Rahasia di Balik Air Putih saat Berbuka Puasa dalam Kajian Thibbun Nabawi

Apa yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk berbuka puasa? Hampir semua orang yang menjawab pertanyaan ini menyebutkan keutamaan kurma sebagai pilihan pertama. Namun, bila tidak ada kurma maka air putihlah pilihannya.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari menu buka puasa berupa air putih. Selain karena murah dan mudah ditemukan di mana-mana, hampir setiap orang memilikinya untuk sekedar berbuka puasa. Namun, air putih sebagaimana yang disabdakan Nabi sebagai pilihan untuk berbuka puasa tentulah memiliki nilai lebih.

Dalam kitab Thibbun Nabawi, al-Hafiz adz-Dzahabi mengungkapkan sebuah hadits tentang air putih sebagai pilihan untuk berbuka puasa bila tidak ada kurma.

“Menurut sunnah Nabi, orang yang berpuasa dianjurkan mulai berbukanya dengan kurma. Nabi SAW bersabda barangsiapa yang tidak menemukan kurma hendaklah berbuka dengan air karena air itu suci. Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasai.” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 90)

Orang yang meneguk air putih sebagai pembuka puasanya sesungguhnya sedang mengencerkan dan menelan ludahnya sendiri bersama air itu. Saat air putih ditelan membasahi lidah, gigi,  rongga mulut, dan kerongkongan, maka air ludah orang yang berpuasa akan ikut masuk ke saluran pencernaan. Di dalam proses ini, air ludah diencerkan dengan air putih yang ditelan.

Air ludah orang yang berpuasa sesungguhnya berbeda dengan ketika tidak berpuasa. Ada banyak manfaat yang diungkapkan oleh para ahli tentang keunikan ludah orang yang berpuasa. Ketika ludah ini ditelan bersamaan dengan masuknya air putih saat buka puasa, konsentrasinya yang semakin encer akan memudahkan lambung dan usus dalam mengolah dan menyerap zat berkhasiat yang ada di ludah orang yang berpuasa.

Di dalam kitab Al-Qanun fit Thibb yang ditulis oleh Ibnu Sina, dibahas berbagai macam keunikan air ludah orang yang sedang berpuasa. Di antara manfaat air ludah orang yang sedang berpuasa adalah meredakan sakit telinga bila diteteskan, menyembuhkan luka akibat infeksi kurap bila dioleskan dengan kamfor dan sebagai antiracun bila digunakan secara langsung. Manfaat sebagai antiracun inilah yang sangat bermanfaat bila ludah diencerkan dengan air putih saat berbuka puasa.

“Air liur orang yang berpuasa, bila diteteskan, meredakan sakit telinga. Jika dihinggapi kecacingan, air liur yang dioleskan bersama dengan kamfor akan menghilangkan gatal-gatal yang disebabkan oleh infeksi cacing itu dengan cara membunuh cacing dan langsung mengeluarkannya. Air liur orang yang berpuasa dapat melawan racun. Orang yang berpuasa apabila meludahi kalajengking berulang kali, maka kalajengking itu akan mati.”(Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina, Al-Qanun fit Thibb Book II, Jamia Hamdard, New Delhi, 1998: 418)

Sekilas dari keterangan Ibnu Sina di atas, air liur orang yang berpuasa berfungsi sebagai obat dan antiracun, bahkan bisa membunuh kalajengking bila diludahkan berulang kali. Dalam konteks berbuka puasa, air liur orang yang berpuasa tidak akan berbahaya bagi manusia itu sendiri yang menghasilkannya. Bahkan bila ditelan bersamaan dengan air putih saat berbuka puasa, maka akan menyehatkan badan orang yang berpuasa itu.

Kembali ke manfaat air putih sebagai menu buka puasa, ada beberapa hal tentang air putih yang perlu diperhatikan. Menurut al-Hafiz Adz-Dzahabi, air bersifat basah dan dingin. Ia menghilangkan panas dan mempertahankan kelembaban alami tubuh. Ia menyatu dengan makanan dan mempermudah jalan masuknya makanan ke pembuluh darah. Makanan baru sempurna bila berpadu dengannya. Oleh karena itu, setelah minum air putih, berbuka puasa dapat dilanjutkan dengan mengkonsumsi makanan lainnya.

