Mudik dan Pesan Piil Pesenggiri

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Rohmatulloh

Memasuki pintu gerbang di ujung pulau Sumatera, terdapat sebuah tulisan nilai atau budaya kearifan lokal Piil Pesenggiri pada salah satu bagian dinding gedung Anjungan Agung di Pelabuhan Bakauheni. Tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi pelaku perjalanan yang mungkin akan melakukan mudik tahun ini di masa pandemi Covid-19. Pesan penuh makna tersebut sejatinya harus diedukasi dan diinternalisasikan khususnya bagi generasi muda yang belum tentu paham keunggulan nilai kearifan lokal dibandingkan orangtuanya yang asli lahir dan besar di kampung halamannya.

Nilai atau budaya kearifan lokal memiliki makna penting karena menjadi identitas sebuah kelompok atau masyarakat dalam mempertahankan eksistensi kehidupannya dan menciptakan perubahan walaupun di tengah kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai individualistis dan pragmatis sebagi ciri masyarakat modern. Terkait dengan itu,  di Jawa Barat terdapat nilai kearifan lokal yang masih terus dipertahankan masyarakat kampung adat walaupun umurnya sudah lebih dari ratusan tahun. Masyarakat adat Cirendeu yang dengan prinsipnya ngindung ka waktumibapa ka jaman. Salah satu penerapannya yang populer di bidang pangan yang menjadi inspirasi para pemangku kepentingan menciptakan program diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal yang tidak tunggal atau selain beras.

Pentingnya sebuah nilai atau budaya kearifan lokal sebagai cerminan cara hidup sebuah kelompok dapat dipengaruhi dari kondisi geografisnya. Misalnya masyarakat Kota Nanxiong di Tiongkok. Dalam sebuah artikel penelitian ilmiah, kota ini berada di daerah pengunungan. Saat musim dingin, nilai budaya makan yang panas atau pedas (la) membantu mengurangi rasa dingin. Dengan demikian identitas geografis memengaruhi budaya rasa masakannya.
Baca juga:  Tahlilan di Negeri Khabib Nurmugamedov
Tiongkok juga dikenal sebagai raksasa ekonomi global yang di mulai pada masa Reformasi Deng Xioping atau masa kemakmuran. Ini terwujud karena peran nilai yang menjadi pegangan hidupnya, inovatif, kekeluargaan, kerja keras, optimis, terbuka terhadap perubahan dan belajar dari negara lain.

Demikian juga pada kelompok yang dikenal sebagai organisasi kejahatan pun pasti memiliki nilai untuk mempertahankan eksistensinya dari serangan kelompok lain. Kelompok seperti mafia memiliki nilai pengabdian dan kesetiaan total kepada kepala dan sistem keluarga, saling menawarkan bantuan, setia kepada teman, melindungi anggotanya dari serangan orang luar, dan menghindari interaksi dan sosialisasi dengan pihak yang korup dan jahat. Jadi tergantung kita untuk apa nilai tersebut akan dimanfaatkan, untuk kebaikan atau kejahatan? Sebagai seorang penganut beragama tentunya berorientasi pada kebaikan karena sumber nilai teologisnya berasal dari kitab suci.
Nilai kearifan lokal Piil Pesenggiri 
Piil Pesenggiri merupakan prinsip yang dianut masyarakat Lampung sejak turun menurun memiliki nilai keunggulan yang harus diinternalisasikan khususnya pada anak-anak generasi milenial. Piil Pesenggiri memiliki prinsip nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan.

Anak milenial dengan karakteristiknya sebagai generasi Thumbelina yang hidup menggunakan satu jari melalui smartphonenya lebih nyaman beraktifitas mandiri yang cenderung individualistis. Contoh sederhanya jika ada tamu berkunjung ke rumah, cenderung orangtuanya yang menyambut dan menyiapkan sajian minuman atau makanan. Nemui nyimah menjadi prinsip yang mesti diinternalisasikan pada anak agar terbiasa ramah tamah dan peduli dalam menyambut dan memuliakan tamu. Dalam konteks yang lebih luas di pekerjaan, nantinya anak sudah terbiasa untuk memberikan pelayanan prima (service excellent) sesuai bidang tugas dan pekerjaannya.
Baca juga:  Sejarah dan Makna Filosofis Tradisi Kupatan
Begitu pun dengan nengah nyappur untuk membiasakannya berinteraksi kepada siapapun walaupun dari beragam latar belakang agama, ekonomi, sosial, dan budaya yang berbeda. Tentunya, nilai atau budaya lokal dan global lainnya juga harus dikenalkan agar anak memiliki gambaran peta budaya (culture map) yang luas sehingga menjadi jembatan dalam bersosialisasi dan berakulturasi dengan budaya masyarakat lokal majemuk dan global. Namun tetap dengan mempertahankan nilai ajaran agama sebagai fondasi.

Terakhir, sakai sambayan maknanya tolong menolong dan bergotong royong. Nilai luhur yang dimiliki bangsa Indonesia sudah sejak dulu. Hal ini dapat dilihat dari ragam istilah yang berbeda-beda di berbagai daerah seperti sabilulungan di Jawa Barat, nyambat di Jakarta, dan lainnya sehingga tidak perlu diragukan keunggulan nilai atau budaya kolaborasi ini walaupun nilai instumental atau penjabarannya terus berubah mengikuti perkembangan waktu.

Potret keunggulan nilai atau budaya kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia, sejatinya dalam mudik Idulfitri tahun ini jangan lupa untuk diedukasi dan diinternalisasikan pada generasi milenial. Nilai ini selaras dengan nilai ajaran agama dan penguatan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional. Wallahua’lam.

 

 

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.