Ketika Anak-anak Menyimak Ensiklopedia

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Joko Priyono

Ada masa teknologi sentuh layar belum menjadi kebudayan bagi banyak orang. Apalagi penyerahan secara sengaja pengasuhan orang tua dengan keberadaan gawai alih-alih disibukkan tumpukan pekerjaan dan kesibukan lainnya. Namun, kehidupan melahirkan ritme yang berbeda. Dahulu, pertemuan secara langsung adalah obrolan panjang dengan mengisahkan banyak hal menghasilkan kesan yang senantiasa dirindukan. Mungkin, kini pertemuan tersebut telah tergantikan dengan tatap layar.

Anak-anak menjadi kelompok yang terdampak atas kedigdayaan gawai. Banyak perubahan terjadi dalam berbagai aspek. Termasuk mengenai paradigma dalam keberadaan bahan bacaan yang disediakan orang tua. Masa lalu mengisahkan bacaan anak menjadi satu jalan proses diri dalam memaknai kehidupan. Anak-anak berhadapan dengan teks, gambar berwarna, dan pernak-pernik lainnya sebagai godaan untuk berlatih dalam mengembangkan minat dan bakat.

Ensiklopedia yang terdiri jilid-jilid mengesahkan bacaan penting dan mewah pada masanya. Di rak buku dalam keluarga, belumlah lengkap ketika tak tampak ensiklopedia. Ensiklopedia bukan barang sepele dan sederhana. Ia menjadi panduan dalam pencarian demi pencarian istilah kata. Lema demi lema istilah tersusun berdasarkan abjad, disertai penjelasan demi penjelasan yang membat para pembaca paham dan mengerti. Ia bak mesin pencari sekelas Google di zaman ini.

Ensiklopedia Anak

PT Ichtiar Van Hoe dalam sejarah menjadi penerbit penting dalam urusan ensiklopedia. Pada 1984 menerbitkan seri Ensiklopedi Indonesia dengan total  tujuh jilid. Sementara itu dalam konteks anak-anak sejumlah enam jilid berjudul Ensiklopedi Populer Anak diterbitkan pada 1998. Buku tak murni dari kalangan cendekiawan maupun ilmuwan Indonesia dengan berbagai latar belakang keilmuan di sana. Pada kenyataannya, berupa terjemahan dari judul aslinya Children’s Ilustrated Encyclopedia terbit pada 1991.
Baca juga:  Adakah (Kajian) Filsafat Islam di Indonesia?
Menariknya, program tersebut pada masanya—Orde Baru, pemerintah hadir dan berkepentingan dalam urusan bacaan anak. Tak mengherankan ketika dalam buku tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, Juwono Sudarsono, memberikan pengantar. Perhatian yang memberikan gambaran pemerintah seakan tergambarkan dalam tulisannya: “Sekalipun sebagian besar isi Ensiklopedi Populer Anak ini merupakan hasil karya terjemahan, buku ini berusaha keras menampilkan keindonesiaanya dengan menambahkan entri-entri khas Indonesia. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh anak-anak dari buku ini bukan hanya yang berlaku umum untuk seluruh dunia, melainkan juga yang bersifat khusus Indonesia.”

Pendidikan dan Politik Bahasa

Fakta itu membawa pada penelusuran politik bahasa dalam pendidikan. Di era Orde Baru, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjadi lembaga yang ditugasi dalam pengembangan bahasa dalam pengembangan keilmuan. Kita temukan dalam dua jilid buku Politik Bahasa Nasional terbitan Balai Pustaka tahun 1986. Buku itu cetak ulang hasil dari proyek pengembangan bahasa dan sastra Indonesia dan derah pada 1976.

Di jilid pertama, ada sebuah tulisan dengan judul “Politik Bahasa Nasional dan Pengembangan Pendidikan” garapan Basjuni Suriamihardja. Konteks diketengahkan berupa  upaya penerjemahan dan penyediaan buku bacaan bagi anak, baik itu berupa kamus hingga jenis bacaan terjemahan seperti ensiklopedia. Tentu saja maksud baik mendasarnya adalah bahasa Indonesia dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan. Anak-anak Indonesia agar tak ketinggalan di tingkat global.
Baca juga:  Bahagia itu Sederhana
Penjelasannya: “Penyediaan kamus (umum, istilah) yang baru dan progresif, peningkatan usaha terjemahan buku ilmiah yang ditulis dalam bahasa asing, pengadaan buku-buku pelajaran bagi murid-murid dalam jumlah yang mencukupi, penlisan buku-buku informasi bagi murid-murid dan guru-guru, buku-buku ceritera dan lain-lain, merupakan kebutuhan mutlak.”

Keluarga

Peran keluarga sentral terhadap gairah anak-anak berpengetahuan. Dahulu, buku jenis buku semacam ensiklopedia menjadi barang mewah yang mengesahkan keluarga berilmu saat keberadaannya menghiasi rak-rak buku keluarga. Ensiklopedi menjadi sumber imajinasi tanpa batas. Ia tak sebatas berfungsi sebagai mesin pencari, tetapi lebih dari itu. Keberadaannya juga melatih diri dalam mencari keterhubungan antara satu istilah dengan lainnya. Keterampilan seseorang berhadapan ensiklopedia merupakan satu jalan menuju kesadaran ilmu pengetahuan.

Kita teringat dengan sebuah tulisan dari Ki Hadjar Dewantara, Keluarga Sebagai Pusat Pendidikan (1935). Posisi keluarga dalam relasi antara anak dan orang tua merupakan sistem pembelajaran penting dalam membentuk kecerdasan budi pekerti dan persiapan hidup kemasyarakatan. Ia menegaskan : “Pertama kalinja tiap-tiap machluk itu mempunya naluri pedagosis (chewan djuga), sedangkan keda kalinja mereka itu terhadap anak-anaknja senantiasa melakukan usaha jang sebaik-baiknja untuk kemadjuannja.”

Kemajuan internet konon membuka keterpisahan orang tua dengan anak-anaknya. Apalagi teknologi termaknai sebagai sarana penolong terhadap banyak hal, termasuk proses pendidikan bagi sang anak. Padahal justru terjadi adalah keterpisahan dalam memeknai hakikat hidup. Internet bisa jadi hanya sebatas menjadi sarana pencarian saja, ia tak mendorong untuk berpengatahuan lebih, seperti pencarian, mencari keterhubungan, hingga eksplorasi pengetahuan bagi tumbuh dan kembang anak-anak.[]
Baca juga:  Waktu yang Dibutuhkan Khalifah Umar dan Putranya untuk Belajar al-Baqarah

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.