Kiai Zulfa Sebut Pandangan Genuine Kiai Afifudin Muhajir dalam Kitab Jumhuriyah Indonesia

Jakarta,

Sosok KH Afifudin Muhajir menjadi kebanggaan Nahdlatul Ulama (NU) karena NU memiliki seorang ulama yang mengagumkan. Kiai Afif memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Kiai Afif tidak pernah belajar di Arab, tetapi kemampuan bahasa Arabnya luar biasa.
 
Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa mengatakan hal itu saat diskusi Kajian Ramadhan Nusantara Seri 1 yang membahas Kitab Jumhuriyah Indonesia al Muwahhadah fi mizan as-Syari`ah karya KH Afifuddin Muhajir, Kamis (7/4/2022). 
 
“Kiai Afif menulis seperti orang Arab menulis dengan bahasa asli baik dari keindahan sastranya, selain sisi kedalaman ilmunya,” kata Kiai Zulfa lalu membacakan syair kasidah dalam bahasa Arab yang ditulisnya.
 
Kiai Zulfa mengatakan pengakuan akan kedalaman ilmu Kiai Afif pernah dilakukan oleh KH Maruf Amin antara tahun 2004-2005. Menurut Kiai Zulfa, salah satu tulisan Kiai Afifuddin Muhajir yang hanya sekitar 40 halaman sebagai buku yang luar biasa bagi NU dan santri khsusunya untuk melihat kedalaman dalam menggali nilai maqasid yang ada di dalam Pancasila.

“Beliau dengan keren menghubungkan antara Pancasila sebagai realitas dan sebagai nash Qur’an,” kata Kiai Zulfa.

  Dalam memahami nash, lanjut Kiai Zulfa, Kiai Afif mengatakan pertama harus memahami dan menjaga bahasa Arab yang pada nash itu. Berikutnya, mengaitkan satu nash dengan nash yang lain, mengakitkan nash dengan maqasid, dan mengaitkan nash dengan asbabul nuzul.

“Kiai Afif harusnya menambah (syarat) nomor lima, Pancasila dan NKRI yang harus dibaca, sebab itulah inti yang ditulis pada buku tersebut,” imbuhnya.
 
Kiai Zulfa meneruskan, Kiai Afif dalam kitabnya mengungkapkan bagaimana NKRI dalam timbangan syariah, bahwa bentuk negara tidak pernah ditulis atau diatur secara khsusus oleh syariat. “Apa yang beliau katakan bentuk negara masuk muamalah,” ujarnya.

Pada kitab yang merupakan naskah yang disampaikan saat pemberian gelar kehormatan doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang pada 20 Januri 2021 itu, Kiai Afif memberi catatan bahwa yang penting dari sebuah negara bisa terpenuhi hukum-hukum Allah. Kiai Afif menjelaskan sila pertama sampai kelima dengan cara yang luar biasa. “Sampai sila kedua Pancasila semua maqasid syairah terpenuhi apalagi ketiga, keempat, dan kelima,” ungkap Kiai Zulfa.
 
Mengutip seorang penyair Arab pada masa klasik, kemanusiaan sebagai manusia yang sempurna ketika adil dan beradab diterapkan. Dari sini betapa kedalaman Kiai Afif dalam mendapatkan dalil-dalil yang sesuai dengan keilmuan yang disampaikannya.
 
Hal yang menarik, Kiai Afif begitu jauh dan panjang dalam berpandangan ketika menyatakan bahwa sila pertama dalam Pancasila diumpamakan seperti rukun Islam pertama, dan rukun Iman pertama. 
 
Hal ini yang membuat Kiai Afif berpandangan tidak perlu adanya negara islam, meskipun, kata Kiai Zulfa tidak disebutkan di dalam buku ini seperti rukun yang paling pokok. Sebab, tidak ada sila berikutnya kalau tidak ada yang pertama.
 
“Sama seperti rukun Islam tidak ada rukun Islam kedua dan seterusnya kalau tidak membaca syahadat. Sama seperti tidak ada percaya nabi jika tidak percaya pada Allah,” terang Kiai Zulfa.
 
Pandangan Kiai Afif itu, tegas Kiai Zulfa, sebagai sesuatu yang sangat genuine, sebab tidak diungkap penulis sebelumnya. 
 
Diskusi Kajian Ramadhan Nusantara diadakan oleh Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia). Turut hadir pada kesempatan tersebut KH Afifuddin Muhajir, KH Moqsit Ghazali, Rumadi Ahmad. Seri berikutnya dari diskusi ini akan berlangsung Kamis, 14 April 2022 yang dijadwalkan membahas Buku Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) karya Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
 
Pewarta: Kendi Setiawan Editor: Alhafiz Kurniawan  

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.