Masa Lalu dan Buku

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Bandung Mawardi

Masa bocah, masa berhuruf untuk kenikmatan bergelimang cerita. Bocah-bocah bergairah mendengar cerita. Dunia pun berubah. Bocah-bocah membaca buku mendapat seru dan peta imajinasi. Mereka menerima “mukjizat” atas sejarah aksara dan konsekuensi mesin cetak-Gutenberg. Bocah-bocah bersama buku-buku mencipta hari-hari tak sia-sia.

Kita membuka Intisari Ekstra edisi Juni 2012. Di situ, ada sosok menggerakkan pustaka anak: Murti Bunanta. Selama puluhan tahun, Murti Bunanta tekun dalam mengadakan bacaan-bacaan bermutu dan berharapan anak-anak di seantero Indonesia gandrung buku. Ia memihak buku demi pembentukan biografi anak-anak. Pengharapan kadang bermasalah dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, tata hidup abad XX, dan siasat pendidikan-pengajaran.

Tahun demi tahun, ia bersukacita dengan buku-buku untuk santapan anak-anak. Ia pun sering prihatin dengan industri buku anak menghasilkan buku-buku tak bermutu. Murti Bunanta memutuskan tekun mendongeng dan menulis buku-buku. Acara-acara diselenggarakan agar dongeng-dongeng Nusantara dan perbukuan anak dalam langgeng dan terang.

Ia tetap berharapan: “Murti Bunanta terus bercerita penuh semangat. Satu tangannya memegang buku bersampul biru, satu tangannya yang lain bergerak kian kemari. Mimiknya berubah-ubah: kadang sedih, kadang gembira bahkan kadang terlihat lucu. Ada harapan terpancar di wajahnya, sebuah harapan besar kepada anak-anak Indonesia.”

Tahun-tahun berlalu dari pengharapan Murti Bunanta tercatat dalam Intisari. Pada 2021, pengharapan membesar dengan penerbitan buku berjudul Berkelana Lewat Buku memuat pengalaman dan pengakuan Murti Bunantar dan kawan-kawan. Mereka itu penulis bermasa lalu sebagai bocah terpikat buku. Kita melihat kegirangan di kulit buku, memicu tafsir bahwa abad XXI masih mungkin menularkan keranjingan membaca buku bagi anak-anak. Buku itu tipis tapi pengharapan tetap tebal.
Baca juga:  Usahamu Tak Ada Hubungannya dengan Prestasimu
Murti Bunanta mengenang masa bocah sebagai pemilik sekotak buku: “Mengenai buku cerita bukan bentuk komik, samar-samar ingat saya membaca dan mempunyai Si Djamin dan Si Djohan, Si Samin, dan Si Doel Anak Djakarta. Entah cetakan keberapan yang saya baca waktu itu.” Tiga buku mengingatkan bacaan anak masa 1920-an dan 1930-an. Buku-buku memikat tapi jarang dicetak ulang dengan apik oleh Balai Pustaka atau tergunakan dalam pengajaran sastra di sekolah melalui pelbagai media. Kini, buku-buku itu mungkin nostalgia saja bagi sedikit orang.

Buku-buku lawas justru menentukan biografi (akademik) Murti Bunanta: “… ternyata buku-buku itu kembali menjadi bacaan favorit dan bahan studi saya setelah puluhan tahun kemudian saya menjadi ahli sastra anak.” Pada masa berbeda, anak-anak di Indonesia mendapat “santapan” cerita gubahan Soekanto SA, Mansur Samin, Arswendo Atmowiloto, A Soeroto, dan lain-lain. Buku-buku anak terbitan masa 1970-an dan 1980-an dalam suasana nalar birokrasi dengan cap Inpres. Sekian penerbit partikelir kadang berikhtiar menerbitkan buku-buku tanpa “petunjuk” Inpres berupa buku terjemahan atau gubahan pengarang Indonesia.

Kegandrungan anak-anak membaca buku-buku Soekanto SA menghasilkan tulisan akademik oleh Riris K Sarumpaet. Kita disuguhi buku berjudul panjang: Bacaan Anak-Anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke Dalam Hakekat, Sifat, dan Corak Bacaan Anak-Anak serta Minat Anak pada Bacaannya (1976). Buku membuktikan mutu buku-buku gubahan Soekanto SA berada di babak sambungan kemunculan buku anak di Indonesia, sejak awal abad XX. Riris K Sarumpaet mengingatkan mutu buku, bocah sebagai pembaca, peran penerbit, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Buku merekam situasi hidup anak-anak saat berhadapan buku-buku terbitan Pustaka Jaya, Balai Pustaka, Djambatan, Indra Pres, BPK Gunung Mulia, dan lain-lain.
Baca juga:  Resensi Buku: Persahabatan Rasulullah SAW dengan Pemeluk Agama Lain
Soekanto SA, pengarang dengan cerita-cerita turut berpengaruh dalam masa bocah Iksaka Banu. Kita mengutip pengakuan Iksaka Banu dalam Berkelana Lewat Buku saat suka membaca: “… di awal tahun tujuhpuluhan, bacaan untuk anak masih sangat sedikit. Rata-rata anak seusia saya (7-10 tahun), terpaksa membaca koran, buku, atau majalah miliki orangtua.” Dulu, Iksaka Banu terbiasa membaca majalah-majalah dewasa, berlanjut tergoda dengan majalah Si Kuncung dan Kawanku.

Iksaka Banu mengenang: “Dua majalah itu segera menjadi kesayangan kami. Cerita-cerita di dalamnya, seingat kami, sangat sederhana tetapi memikat. Ditulis oleh nama-nama yang kemudian menjadi legenda, Soekanto SA….” Hari-hari bersama bacaan membentuk masa depan. Pada suatu masa, kita membuktikan keampuhan Iksaka Banu dalam menggubah cerita. Ia mempersembahkan Semua untuk Hindia, Teh dan Pengkhianatan, dan Sang Raja.

Kurnia Effendi pun mengalami masa belum berlimpahan buku. Ia mula-mula menikmati koran terbit di Jogjakarta: Kedaulatan Rakyat. Si bocah itu menggemari serial Api di Bukit Menoreh gubahan SH Mintardja. Hari-hari menikmati cerita berpengaruh saat dewasa. Di sastra Indonesia, Kurnia Effendi menjadi pengarang rajin menggubah cerita dan puisi. Kurnia Effendi mengenang saat kelas 6 SD mulai ketagihan komik-komik silat dan hero. Ia menghabiskan duit di tempat persewaan komik. Hidup mungkin menjadi menggairahkan dengan membaca Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Jaka Sembung, Gundala Putra Petir, dan lain-lain.
Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (28): Syarah Jurumiyah Bernuansa Tasawuf
Pengalaman dan pengakuan tujuh penulis dalam Berkelana Lewat Buku mungkin memiliki kemiripan saat mereka sadar berhadapan dengan bacaan-bacaan. Kekaguman atas buku dan pengarang memberi percik pengharapan kelak bakal menjadi pengarang. Mereka tak terputus dari masa lalu, masa menjadi bocah dan remaja. Pada masa berbeda, mereka menjadi pengarang. Begitu.

 

Judul           : Berkelana Lewat Buku

Penulis        : Murti Bunanta dan kawan-kawan

Penerbit      : Bestari Buana Murni

Cetak          : 2021

Tebal          : 104 halaman

ISBN           : 978 602 341 321 8

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.