yang biasanya simbolisasi tersebut tersimpan pada pernak-pernik makanan yang disuguhkan. Sehingga sampai pada poin ini, bisa kita maknai bersama bahwa ekosistem sufistik bisa lestari dikarenakan dukungan sosial, tradisi , sekaligus kesadaran spiritual masyarakatnya, dan semua hal tersebut ada pada masyarakat Dusun Belung.

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.