Al-Hafiz Adz-Dzahabi juga menyampaikan anjuran untuk menghindari air yang sangat dingin. Dalam kitab Thibbun Nabawi, tertulis keterangan sebagai berikut:

“Sungguh, Anda mesti menghindari air yang sangat dingin sebab ia merusak gigi, berbahaya dan mengakibatkan keparauan serta batuk.” (Adz-Dzahabi, 1990: 188).

Ada beberapa anjuran ketika minum air sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Beberapa kesunnahan dirangkum oleh  Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad As-Sayyid dalam bukunya yang berjudul at-Taghdziyah an-Nabawiyah al-Ghadza bayna ad-Da`i wad Dawa. Buku ini diterjemahkan ke dalam Edisi Indonesia dengan judul Pola Makan Rasulullah Makanan Sehat Berkualitas Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah. Beberapa anjuran saat minum air adalah sebagai berikut:
 

  • Hendaklah menghindari minuman yang terlalu dingin, karena bisa mengganggu alat-alat pernapasan,

 

  • Minum air dengan menempelkan bibir ke gelas atau menyesap, dengan bernapas di luar gelas, serta tidak minum dengan cara meneggak. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah biasa bersiwak melebar dan minum dengan cara menyesap,

 

  • Minum dengan tiga kali teguk, sambil bernapas di antara ketiga tegukan tersebut di luar tempat minum dan bukan di dalamnya. Diriwayatkan dari sahabat Anas bahwa Rasulullah SAW bernapas tiga kali saat minum. Beliau bersabda, sungguh ini lebih mengenyangkan, menyembuhkan, dan menyegarkan.

Prof. Dr. Abdul Basith menjelaskan tentang minum tiga kali teguk pada hadits di atas. Yang dimaksud bernapas di dalam hadits di atas adalah minum yang diselingi dengan tiga kali napas, dengan melepaskan mulut dari wadah minum.

Adapun larangan Nabi tentang bernapas di tempat minum, maka yang dimaksud adalah minum sambil bernapas di tempat minum. Sebab, bisa jadi akan ada percikan ludah yang keluar dan mengenai minuman tersebut. Dan minuman itu bisa menjadi basi jika hal itu terjadi berulang-ulang. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara napas Beliau saat minum dan larangan Beliau untuk bernapas.

Adapun bernapas itu sendiri bermanfaat untuk memasukkan udara ke tenggorokan dan paru-paru. Oleh karena itu, jika seseorang bernapas bersamaan dengan saat minum, maka akan ada bagian dari air yang terdorong ke saluran pernapasan. Hal ini bisa menyebabkan tersedak.

Adapun jika seseorang minum lalu berhenti sejenak dan bernapas di antara tiga tegukan, maka dia akan aman dari hal tersebut. Mengenai tiga kali napas, dijelaskan bahwa karena tidak ada kebutuhan bernapas lebih dari itu. (Muhammad as-Sayyid, 2006: 94-97).

Apabila tuntunan untuk minum sesuai dengan sunnah Rasulullah itu diterapkan, maka ada tiga  manfaat yang dijanjikan. Rasulullah menyebutkan bahwa hal itu akan lebih mengenyangkan, menyembuhkan dan menyegarkan.
 
Adapun yang dimaksud lebih mengenyangkan, yakni lebih mengenyangkan daripada ketika minum sekaligus banyak. Lebih menyembuhkan maksudnya dengan minum tiga kali dengan selingan itu lebih bisa menyembuhkan penyakit yang diderita. Pernyataan lebih menyegarkan maksudnya adalah lebih meringankan.

Orang yang berbuka puasa dengan air putih memerlukan beberapa manfaat tersebut. Apabila dia hanya memiliki air tanpa ada makanan lain, maka dia perlu agar dengan minum air putih itu sudah bisa mengenyangkan. Manfaat tambahan lainnya adalah menyembuhkan penyakit sebagaimana yang telah diuraikan di atas dan menyegarkan tenggorokan yang kering setelah seharian berpuasa. 

Akhlak yang terpuji ketika minum air selayaknya juga diterapkan ketika berbuka puasa. Minum sambil duduk dengan tenang dan meminum dari gelas, bukan langsung dari mulut poci merupakan cerminan perilaku kaum muslimin yang mulia.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka aktivitas minum air pada saat berbuka puasa memiliki kemanfaatan yang banyak. Apalagi bila diiringi dengan kesunnahan yang mengiringi aktivitas minum air tersebut. Air putih yang sederhana untuk berbuka puasa dapat berbuah kesehatan dan pahala yang banyak bagi kaum muslimin yang meminumnya.

Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti di bidang farmasi.

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.