Murid-Murid Imam Syafi’i (2): Abu Tsaur al-Baghdadi, Murid yang Sebelumnya Bermazhab Hanafi

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh M Jauharil Ma’arif Annur

Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Khalid bin Abi al-Yaman. Namun, ia lebih dikenal dengan nama laqabnya, Abu Tsaur. Ia berguru pada banyak ulama agung di masanya, seperti Sufyan bin ‘Uyainah, Waki’, Abu Muawiyah, Abdurrahman bin Mahdi, Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (salah satu murid senior Abu Hanifah) dan Muhammad bin Idris as-Syafi’i.

Namanya memang tidak setenar ulama lain. Akan tetapi, Abu Tsaur merupakan murid kawakan Imam Syafi’i ketika di Baghdad, bahkan ia adalah salah satu ulama yang masuk dalam kategori “Mujtahid Mutlak” sehingga dalam hal berijtihad, ia sejajar dengan gurunya, Imam Syafi’i dan Imam Mazhab yang lain. Sayangnya, Mazhab Abu Tsaur tidak sampai kepada kita karena tidak terkodifikasi dengan baik dan kurangnya peran murid-muridnya dalam menyebarkan dan mengembangkan mazhab ini.

Meskipun Abu Tsaur sudah dianggap sebagai “Mujtahid Mutlak” dan mempunyai Mazhab tersendiri, ia tetap menjadi bagian penting sebagai rujukan utama para ulama Syafi’iyyah (pengikut Mazhab Syafi’i) dalam meriwayatkan pandangan-pandangan Imam Syafi’i, terutama dalam Qoul al-Qodim (pendapat Imam Syafi’i sebelum hijrah ke Mesir).

Selain sebagai ahli fikih, Abu Tsaur juga dikenal sebagai ahli hadits yang terpercaya. Dalam kitab Tarikh Baghdad, Khotib al-Baghdadi melabeli Abu Tsaur sebagai ats-Tsiqot al-Ma’munin, sangat dipercaya kredibelitasnya. Karena kealimannya ini, tak heran, banyak ulama kesohor yang menjadi anak didiknya, semisal Imam Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Abu Qosim al-Baghowi dan masih banyak lagi.
Baca juga:  Ulama Banjar (82): H. Muchyar Usman
Pada awalnya, Abu Tsaur berguru kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani dan bermazhab Ahlu ar-Ra’yi (sebuah metode ijtihad yang lebih mengedepankan rasio (akal) daripada hadits). Walakin (tetapi), setelah kedatangan Imam Syafi’i ke Baghdad dan perdebatannya dengan sang guru, ia berpindah haluan mengikuti mazhab pemikiran Syafi’i, yaitu metode yang berusaha mencari jalan tengah antara rasio (akal) dan nas (al-Qur’an dan Hadits).

Tentang ihwal perpindahannya, Abu Tsaur mengisahkankan hal ini dengan detail:

Awalnya, aku (Abu Tsaur) adalah pengikut setia Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Ketika Imam Syafi’i datang ke Baghdad, aku mencoba mendatangi majelisnya untuk mengetes kealimannya. Kemudian aku bertanya kepadanya suatu permasalahan tetapi ia malah diam dan bertanya balik kepadaku: “Bagaimana engkau mengangkat tanganmu ketika sholat?”

Kujawab: “Caranya begini (seraya mempratikkan gerakannya).”

Ia berkata: “Engkau salah!”

Aku bertanya lagi: “Lalu bagaimana cara yang benar?”

Ia menjawab: “Cara yang benar adalah engkau mengangkat tanganmu lurus dengan kedua pundakmu. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Sufyan ats-Tsauri.”

Dialog tersebut sangat membekas di hatiku. Aku mulai sering datang ke majelis Imam Syafi’i dan semakin jarang menghadiri majelis Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Sampai suatu hari, Muhammad bin Hasan bertanya kepadaku: “Wahai Abu Tsaur, kelihatannya engkau mulai berpindah haluan ke orang Hijaz itu (Imam Syafi’i).”
Baca juga:  Ulama Banjar (26): H. Umar Baqi
Kujawab: “Benar wahai guru, karena aku menemukan kebenaran padanya.”

Begitulah kisah Abu Tsaur mengenai awal ketertarikannya pada Imam Syafi’i.

Semasa hidupnya, banyak ulama yang memuji keilmuan dan kemahiran Abu Tsaur. Misalnya ketika Ahmad bin Hanbal ditanya tentang sosok Abu Tsaur, ia menuturkan: “Aku mengenalnya (Abu Tsaur) sebagai orang yang lekat dengan sunnah Nabi sejak 50 tahun belakangan. Ia (Abu Tsaur) bagiku, bagaikan Mislakh (sosok pengganti) dari Sufyan ats-Tsauri.” Tidak jarang juga, sewaktu dimintai jawaban atas suatu persoalan, Ahmad bin Hambal berkata: “Tanyalah kepada selainku, tanyalah pada pakar hukum lain, tanyalah Abu Tsaur.”

Abu Tsaur kembali ke hadapan sang pencipta pada 3 Shofar 246 Hijriyyah di Baghdad. Ia dikebumikan di area pemakaman bab al-Kunas, Baghdad. Abu Tsaur adalah potret ulama yang mengerahkan seluruh hidupnya untuk ilmu dan kebenaran. Ia tidak sungkan untuk menerima kebenaran dari siapapun. Rahimahullahu ta’ala wa radhiya ‘anhu.

Referensi:

  1. As-Subki, Tajuddin. 2019. Thobaqot as-Syafi’iyyah al-Kubro. Kairo: Dar al-Faruq.
  2. Khallikan, Ahmad Ibnu. 2012. Waffiyatu al-A’yan. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
  3. Ad-Dimasyqi, Abu al-Falah. 1988. Syadzarat adz-Dzahab. Beirut: Dar Ibnu Katsir.
  4. Al-Baghdadi, Abu Bakr al-Khotib. Tt. Tarikh Baghdad. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
  5. Al-Asqolani, al-Hafidz Ibnu Hajar. Tt. Tahdzib at-Tahdzib. Kairo: Dar al-Kitab al-Islami.

Baca juga:  Sketsa Singkat Pangeran Diponegoro Sebagai Muslim Jawa
 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.